Tentang Bekerja yang Harus Diketahui Sebelum Usia 25 Tahun
“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” — Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca.

Beberapa waktu lalu, aku baru saja melakukan 1-on-1 meeting dengan salah satu co-founder yang juga atasanku di kantor. Seorang yang beberapa waktu lalu menyaksikan bocah cupu dengan bahasa Inggris pas-pasan melakukan sesi interview bahkan sebelum mandi dan berpakaian rapi — exactly gue baru bangun waktu itu. HAHAHA.
Selama bekerja di sini, aku punya meeting rutin setiap tiga bulan sekali dengan sebuah pertanyaan yang sama: what’s your plan?
Tadinya, aku sempet heran, mengapa seperti ini?
Di tiga bulan pertamaku, founder bahkan menanyakan apakah aku punya pacar atau enggak. He assumed kalau aku punya pacar, ada kemungkinan aku akan menikah dalam waktu dekat, dan mungkin jika rencanaku demikian, hal tersebut akan memengaruhi rencana dia di kantor untukku.
Semenjak di tiga bulan pertamaku itu, jawabanku tidak banyak berubah, even sampai di 1-on-1 terakhir kemarin, aku tetap mengatakan padanya bahwa planku, setidaknya sampai umur 25 tahun, kurang lebih akan sama seperti yang pernah kuceritakan semenjak awal aku bergabung dengan timnya — ini sedikit rahasia jadi nggak kusebutin di sini.
“Well, it’s good. I hope we can support your plan as well,” katanya merespons.
Pertanyaan kedua yang kemudian selalu kudapatkan adalah apakah aku akan stay di sini atau enggak. Untuk ini, makin ke sini, jawabanku semakin diplomatis.
Namun, terlepas dari jawabanku yang semakin diplomatis, padanya kukatakan secara jujur bahwa aku senang bergabung sebagai timnya dan bekerja bersama untuk mencapai goal perusahaan. Mengapa? Karena perusahaan tempatku bekerja ini adalah salah satu environment paling ideal buat orang-orang sepertiku menghadapi quarter life crisis.
Dalam pekerjaanku sekarang, aku belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan akan kulakukan pada pekerjaanku sebagai seorang marketer atau business development. Aku punya kolega yang pintar dan dikelilingi orang-orang yang suka belajar. Aku bekerja dengan gaya setengah Singaporean dan setengah Jakartan, punya job desc yang memaksaku belajar banyak hal secara cepat, bekerja secara logis, penuh perhitungan, terukur, dan yang terpenting adalah aku bekerja pada orang yang tepat — founders itu sendiri.
Kata orang, pada pekerjaan pertamamu, pilihlah dengan siapa kamu akan bekerja, bukan pada pekerjaan itu.
Bekerja dengan orang yang tepat akan membawamu pada pola-pikir yang juga tepat. Syukur-syukur orang-orang itu membagi hal-hal menguntungkan untukmu ke depannya: network dan segudang opportunity yang mahal.
Buatku, boss di kantor sekarang adalah gambaran dari “director” yang sebenar-benarnya. Tidak hanya menjadi mentor dalam hal bisnis dan hal-hal profesional, mereka juga membentuk pola pikirku secara personal.
I like the idea of 1-on-1 meeting di mana dalam setiap meeting tersebut aku kerap ditanya perihal plan. Yap, founder adalah orang yang mengajarkanku untuk selalu menjadi orang yang punya tujuan yang jelas.
Beyond dari urusan pekerjaan, mereka adalah orang yang selalu mengajarkan aku untuk punya tujuan dalam hidup.
Bagiku, environment seperti inilah yang akhirnya paling kubutuhkan, karena ini akan sangat-sangat menentukan career life dan kualitasku secara personal dalam tahun-tahun ke depan. Paling tidak, menurutku ini adalah environment yang paling ideal untuk menghadapi quarter life crisis. Erikson mengatakan, orang yang gagal dalam crisis ini akan lebih sulit untuk berkembang dengan optimal ke depannya, atau lebih buruk lagi, dia akan terjebak pada fase yang semestinya sudah dilaluinya ketika dia beranjak dari usia 25 tahun dan seterusnya.
Bekerja dengan environment yang tepat membentukku menjadi orang yang “jelas” dalam hidupnya. Dari segi profesional, berada di environment yang tepat akan menuntun kita untuk bekerja secara efektif dan terukur, serta membentuk pola-pikir yang mampu mengoptimalkan otaknya secara logis dan berpikir strategis akan suatu hal yang kompleks.
Bagaimanapun aku selalu bersykur telah diberikan Tuhan akal dan otak yang mampu bekerja secara sehat. Jadi sebagai bentuk rasa syukurku, aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menggunakannya dengan baik.
Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa aku menyukai hal-hal yang sekarang kudapatkan sebagai bagian dari pekerjaan. Aku menyukai “bekerja” sebagai bentuk apresiasiku terhadap diri sendiri. Jadi padanya kubilang, “So before I am 25, the objective is already clear. I wanna learn and keep growing in term of personal and professional skills. Kalau udah lewat 25 baru mikir hal-hal lain, maybe I will pursue my master degree, akan jadi profesional yang sangat expertise di suatu bidang.. atau yaa maybe I will consider about married.”
