Menemui Aroma

Sampai sekarang aku masih kerap bertanya-tanya mengapa manusia memiliki keinginan-keinginan tidak penting, tidak masuk akal, dan tidak beralasan, yang seolah menjadi kebutuhan. Seperti misalnya saja keinginan untuk bertemu seseorang.

Mengapa seseorang ingin bertemu orang lainnya — tanpa suatu maksud yang jelas? Bisakah ini dijelaskan dengan hanya “aku ingin melihat raut wajahmu, melihat senyummu, dsb.”

Kita tentu paham kita hidup di era teknologi di mana orang di seberang lautan bisa kita temui dengan mudah menggunakan bantuan Real-Time Communication (RTC) Technology. Kita mengenal cara saling berkirim foto, video, bahkan yang paling sederhana, telepon. Kita bisa mentransfer pesan dalam bentuk audio-visual kapan saja — tanpa harus bertemu, lalu mengapa orang masih ingin menemui orang lain?


Satu-satunya yang masuk akal bagiku hanya karena tanpa bertemu seseorang tidak dapat mencium aroma. Sebab itu, sebagaimana mereka yang ingin juga diingat dan dirindukan, setiap orang seharusnya memiliki aroma. Aroma yang membuat orang lain hanya akan menciumnya jika jaraknya berdekatan. Yang meski sudah bosan dilihatnya segala wajah, senyum, mimik muka, tetap tak akan ditemui hal itu tanpa bertemu.

Bagaimana aromamu? Sudahkah kamu merasa aroma itu cukup mendeskripsikan dirimu — sehingga pantas orang rindu aroma itu sebagaimana ia merindukan wangi tubuhmu, misalnya? Atau jangan-jangan kamu sendiri tidak tahu? Hm jangan sampai.

Sebab jika begitu, aku rasa tak akan ada orang yang sudi menemuimu — bahkan untuk sekadar minum teh atau bercerita hal-hal lucu.