Company Culture Jangan Cuma Buat Keren-kerenan Semata

source: Unsplash.com by Tim Marshall

Istilah “company culture” sebetulnya bukan hal yang baru kita dengar belakangan ini. Hanya saja dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan rintisan berbasis teknologi atau yang kadang disebut sebagai perusahaan startup (walaupun ya startup itu ga mesti teknologi juga sih), istilah ini menjadi lebih banyak dikenal orang. Padahal di korporasi besar, istilah ini sudah menjadi hal yang biasa.

Yang menarik perhatian gue sebetulnya adalah bagaimana company culture itu diposisikan dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu perusahaan. Terkadang gue bertanya, apakah memang semua point yang ada dalam company culture itu benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan dan proses kerja di perusahaan tersebut atau hanya menjadi jargon basi (seperti “millenial) yang sudah keseringan dipakai dan akhirnya jadi buat keren-kerenan aja. Bahkan jangan-jangan yang bikin juga nggak ngerti itu maksudnya apa (ini kali-kali aja ya)

Sebelum lebih panjang lagi, mungkin gue mau cerita sedikit tentang company culture yang gue rasa bukan hanya omongan semata dan benar-benar diaplikasikan dalam kegiatan bekerja di suatu perusahaan.

Pada tahun 2014 silam, gue mendapatkan kesempatan yang tidak akan gue lupakan seumur hidup, bekerja di Google, tepatnya di Google Indonesia. Saat itu gue dipercaya untuk menjadi Google+ Community Manager yang kalau diingat-ingat lagi, produk yang satu ini bisa dibilang cukup menyedihkan kondisinya, nggak hanya di Indonesia tapi sepertinya di seluruh dunia. Intinya Google kalau bikin social product, selalu aja kurang bisa pecah dibandingkan para kompetitornya: Facebook dan Instagram. Ok, terlepas dari itu, menurut gue tahun 2014 adalah tahun pembelajaran yang mungkin akan sulit didapatkan lagi di tempat lain. Apa hal tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah company culture. Google tidak menjadikan company culture itu cuma omongan belaka biar keren-kerenan, malah orang-orang di dalamnya menerapkan hal-hal awesome supaya mereka ya jadi keren! 
Di balik kalimat “Don’t do evil” yang menjadi landasan company culture, Google membuat kalimat tersebut merasuk dan tertanam di dalam hati dan pikiran setiap karyawannya.

Always clean your own mess

source: Unsplash.com by Jeff Sheldon

Kebersihan adalah hal paling mendasar yang sulit dilakukan setiap orang. Menariknya Google mampu mempengaruhi semua orang yang sudah masuk ke area kerjanya untuk mengikuti peraturannya. Setiap piring dan sendok serta gelas atau apapun yang dipakai untuk makan, selalu harus langsung dibersihkan dan ditempatkan pada tempat yang telah disediakan. Pada saat itu gue selalu dididik bahwa OB posisinya bukan buat pembantu utama, tapi membantu ketika sangat sangat dibutuhkan saja. Setiap tamu yang makan di cafetaria Google mau tak mau harus mengikuti aturan yang sama. Membawa peralatan makan ke area tertentu, memisahkan sisa makanan dan menaruhnya dengan rapih. Tidak ada yang meninggalkan peralatan makan begitu saja di meja. Ini didikan paling berharga yang gue dapatkan. Dan sampai sekarang gue suka cranky sendiri kalo ada orang yang jorok dan nggak mau peduli dengan ‘peninggalan’nya setelah makan.

Menghargai waktu orang lain

source: Unsplash.com by Ales Krivec

Di Google, kegiatan sekecil apapun, termasuk makan siang, sudah dibiasakan harus terjadwal dengan baik di Google Calendar. Google Calendar sudah menjadi tuhan pengatur jadwal yang bisa kita atur sendiri. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengatur segala sesuatu dengan baik agar tidak merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. Hal-hal seperti telat, jam karet dan lainnya yang biasa terjadi di lingkungan kerja jarang terjadi, ya kecuali kita harus melakukan pertemuan dengan partner eksternal, terkadang telat itu masih tidak bisa dihindari, biasanya dari pihak yang diajak meeting.
Sistem booking ruangan di Google pun sudah terhubung dengan Google Calendar dan kita harus tahu benar seberapa lama ruangan itu akan digunakan, jangan sampai meeting tidak efektif dan efisien sehingga tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menggunakan ruangan tersebut. Ketepatan waktu saat memakai ruangan juga sangat diperhatikan, jika telat dari waktu yang ditentukan, ada kotak kecil untuk memberikan denda Rp 10,000. Alasannya sederhana, pasti ada orang lain yang sebetulnya ingin memakai ruangan itu, tapi karena kita telat, dia jadi terhambat. Didikan menghargai waktu ini membuat gue memiliki prinsip before time, bukan on time.

Nggak rakus, nggak celamitan

source: Unsplash.com by Thomas Schweigofer

Rasanya semua orang tahu kalau di Google, semua snack dan makanan berat diberikan secara gratis 24/7. Dan itu beragam, tinggal pilih. Mulai dari fresh juice (harus bikin sendiri, buahnya aja yang disediakan beserta juicer), snack sehat, minuman bersoda yang ada di kulkas (selalu diisi! nggak pernah kosong), kadang ada wine & beer, you name it. Makan siang prasmanan dengan menu dari seluruh dunia serta snack sore yang kece mulai dari yang manis sampai asin. Menariknya Googlers, bisa dibilang dapat mengkonsumsinya dengan bijak, malah kadang-kadang nggak ada yang makan. Entah karena diet kali ya dan menjaga hidup agar sehat selalu. Terkadang snack itu lebih ditawarkan buat tamu. Nah, biasanya kalau udah ditawarin ke tamu baru keliatan tuh mana yang suka ngambilnya lebih dan enggak hehehe…
Kenapa gue ngomongin ini? Karena gue masih menemukan ada budaya perusahaan yang karyawannya ya gitu, celamitan dan gragas when it comes to free food, kaya perilakukanya ga terjaga dan kaya nggak ada hari esok buat makan lagi, semuanya mau diambil, padahal kadang nggak dimakan juga. Trust me, gue pernah kerja di perusahaan yang dijatah snack harian 2 biji aja masih rakus ada yang ngambil 5. Gue shock dan nggak tahu harus bilang apa. Kalo udah kaya gini gue biasanya cranky sendiri.

Be a problem solver

“Cari tahu sendiri dulu, kalau mentok baru tanya dan minta bantuan. Jangan nggak penting-penting amat nanya mulu. Inisiatif dan berpikir kreatif”

Di Google, segala sesuatunya dipelajari dahulu sendiri, cari masalahnya dan diskusikan dengan yang lain ketika kita butuh jawaban yang lebih tepat atau ketika ingin memvalidasi sebuah asumsi. Semua orang memiliki kesibukan sendiri, semua orang punya goal mereka sendiri, coba belajar menghargai waktu orang tidak hanya dengan hal yang sebetulnya bisa di-googling atau bisa ditemukan dengan mudah di internet. Semua orang diajari untuk menjadi problem solver bukan yang dikit-dikit disuapin sehingga akhirnya jadi ga bisa punya inisiatif sendiri dan sulit jadi kreatif. 
Google tidak punya IT Support yang jalan ke sana kemari untuk dipanggil saat mungkin kamu cuma butuh mouse. Google tidak punya tukang kabel yang mungkin bisa disuruh cuma buat betulin kabel LAN kamu yang nggak kecolok dengan benar tapi udah heboh sendiri. Di Google, untuk hardware atau aksesoris disediakan di sebuah sudut bernama Techstop. Memang ada personil yang akan stay di sana, tapi untuk kantor-kantor di Asia, biasanya dia nggak akan dedicated di sana setiap hari. Dia hanya akan datang sekitar 1 bulan sekali untuk cek asset, cek stok aksesoris seperti keyboard, mouse, kabel penghubung VGA ke Macbook dan semacamnya. Bahkan lemari Techstop dibuka untuk umum supaya setiap saat siapapun bisa mengambil keperluan sendiri. Bebas bertanggungjawab dengan peralatan yang diambil. Hal yang nggak mungkin dilakukan di banyak perusahaan di Indonesia. Sorry sorry aja nih kalo balik ke point “nggak rakus, nggak celamitan” ya kadang ATK aja gragas ngambilnya, gimana dengan aksesoris komputer (bahkan kadang ada laptop yang ditaruh di sana)
Jika butuh bantuan, IT Support di Google bisa dijangkau dengan chatting, kita harus mengisi sebuah tiket agar nantinya dapat dibantu oleh tim terkait. Itu pun kita cukup mengikuti instruksinya dari layar saja, semua peralatan kerja bisa dikendalikan secara remote, bahkan langsung dari Mountain View, California, US. Install software pun nggak akan bisa sembarangan, semua harus menunggu tim Support mengirimnya ke perangkat kerja kita dan akan terpasang secara otomatis.
Jadi nggak ada yang namanya anak bandel yang seenak jidat masukin program-program pake crack code cuma buat keperluan pribadi. Semuanya terkontrol dengan baik. Intinya menjadi problem solver baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan belajar mandiri.

Kolaborasi bukan sendiri-sendiri

source: Unsplash.com by Olga Gurynanova

Didikan penggunaan Google Drive dalam kehidupan bekerja membuat gue memiliki pola pikir yang lebih luas dan berbeda. Sebelum di Google, gue hidup dengan Outlook dan Microsoft Office. Gilak! Pain in the ass banget dan berasa lega setelah kerja pakai Google Drive. Kolaborasi lebih mudah, semuanya dapat terorganisasi dengan baik dan ga sibuk dikit-dikit kirim attachment. Cara kerja ini juga membuat kita menghemat waktu orang lain. Kerja jadi nggak sendiri tapi kolaborasi di waktu yang bersamaan. Kerja tim di sini bukan hanya jadi istilah cetek dan biasa, tapi benar-benar diaplikasikan dengan baik

Berpikir ringkas tapi jelas

source: Unsplash.com by Joana Kosinska

Di Google, hampir sulit ditemukan orang yang ngomong berbelit-belit pakai pengantar muter-muter entah ke mana padahal ujung-ujungnya ya ke situ-situ lagi. Kebiasaan dulu kerja sebelum Google, karena harus menyesuaikan dengan rekan kerja, ngomong dan cara pikir nggak ringkas, bikin meeting lama ngalor ngidul nggak jelas. Di Google, meeting pun harus sudah punya agenda mau ngomongin apa, setiap kali ada hal yang melenceng, dengan cepat dikembalikan ke jalurnya dan jika butuh penjelasan rinci, akan ada meeting lanjutan di lain waktu atau akan ada notes di project document. Semua orang bergerak cepat dan kita harus bisa keep up dengan kecepatan itu. Harus bisa menjelaskan ide dengan ringkas tapi orang mengerti dan dapat updatenya apa. Cara berbahasa dan menjelaskan juga menjadi sangat berbeda. Kelihatannya terstruktur tapi tetap disampaikan dengan santai

Well, kalau diceritakan lebih banyak lagi sebetulnya ada aja sih. Selama satu tahun di Google, beberapa teman selalu hanya melihat sisi enaknya karena free food dan kantor bagus, it’s beyond that! Gue belajar tentang cara berpikir yang baru dan mengerti mengapa Google menjadi sebuah tech company yang sangat besar. Semua itu tidak dimulai dari company culture saja tapi dari orang-orang yang dengan serius menjalankannya, tidak menjadikannya sebagai teori belaka dan biar keliatan keren aja.

Company culture bukan sekadar quote-quote tokoh dunia yang menempel di tembok. Bukan sekadar sepatah dua patah kata yang ditampilkan di bagian “About Us”. Bukan sekadar cerita sang CEO yang dijual dari conference ke conference. Company Culture adalah cara berpikir. Kalau nggak ngerasuk ke diri sendiri, ujung-ujungnya nggak berguna

Bagaimana dengan kamu?
Menurutmu apa sih company culture itu dan apakah kamu punya cerita menarik tentang company culture yang beneran dan nggak cuma buat keren-kerenan aja
Mention gue di Twitter ya:)