Fragmen di Cikini
Seperti halnya kamu, bagiku, Cikini adalah kota tempat semua hal yang tua dan berdebu berkumpul menjadi satu — menarik asal kau tahu.
Dalam bayanganku, setiap kali di Cikini, Jakarta dibawa kembali ke masa lalu ketika semua hal masih sangat lengang dan leluasa. Jakarta sekarang sumpek, ruwet — kau tahu itu.

Kedai Tjikini ada di Jalan Cikini Raya. Menempati kavling nomor 17. Makanya kerap pula disebut Tjikini 17. Letaknya tak jauh dari Kantor Pos Cikini. Kamu bisa jalan kaki ke sana melewati sederetan kedai-kedai kopi lainnya; Workroom, Kedai Dua Nyonya, dan sebagainya. Di sepanjang jalan kamu akan banyak melihat papan-papan kayu bertuliskan aneka promosi dan tawaran menu spesial dari setiap kedai yang rata-rata berinterior serupa; klasik — khas sekali pada arsitektur pada masa kolonial.
Jika tak biasa mencoba hal-hal baru, di seberang jalan persis ada Menteng Huis. Di sana berjejer kedai-kedai kopi dan makanan yang lebih familiar dengan kita semua kurasa. Ada Starbucks, Hanamasa, D’Cost, dan lain-lain.
Aku memilih Kedai Tjikini. Bukan hanya karena sajian menu dan interiornya yang paling unik. Lebih dari itu, sebenarnya aku menunggu sesuatu.
Aku duduk menghadap jendela kaca yang lebar. Dari dalam, aku bisa menyaksikan lalu-lalang orang. Kuamati satu-persatu wajah itu —kalau-kalau aku tahu.
Kamu di mana kekasih? Rupa tiada. Suara sayup. Hanya kata-kata yang memecah rindu.
Kau tahu? Lari, tak pernah semelelahkan ini sebelumnya.
