Dari Aku yang Merindu

Selamat Pagi,
4 September 2018.
Aku harap hari ini indah buatmu.
Sekalipun perempatan Pasca Sarjana UGM demikian padat dan penuh sesak, aku yakin kau bisa menyeberang Jalan Kaliurang dengan tegar. Kamu tahu nggak, kalau kamu lewat Bundaran Teknik yang katanya ada kuntilanaknya itu pagi-pagi pukul 7 di hari Rabu, maka aku yakin kita akan bertemu.
Tapi hari ini Selasa. Dan karenanya, aku masih rindu.
Banyak orang benci dengan rindu. Aku pun seharusnya juga tak suka menyimpan rindu. Apalagi rindu, yang tak jelas juntrungannya seperti kepadamu. Tapi rindu satu-satunya cara buatku tetap mengingatmu. Jadi kuputuskan untuk diam-diam merindu. Biar cokelat terang matamu, dan cekung kurus pipimu tetap hidup dalam ingatanku.
Aku harap hari ini indah buatmu.
Ngomong-ngomong, hari ini aku tak ada jadwal kuliah. Tapi mungkin aku tetap akan berangkat. Agar aku tak membusuk, gabut, hal-hal yang paling tak kamu sukai.
Mungkin tak banyak orang yang pernah bilang rindu padamu. Aku pun bukan salah satunya. Aku hanya berani bilang pada layar touchscreen saja, yang selalu diam kalau aku bilang aku sedang merindukanmu. Bagaimana rasanya dirindukan? Aku juga ingin sekali-sekali kamu rindukan. Tapi aku tahu diri. Ada banyak wajah yang lebih berhak singgah di pikiranmu. Tidak apa, asal aku masih boleh merindukanmu, sudah cukup. Lagipula, nanti kau lelah terus-terusan mengingat-ingat wajah orang.
Aku harap hari ini indah buatmu.
Apakah kamu juga sedang sibuk memikirkan magang dan tugas akhir sepertiku? Kalau iya, apakah berarti kita jodoh? Hehe. Bodoh sekali pertanyaannya. Tapi semoga saja, ya.
Tahu tidak, sedari tigapuluh menit yang lalu aku mendengarkan satu lagu yang sama. Lagunya sedih sekali, dinyanyikan oleh penyanyi kondang tahun 2000-an dan dinyanyikan ulang oleh Via Vallen. Tiba-tiba aku teringat malam-malam sebulanan yang lalu, yang kuhabiskan untuk merindukanmu sedekat apapun jarakmu dan aku.
Kalau kata Dilan rindu itu berat, sungguh kau harus tahu dia tidak bohong saat mengatakannya pada Milea. Rindu itu berat sekali. Apalagi merindukanmu yang bahkan tak sadar tengah dirindukan.
Aku harap hari ini indah buatmu.
Sudah pukul tiga dini hari. Sebentar lagi subuh tiba. Apakah aku hadir di mimpimu? Kalau kamu, aku pastikan selalu ada. Oh ya, jangan lupa ibadah subuh. Aku tahu kamu sibuk dan kadang memilih ngantuk ketimbang menunduk ruku’, tapi waktu ibadah adalah satu-satunya kesempatanku bertemu denganmu, dengan perantara arah sujud yang sama.
Sekalipun mungkin kamu tidak mengharapkan yang sama untukku; Aku selalu berharap harimu indah.
Semoga kamu selalu bahagia.
Yogyakarta, ditulis pada 4 September 2018 dan dipublikasikan pada 7 September 2018 karena penulis terlalu males ngedit tulisannya agar nggak cupu-cupu banget.
