Air Mata Itu Bernama Hujan

Azinudin Achzab
Feb 23, 2017 · 3 min read

Chapter 0 : Aku dan Diriku

source : gettyimages
(Play for more feeling)

Menangis —

Tak terasa lembab sudah sebagian wajahku di wilayah pipi hingga mulut,

Hidup ini Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.”

Kutipan kata-kata dari eyang Pram terus terngiang di bagian otakku yang paling dalam, dan malam ini aku baru saja menyadari bahwa hidup tak ada harganya. Sesuatu yang selalu kita kejar maknanya, kemewahannya, kehormatannya dan segala kenikmatan di dalamnya akan hilang meninggalkan kita beserta orang-orang yang kita sayangi kala masa itu tiba. Masa dimana tanah dan langit tak lagi dijumpa, masa dimana cinta hanyalah sekedar kata, masa dimana nama kita hanya kenangan belaka. Kematian, tujuan akhir dari kehidupan manusia.

Aku masih belum melakukan apa-apa, harta ini masih sedikit untuk membeli real estate, jabatan ini masih rendah untuk memegang kendali saham, raga ini masih lemah untuk menaklukan dunia. Tapi dunia tidak bekerja seperti itu, kematian datang di waktu dan tempat yang unik tanpa melihat harta, jabatan dan kesehatan. Ia datang di kala harta terasa ada, jabatan terasa bangga dan raga terasa bertenaga, aku membencinya namun beginilah cara dunia bekerja. Kematian, tujuan akhir yang tak bisa diduga.

Menangis —

Langit kembali menangis, awan kelabu itu seakan tak setuju dengan pendapatku, ia ingin aku menerima tujuan akhir ini dengan hati yang lapang bukan dengan tangisan pilu. Masih teringat betapa bodohnya aku yang percaya bahwa hujan adalah air mata orang wafat, setiap hujan datang aku langsung murung dan merasa kasihan, dalam kematian pun mereka masih menangis. Aku selalu berpikir apakah ketika aku bergabung dengan para pendahulu itu masih ada orang yang mengingatku melalui pesan air mataku yang dikirim lewat hujan?.

Masih teringat juga ketika aku mulai larut dalam khayalan bodoh itu ayah langsung menyela dengan bentakan “Woi bloon, jangan kebanyakan bengong mumpung masih siang cari lagi sampah yang bisa dijual”, Aku hanya mengangguk dan kembali memulung sampah. Ayah yang selalu membuyarkan khayalan ku tentang hujan itu sekarang sudah bergabung dengan para leluhur dan tengah menangis saat ini. Tangisan yang biasanya hanya sebuah isakan itu menjadi cengeng malam ini, jarang sekali terjadi hujan lebat di musim kemarau, apakah ini sebuah pertanda? entahlah, jikalau memang sebuah pertanda semoga ini pertanda baik.

Menangis —

Dia hanya menangis, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Yang kuharapkan dia menghinaku, mencaciku, mengutukku namun suara yang tercipta dari ponselku hanya tangisannya, “Tolong jangan nangis, ngomong apa kek, bego-begoin aku kaya biasanya gitu”, aku berusaha tegar dan memintanya untuk turut membantuku agar tetap tegar. 30 menit lebih kami terhubung melalui teknologi panggilan ponsel namun yang kudengarkan hanya tangisan, tangisan dan tangisannya, tiap kali ia tersedak dan mencoba menarik nafas untuk melanjutkan tangisannya aku memintanya untuk berhenti menangis dan memahami cara dunia bekerja. “Pulsaku abis aku tutup ya telponnya, kalo udah reda aku langsung pulang naik taksi”, aku mengakhiri komunikasi miris ini karena aku tak kuasa membayangkan bibir manisnya menjadi lebam karena menangis terlalu lama, pulsa habis hanyalah alasan. Pada akhirnya aku pun berbohong pada wanita, sifat lelaki itu muncul secara alamiah, dasar lelaki payah.

Malam ini dingin, alasan mengapa aku tak membawa jaket apalagi payung adalah karena memang harusnya tangisan orang wafat ini tak datang di musim kemarau. Dinginnya malam ini sama dengan dinginnya hari itu, hari dimana ayah pergi, hari dimana ayah bergabung dengan orkes tangisan langit. Siang itu berbeda, hari sangat dingin karena langit yg harusnya riang malah menunjukan raut kusamnya seakan bersedih. Segilintir kata sepele dari mulut pemulung itu diucapkan layaknya sarjana yang tau cara dunia bekerja “Hidup itu kaya kutukan, mau suka atau nggak lahir ganteng lahir jelek lahir miskin lahir kaya ujungnya jelas, jadi bangke elu”, aku yang tak mengerti maksud kata-kata tersebut dengan polosnya melempar pertanyaan “katanya kalo mati ke langit ketemu Tuhan yah?”

Jawabannya sederhana, bualan yang sering dikatakan orangtua pada anaknya namun memiliki magis yang membuat anak percaya dan mengingatnya dalam jangka waktu panjang. “Ya abis jd bangke ketemu sama Tuhan di langit tapi nangis tiap hari gara-gara kebanyakan dosa, tau ga elu? air mata orang mati itu namanya hujan”, Aku hanya menunduk, percaya bahwa di siang itu ribuan orang yg sudah wafat menangisi perbuatannya saat hidup, membanjiri kota ini dgn isakan air mata. Pada saat itu aku percaya air mata itu bernama hujan.

Hujan, izinkan aku bercerita sebelum tangisan ku bergabung denganmu —

Azinudin Achzab

Written by

Jr. Backend Developer for Eannovate, more about me: fb.com/udinachzab, instagram.com/udinachzab

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade