Arrival, Project Management & Open Data

Baru aja nonton Arrival dan menyadari ini film hebat banget. Well, in another thought, ada point menarik yang coba saya hubungkan dengan dengan project management (di industri apapun) dan tentang open data. Mau dianggap cocoklogi juga sebenarnya nggak apa sih, cuma analoginya kok kaya pas aja gitu.

1. Arrival & Project Management

Pertama, ingat nggak moment di mana Louise dikejar-kejar untuk buru-buru menerjemahkan heptapod yang ternyata butuh waktu sampai sebulan. Sampai dia bisa punya sebuah aplikasi yang menggabungkan berbagai bentuk bahasa dari Abbott & Costello (well, you know the aliens’ name…). Di waktu-waktu tersebut ingat nggak bagaimana posisi Amerika Serikat ingin tampil sebagai yang paling super untuk mengetahui “What is your purpose here?”. Apalagi ketika gambar salah satu alien bocor, ke publik, ada sebuah urgensi untuk memberitahukan kepada dunia apa pesan yang ingin disampaikan. Mulai dari Menteri Pertahanan, kepala riset, istilahnya semua orang tak sabar mengejar Louise untuk segera menyelesaikan terjemahan tersebut.

Hal ini terjadi karena adanya tekanan politik dan keamanan serta pastinya seorang pemimpin harus melindungi rakyatnya. Tapi 2 hal itu juga terjadi karena para pemimpin ini benar-benar tidak ada ide soal apa makhluk itu. mungkin lebih ke arah takut juga (ingat akalau manusia akan cenderung insecure dan takut dengan hal yang kurang mereka mengerti)

Lalu apa hubungannya dengan project management. Mudah saja dan rasanya ini terjadi di semua industri, ya apalagi anak advertising agency dan developer dengan load kerja tinggi tapi dengan engineer management yang bobrok..apakah itu..?

Ya, mulai dari dikejar-kejar kapan project akan selesai, maunya perfect tapi bahkan have no idea tentang apa yang akan dibangun, apa yang dihadapi dan dikejar karena mungkin desakan investor atau alasan yang kurang manusiawi lainnya (or simply just “client maunya gitu, lo bikin aja, billing nih billing woi..”)

2. Arrival & Open Data

Nah, itu satu. Tapi ada hal lain nih yang kalau kalian perhatikan lagi bisa jadi pelajaran terutama dengan kondisi open data atau minimal ya data secara umum lah di Indonesia.

Baru sore ini saja saya membaca tulisan dari Ramda Yanurzha ini. Apa intinya? Yes! Indonesia itu lack of data, nggak punya data rapih dan nggak semua industri mau membagikan data. Hal yang beberapa waktu lalu sempat menjadi pembahasan di Digital Journalism World Summit 2017. Kenapa jika kita berbicara tentang US dan Eropa, ada banyak data yang mungkin kita sendiri melihatnya bisa sampai melongo. Hampir semua data mungkin ada, bahkan dari tahun-tahun sebelum data dikemas dalam bentuk digital.

Sama halnya dengan film Arrival, awalnya nggak ada kan yang mau membagikan informasi tentang posisi alien itu di negara mereka atau apapunlah informasi yang mereka dapat di negara mereka masing-masing. Tapi ya untung dengan kemampuan Louise yang mampu meluluhkan hati Jendral Shang dengan kalimat “War makes no winners, only widows” akhirnya Cina membuka hati untuk menghentikan serangan dan mau membagikan informasi (diikuti dengan Rusia). Intinya ya, jangan sungkan berbagai, namanya juga udah open data, kalau nggak dibuka, gimana mau transparan? Gimana mau kolaborasi? Tapi sambil diperhatikan validitasnya ya.

Ya, saya pikir ini hanya hal receh saja sih. Apa juga bisa disangkut-sangkutin kan. Kalau nggak ada di industri yang sama dengan saya, mungkin bisa dikaitkan juga ke hal lain. Ingat, menonton film itu bukan masalah jelek atau bagus, tapi bagaimana setelah selesai menontonnya kita punya penafsiran dan pendapat yang berbeda.

Well…atau anggap saja saya sedang terlalu serius:)