Sore di Alexandria

Aku menemukanmu pada suatu sore di tepi Laut Mediterania.

Di Bibliotheca Alexandrina aku duduk memandangi raut wajah seriusmu menekuni satu persatu kalimat dalam sebuah buku tua — sesuatu yang selalu membuatmu terlihat menarik entah kenapa. Manusia yang tidak hilang dimakan zaman, barangkali itu yang paling cocok.

Kamu sangat tua, diam, dan misterius.
Asal kau tahu, sebelumnya, Mesir dalam bayanganku, selalu saja tentang sesuatu yang tua, kuno, dan membosankan — seperti masa lalu. Tak pernah aku mengira udara akan sesejuk ini di benua dengan gurun-gurunnya yang gersang.

Sampai suatu sore aku tiba di Alexandria.

Aku menemukanmu ada di sana.


Padaku, kamu kerap menceritakan kisah-kisah dari masa lalu. Tentang Montanzah Palace yang dibangun pertama kali oleh Kalifah Abbas II di tahun 1892. Tentang Istana Al Haramlik bergaya Florentine dan Turki yang dibangun pada tahun 1932 oleh Raja Fuad I.

Kelak pada akhirnya, aku tak pernah sedikit pun membayangkan akan kaubuatkan istana dengan dua menara yang menghadap Laut Mediterania seperti ini.

Bagiku sore di Alexandria sudah cukup. Asal dengan kamu, aku mau.

Ah ya, Mesir tidak pernah seindah ini sampai aku tiba di Alexandria.