
Larik-larik senyumanmu selalu menjadi pemula dari setiap rindu yang mendera.
Merajalela ia dibatas angkuh yang menutup bibirku rapat, seakan enggan tahu tentang ada-mu.
Tetap saja, hati menyapa hampa, tak ada berani untuk mencari sandarannya.
Bertahan dalam diam. Membiarkan rindu itu bertumpuk, sampai akhirnya ia akan sia-sia terendap. -As