Pertanyaan-pertanyaan Tidak Praktis

Aku tidak begitu suka pada bagaimana ia mempertanyakannya.

“Kita memang paling pandai menghancurkan hati sendiri, dengan hal-hal yang tidak kita miliki.” — tulisan seseorang di Medium aku lupa siapa.

Seseorang berkata padaku sebaiknya:

  1. Aku bersyukur
  2. Jangan melimpahkan kesalahan pada orang yang tidak paham dosa-dosa masa lalumu
  3. Belajar mempercayai orang

Begitulah. Ada tiga hal besar yang menjadi topik perbincangan kami belakangan ini. Pernah suatu ketika sepulang menghabiskan akhir pekan di Kebun Raya Bogor, sembari mengantre tiket KRL untuk pulang ke Jakarta, menikmati bakso di pinggir Jalan Raya Tebet, di taksi menuju rumah, di ITC Kuningan — ya, kami suka berburu baju murah di sana meskipun sebagian orang mengamini tempat nongkrong favorit kami adalah PIM dan Kokas, setidaknya begitu orang-orang menilai kami.

“Kamu harus bersyukur,” katanya.

“Atas apa?”

“Kamu beruntung.”

“Everyone said so. But I have my own perspective. I mean.. terlalu banyak hal yang masih nggak kuterima.”

“You mean..”

“You know me. Aku bukan orang yang kayak gitu. Sesekali mungkin iya, tapi ini bukan soal itu.” Mataku menatapnya lurus. “Ini soal perspektif, dan juga pola-pikir. Bukan soal itu.”

“Maksudnya?”

“Aku lebih khawatir pada bagaimana kamu berpikir terhadap seseorang, ketimbang kamu menikmati waktu dengan orang itu.”

“Aku nggak paham.”

“Begini, mungkin aku posesif. Tapi percayalah aku nggak akan membatasi sejauh mana kamu boleh berteman atau meluaskan jaringan. Aku lebih khawatir kamu punya imajinasi-imajinasi tertentu tentang seseorang atau sesuatu yang karena kamu tidak mampu mencapainya, lantas kamu proyeksikan cara berpikirmu itu untuk menilaiku, seolah aku adalah versi lain yang lebih 'real' dari semua imajinasimu tentang seseorang, yang aku tidak tahu itu siapa, mengapa kamu memikirkannya, dan bagaimana kamu menilainya.”

“Umm itu ribet.”

“Sorry, memang tidak praktis.”

Pembicaraan kami terhenti. Hujannya turun deras sekali di Tebet sore itu.


Belakangan terlalu banyak yang tidak kupahami sebagai bagian dari perjalanan yang kumulai sendiri. Terlalu banyak kecemasan, rasa tidak percaya, dan — tentu saja — bayang-bayang waktu-waktu terdahulu yang masih menghantui masing-masing dari kita hingga saat ini.

Segala pertanyaan tidak praktis telah kukeluarkan dari kepalaku. Aku mungkin mau bebas. Atau bahkan menyandarkan diri — tapi pada apa?

di balik keraguanmu yang tak perlu kau hiraukan

Ah ya, bagaimana orang bisa mengetahui isi pikiran masing-masing orang lainnya?

Darimana kepercayaan diperoleh?

Darimana rasa aman didapatkan?

Bagaimana caranya bersabar.. dan menerima kebohongan — dengan baik-baik saja?