My First Year As a Product Manager

“Apa itu Product Manager?”

Mungkin orang akan mengira bahwa pekerjaan ini selayaknya apa yang dilakukan Brand Manager. Anggap saja produknya adalah sabun mandi cair dengan wangi vanila. Seorang Brand Manager adalah mereka yang harus memikirkan bagaimana nantinya produk ini dapat diterima di pasar. Bagaimana packagingnya, apa formulanya yang dapat diunggulkan, apa pembedanya dengan produk serupa di pasaran, perlu cara kampanye seperti apa agar produk ini diterima lalu dibeli dan digunakan oleh konsumen. Singkat kata, seorang Brand Manager adalah orangtua dari sebuah produk.

Sama halnya dengan Product Manager. Title yang satu ini makin sering terdengar di telinga kita seiring dengan berkembangnya industri tech startup. Coba saja kalian cari kata kunci ‘Product Manager’ di Medium, kalian pasti akan menemukan banyak sekali postingan menarik. Cuma ya…..kadang kalian juga pasti bingung dan bertanya-tanya: “Sebetulnya Product Manager nih kerjanya apa sih? Bikin website? Itu bukannya tugas Engineer dan Developer?”

Saya sendiri masih suka bingung sih kalau ditanya pertanyaan seperti itu. Kalau saya bilang kerjanya manage produk, pasti pertanyaan selanjutnya adalah “Oh, produknya apa dan dijual di mana?”. Kalau saya jawab “Produknya itu produk digital seperti aplikasi mobile, mobile site….ya kaya kamu suka akses Facebook dan Instagram gitu”.

Tidak sedikit yang melanjutkan pertanyaannya dengan “Oh….wah kece banget. Kamu bikin website dong. Programmer gitu ya..ngoding gitu kan?”

Wah, terus terang saja kalau sudah ditodong pertanyaan itu, saya jadi malu sendiri. Memang beberapa Product Manager yang saya tahu ada yang design dan ngoding untuk produknya sendiri. Eits, saya ngiri loh sama mereka yang punya karunia untuk melakukan hal itu secara bersamaan. Sayangnya, kemampuan saya belum sampai ke sana. Tugas yang saya emban sebagai Product Manager memang saat ini baru sebatas mengatur kehidupan sebuah digital product, nggak ngoding sama sekali.

Nah, ini yang menarik dan menjadi pertanyaan orang tentang kemampuan teknis saya. Banyak yang bilang Product Manager itu harus punya background teknis. Ya minimal kamu anak lulusan Fasilkom. Iya sih saya memang anak Fasilkom, gelar saja sudah S.Kom, diberikan sama BINUS University 9 tahun yang lalu. Tapi jurusannya ya bukan Teknik Informatika atau Sistem Informasi. Ah, kalau melihat yang saya kerjakan sekarang, sumpah mati saya menyesal tidak menjadi anak IPA ketika SMA supaya bisa mengambil salah satu dari 2 jurusan tersebut. Serius saya menyesal baru menemukan serunya bisa membangun sesuatu dengan bahasa pemrograman yang dikuasai. Tapi ya buat apa menyesal kan? Nggak penting dan nggak memberikan solusi.

Hanya dengan modal rasa penasaran yang besar tentang membuat produk digital dan gatel untuk ngulik, saya terjun ke dunia Product Development setahun lalu. It was a pain in the ass. Terjun dan bisa dibilang banting setir ke hal yang sangat seksi dan menarik, tapi ini hal yang benar-benar baru untuk saya. Memang sekali lagi keberuntungan ada di pihak saya, saya nggak dilepas begitu saja. VP of Engineering serta teman-teman developer yang sudah senior banyak membantu saya. Bekerja dalam tim kecil itu menyenangkan banget! Saya pun mendorong diri untuk terus belajar dan nggak pernah boleh menyerah. Ada sih beberapa waktu saat saya merasa “Kok gue begooo banget, mau berhenti aja ah, nggak mampu udah. Mau kerja kok main-main hanya karena impian bikin produk digital”. Pemikiran ini terus menghantui saya, walaupun ya hal tersebut nggak menyurutkan semangat saya untuk terus ngulik, belajar dan berusaha menciptakan produk yang akan berguna dan memecahkan masalah para user yang dituju di luar sana.

Bekerja sebagai Product Manager ternyata sangat menyenangkan, apalagi buat manusia-manusia haus update teknologi seperti saya. Hanya melihat button kecil berganti di app favorit saja senangnya minta ampun. Melihat transisi antar laman yang sederhana namun mampu membuat bergidik merupakan hal paling freak yang saya rasakan. Tap pada satu teks ber-hyperlink dan ada efek animasinya membuat saya bahagia habis-habisan. Orang gila? Ya memang. Jadi Product Manager itu justru bukan bisa berpikir out of the box, tapi ya harus ‘gila’!

Lalu ada dramanya nggak?

Oh, jangan sedih dan gundah. Debat dengan developer sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Tapi itu terjadi hanya di awal-awal saja. Justru saya merasa bahwa kesalahan terletak pada diri saya yang tidak mau berusaha mencairkan suasana dengan developer. Makin ke sini saya semakin sadar bahwa keberlangsungan hidup produk kita ya nggak akan bisa jauh dari teman-teman Engineer dan Developer. Alih-alih terus pasang urat dan mempertahankan ego sendiri, saya belajar untuk melunak dan banyak sharing ide dengan tim Dev. Satu hal yang saya pelajari, always treat your engineer team like they are your ultimate saviour. Ini serius. Tim Dev itu adalah orang-orang kreatif super awesome yang mampu membuat konsep dan ide menjadi produk nyata yang dipakai banyak orang.

Setahun menjadi Product Manager memang belum membuat saya belajar banyak hal. Lah, gimana sih…jadi ngapain aja emangnya?

Nah itu. Sikap tidak pernah puas dan always seeking for perfection yang membuat saya selalu merasa ada yang kurang kalau tidak belajar hal baru dalam sehari. Memang katanya sih “better done than perfect” karena ya nggak ada satu produk pas diluncurkan langsung sempurna. Tetap akan ada saat-saat harus berhadapan dengan bug menyebalkan sampai mengakomodir kebutuhan dan masalah user yang semuanya ingin dijawab dengan cepat.

Last but not least, saya mau berbagi hal-hal yang didapatkan selama menjadi Product Manager selama setahun terakhir. Ya, kalau dibandingkan dengan kakak-kakak Product Manager lainnya, apalah saya ini…cupu. Tapi semoga hal ini bisa memberikan informasi lebih bagi mereka yang baru mau terjun berkarir sebagai Product Manager:

  1. Lakukan riset. Ini adalah kalimat kunci. Kamu perlu memvalidasi beberapa hal sebelum mengembangkan sebuah produk.
  2. Dengarkan user. Sebuah kalimat sederhana yang juga membingungkan. Kadang user tidak tahu apa yang mereka mau sampai mereka melihat produknya. Tapi paling tidak jika produk sudah diluncurkan, don’t forget to put your users first.
  3. Jangan pernah terlalu cinta mati dengan suatu desain.
  4. Agamamu adalah DATA ketika menjadi Product Manager. Jangan pernah membuat keputusan hanya karena ada hal yang bertentangan dengan opini personal.
  5. Berdamai dengan tim Engineering akan sangat menyelamatkan hidupmu.
  6. Jangan telan ide dan masukan mentah-mentah. Para user akan memberikan banyak masukan sesuai dengan kebutuhan atau masalah yang mereka alami, tapi sebagai Product Manager, ada beberapa filtering yang harus dilakukan. Kurasi ide, buat detail requirement lalu komunikasikan dengan tim Dev.
  7. Hembuskan nyawa manusia ke dalam produk yang kamu maintain. Maksudnya buat produk itu agar mudah dekat dengan manusia. Jika itu dilakukan, user akan merasakan kenyamanan ketika akses produk tersebut.
  8. Tahu menentukan kapan harus berkata tidak. Pastikan saat berkata “Tidak” atau “Belum prioritas” kepada user, sudah ada materi-materi pendukung yang bisa memperkuat argumenmu.
  9. Sabar dan berempati.
  10. Jangan kasih kendor. Terus berinovasi secara realistis. Rajin ngulik biar lebih inovatif serta selalu penasaran karena hal-hal baru. Mencoba lebih baik daripada terlewatkan begitu saja.

Jadi, tertarik menjadi Product Manager?

Like what you read? Give Eunike K a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.