Fragmen Jakarta yang Kesekian

Ervina Lutfi
Aug 28, 2017 · 1 min read

Kedai kopi, atmosfer Jakarta yang suntuk, dan secangkir Americano. Rasanya kombinasi itu sudah lama aku hindari karena berbagai alasan. Kopi tidak sehat. Kopi tidak baik untuk lambung. Kopi nggak baik untuk teman begadang — ganti dengan air putih saja, dll. dll.

Kau tahu? Seseorang sedang menyiapkan jebakan yang sangat erat untuk dirinya sendiri. Seseorang sedang menggali lubang kuburnya sendiri — entah dengan kedalaman seberapa. Tapi apakah ia akan terkubur selamanya atau hanya terseok untuk lalu bangun lagi, ia pasti akan jatuh. Dan kurasa ia bodoh.

***

Sudah tiga hari aku kurang tidur. Semalam bahkan bisa dibilang aku nggak tidur. Aku nggak sendiri. Di sekelilingku, ada banyak orang yang juga sama-sama diperas seluruh tenaga, mental, dan fisiknya. Kami kelelahan dan kami mulai menertawakan diri-sendiri dan mereka semua yang kami anggap bodoh.

Lalu apa yang lebih menyenangkan dari kedai kopi, atmosfer Jakarta yang suntuk, dan secangkir Americano?

***

Let’s face it together. I believe in you guys.

)

Ervina Lutfi

Written by

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade