Menikah seperti Membeli Kucing dalam Karung

Nunggal Sera
Sep 3, 2018 · 3 min read

“Bukannya pada dasarnya kita menikah itu kayak beli kucing dalam karung?”

Berangkat dari pertanyaan ini, orang tuaku mungkin mikir betapa rombeng pikiran/mulut anaknya sampe bisa ngomong gitu ke orang tua meski cuma via WA.

Sebetulnya, ini adalah concernku yang udah bertengger cukup lama; bahwa menikah seperti dengan sukarela bergabung di sebuah kamar gelap tanpa penerangan. Kita nggak tahu di sana ada apa, siapa yang sebenarnya terlibat, dan akan jadi apa selama berada di dalam sana. Pesta ini berlangsung seumur hidup, bagi yang beruntung, dan kurang lebih jadi menempatkan pernikahan setara dengan banyak pertaruhan yang sering kita temui di meja judi.

Ada banyak kasus, bahkan yang dituturkan oleh pasangan yang kenal cukup lama, bahwa orang yang ia nikahi tidak seperti bayangannya, tidak seperti yang selama ini ia kenal, atau malah punya personaliti terselubung yang tidak terungkap dan/atau ditunjukkan selama ini. Tidak menakut-nakuti, tetapi kasus semacam ini nggak cuma muncul sekali. Aku akan terdengar seperti seorang cynic, si pesimis yang mikir kalo nikah itu cuma perjudian sia-sia belaka dengan statistik merugikan. Untuk seorang non-risk taker kayak aku, sudah barang tentu pernikahan merupakan hal yang nggak akan pernah kusentuh.

Anehnya, aku justru ingin menikah dengan segala resikonya.

Ibu menjawab chatku di atas tadi dengan sebuah tanda tanya. Cuma tanda tanya saja. Mungkin kepalang kesal, tapi enggan memperlihatkan karena beliau terlalu sopan, atau enggan bikin aku yang mudah tersulut ini mikir orang tuanya cuma bisa judging karena memang biasanya begitu.

“Kan kita nggak beneran tahu orang yang kita nikahi aslinya gimana. Banyak kasus yang sudah menikah, nggak taunya orang yang dinikahi berkelakuan berbeda dari yang selama ini dia kenal.”

Sampai sini mungkin orang tuaku berpikir kalau anaknya nggak cuma berpikiran rombeng, pembangkang, tapi juga takut menikah.

Sekali lagi, saya nggak nakut-nakutin karena memang ada jamak kasus seperti itu yang terjadi di kehidupan nyata. Tapi saya memang takut. Saya nggak terbiasa berjudi, sedangkan pernikahan tampak seperti sebuah event judi akbar yang ujungnya nggak ketahuan — entah bikin saya untung, atau buntung di belakang.

Tapi saya tetap ingin menikah.

Ingat, sama seperti berjudi, tetap ada kemungkinan kita bisa menang dalam pertaruhan.

Ya, memang ketika kita menikahi seseorang, kita akan masuk ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa penerangan, tanpa tahu siapa teman kita yang masuk ini. Apa benar dia kawan yang telah lama kita kenal, kekasih sama yang sudah lama menjalin hubungan dengan kita, orang yang dikenalkan kepada kita dengan segala embel-embel kebaikan yang menyertai, atau justru di dalam ruangan gelap itu dia malah berubah jadi orang lain karena nggak ada yang lihat? Bisa jadi dia berubah lebih baik, bisa juga berubah lebih buruk. Yang santo jadi makin santo, yang setan jadi santo, yang setan makin setan, atau yang santo malah berubah jadi setan. Sama seperti berjudi, kita nggak tahu mana yang bakal keluar.

Lantas apa yang bisa kita lakukan dengan segala pertaruhan ini, di mana segala hidup kita menjadi barang gadaian di meja?

Bapak saya menjawab chat WA terakhir saya tadi dengan jawaban standar seorang penyembah taklid: Berdoa, Nak. Cari orang jujur yang memang bisa mengenalkanmu dengan orang baik, sehingga dia tidak menambah-nambahi atau mengurang-ngurangi kebaikan orang tersebut.

Suka atau tidak, saya mengamini jawaban bernada pasrah itu. Nrimo ing pandum memang nggak gampang. Namun, kita tetap bisa melakukan kerja nyata mengikis ketakutan pre-marital dengan berusaha mencari tahu calon kita itu seperti apa, mendekati keluarganya, bertanya kepada teman-temannya, dan, ya, itu tadi, mencari orang jujur yang nggak bakal mengurangi atau melebihkan kebaikan orang tersebut.

Pada akhirnya, saya toh juga percaya kalau orang baik pasti akan dijodohkan dengan orang baik pula. Selama apapun waktu yang dibutuhkan untuk bisa bertemu, kalau kata Chuck Bass, if two people are meant to be together, eventually they’ll find their way back. Tuhan akan memberikan kita jodoh sesuai dengan akhlak kita. Bila tidak menyamai akhlak kita saat ini, barangkali nanti, seiring waktu mereka akan membawa diri ke dalam kebaikan. Atau justru membawa kita ke dalam kebaikan.

Nunggal Sera

Written by

suka kebanyakan mikir, suka nulis suka-suka, tapi belum suka kamu