Menyelesaikan Kambing dan Hujan
Satu hal yang biasa saya, dan tentu saja banyak orang lainnya, lakukan sebelum Idul Adha tiba adalah melihat kumpulan kambing sebelum mereka menemui tukang jagal di kemudian hari.

Berlama-lama menonton dan sesekali memberi rumput kepada kambing adalah hal langka dan menyenangkan, terutama bagi saya yang sejak lahir memang jauh dari kehidupan ternak, kehidupan di (pinggiran) kota memaksa kita untuk lebih banyak bertemu asap kendaraan ketimbang bau kotoran kambing.
Jelas, momen-momen itu tidak bisa saya lewatkan begitu saja. Bahkan ketika momen itu sudah terlewat, alias shalat Idul Adha sudah ditunaikan dan beberapa hewan kurban telah menemui tukang jagal, saya tetap senang, bukan karena saya menyukai film-film psikopat dengan banyak darah tumpah dan potongan daging bisa tersalurkan melalui kambing, tetapi ada beberapa momen yang tidak bisa dilewatkan saat pemotongan hewan kurban berlangsung.
Banyak hal-hal yang saya kira patut dikenang seperti misalnya dulu saya pernah melihat kambing yang sudah dipotong dan mengeluarkan darah dan sudah tumbang tiba-tiba bangun dan berlari tak keruan, sontak membuat banyak orang kaget dan menghindar. Saya yang melihat kejadian itu masih ingat sampai sekarang dan entah kapan.
Ya, membekas dan teringat sampai sekarang.
Seperti itulah juga rasanya ketika saya menyelesaikan novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan yang menjadi pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.
Novel ini memang sudah menarik perhatian saya sejak dari sampulnya, tidak terlalu bagus tapi menurut saya tetap unik, pada 2015 dan sayangnya tiba-tiba sampul buku itu menghilang di toko buku yang terdekat dari rumah ketika di 2015 akhir saya ingin membelinya. Barulah pada sekitar bulan Maret 2016 saya berjumpa dengan buku ini di toko buku yang agak jauh dari rumah. Namun, novel ini juga tak saya baca karena urusan-urusan duniawi yang membuat saya agak malas bahkan untuk merobek sampul plastiknya.
Di hari raya umat Islam yang lain: Idul Fitri, baru saya menemui kambing yang berbentuk novel ini. Kambing dan Hujan, menurut sinopsis di belakang bukunya menceritakan tentang hubungan dua orang yang terkendala perbedaan latar belakang agama, sepintas terlihat klise, tetapi ketika lebih membacanya dengan seksama perbedaan latar belakang agama itu tentang: Islam tradisional dan Islam modern; NU dan Muhammadiyah!
Iseng juga ya, hahaha boleh lah.
Saya tersenyum kecil mendapatinya, di bagian awal-awal juga saya sempat tergelak sedikit karena dialog antara kedua tokoh.
“E-e, bukan muhrim, lho…”
“Boleh, atau tak jadi pulang?”
“Ah, Nahdliyin sukanya mengancam.”
“Kaku. Khas orang pembaharu.”
Rasa-rasanya novel ini akan menyenangkan.
Benar saja, Kambing dan Hujan rasanya cocok bagi saya. Saya sempat mengenyam pendidikan di Muhammadiyah selama… err.. 12 tahun, alias Sekolah Dasar sampai Menengah Atas saya jalani di sana. Beberapa, izinkanlah saya seperti Fauzia yang sering menyisipkan bahasa Inggris di pembicarannya, katakanlah jokes di novel ini benar-benar relateable dengan saya dan tentu juga anda yang berada di dua lingkungan itu, jokes-jokesnya sungguh menyenangkan, tanpa berusaha merendahkan yang lain dan terasa berimbang.
Dan sense of humour, aduh sepertinya saya tidak bisa berhenti keminggris nih, itu menjadi pemanis cerita lengkap novel ini tentang sejarah, tradisi agama, kehidupan sosial-politik, dan lainnya. Sungguh menyenangkan membacanya, menjelaskan hal-hal seperti sejarah keagamaan melalui penceritaan orang yang terlibat menyusun sejarahnya sendiri menjadi seperti duduk menyimak orang-orang tua bercerita, momen lain yang sudah hilang atau jarang saya rasakan.
Selera humor asyik, cara bercerita yang lancar, dan pembahasan yang sejatinya rumit seperti perbedaan tata cara ritual agama dan tragedi 1965 (udah banyak sih yang bahas tema ini, banyak banget malah kayaknya. Tetapi Kambing & Hujan menurut saya berhasil, berhasil apa?) berhasil mengemasnya secara ringan tanpa kehilangan esensinya (gak cuma menjadikannya stiker di kaca mobil belaka). Membuat saya tentu saja sepakat dengan Buya Syafii Maarif di sampul depan novel ini; novel yang menarik dan mengalir, enak dibaca.