Di taman sunyi tanpa nama, tiba-tiba hasut segalamu menjamuku.
Merebah kepala, lalu kudapati rindu bergelantungan dikaki-kaki langit, membentuk segugus paras yang tak asing terlihat.
Sepi merambah bayangmu, bersandar sendiri pada kenangan yang telak telah menggugat rinduku.
Karena pengkalimatan ini hanya perantara, biar rasa itu mencari pemiliknya sendiri, sampai ia mencapai titik jenuh pada puncaknya, panas, mendidih, lalu menguap bersanding angin tanpa ada kegelisahan lagi. -As