Mundur?
Kita tak akan pernah tahu…
Kapan, dimana, dengan siapa dan oleh cara apa, hati kita akan dilabuhkan.
Seperti, kita tak akan pernah tahu. Rasa yang awalnya begitu manis, berubah membuat hati teriris.
Aku tidak mengerti atas perasaanku sendiri.
Aku yang tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini agar dia mengetahuinya.
Aku lemah dalam berjuang.
Kamu,
Tenang saja. Kamu tidak akan kehilangan perhatianku. Hanya saja, aku akan membungkusnya lebih rapi lagi.
Jangan kembali, jangan tanyakan perasaanku lagi. Jawabannya akan tetap sama.
Aku hanya mundur untuk menciptakan jarak.
Bukankah kalimat menjadi mudah untuk dibaca karena adanya jarak dalam setiap kata-kata yang menyusunnya?
Entah, tulisan ini akan ku lanjutkan dengan episode yang lebih baik atau buruk.
Entah akan ku lanjutkan,
Entah justru akan memukulku mundur lebih jauh lagi.
Terima kasih telah mengajarkanku banyak arti.
Terima kasih selalu membuatku yakin.. lalu ragu kembali.
22:13.
