Siklus Hidup Seorang Karyawan: Ah, Mungkin Cuma Pemikiran Saya

Semua dimulai ketika kamu menemukan sebuah lowongan pekerjaan menarik di LinkedIn. Deskripsi dari pekerjaan itu begitu menggiurkan, penuh dengan jargon kekinian yang biasa kamu dengar di media-media yang membahas tentang kultur perusahaan yang begitu fun dan kreatif. Atau mungkin kamu di-pedekate-in oleh seorang headhunter yang menghubungi kamu dari pagi hingga malam hanya karena dia sedang kejar setoran berhubung perusahaannya masih dalam fase startup jadinya billing ya harus gede lah, kalau kamu diterima di perusahaan tersebut, keuntungan besar menanti untuk perusahaannya. 
Apapun itu, kamu yang sedang galau-galaunya oleh pekerjaan yang kamu tekuni saat itu, mungkin akan tergiur dengan rumput tetangga yang entah kenapa selalu terlihat lebih hijau, ada fasilitas layaknya taman hiburan dan sederet gimmick ala kantor Google lainnya (kan katanya kerja harus dibikin fun, ya nggak?). Atau mungkin kamu sudah bosan menjadi freelancer karena menanti invoice yang nggak cair-cair kurang lebih sama seperti menanti Jonru tidak akan menyebarkan berita HOAX dan berhenti membenci Jokowi, kamu lelah mengatur cash flow bulanan yang makin hari makin berantakan dan mungkin memutuskan persetan dengan kebebasan hidup, gue mau jadi karyawan aja, settle down, jadi orang gajian yang sudah hidup tenang tiap bulan. Atau ya memang kamu sudah menganggur kurang lebih 3 bulan, keluar dari perusahaan sebelumnya karena idealisme terlalu out of this world, kamu merasa don’t belong anywhere lalu menyesal karena menyesakkan hati melihat saldo di bank sudah semakin menipis sementara orang tua mulai bertanya “Kok di rumah terus sih, nggak kerja apa?”

Semua dimulai dari sana atau ya masih banyak deretan alasan yang menyebabkan kamu akhirnya memutuskan untuk membuka LinkedIn, Urban Hire, Job Street atau akhirnya menerima tawaran dari headhunter yang mengejar-ngejarmu sudah lebih gila dari debt collector.

Tak lama sesudahnya, kamu akan menghadiri sebuah wawancara kerja. Jika pekerjaan tersebut memang menjadi incaranmu, kamu akan berusaha keras untuk tampil all out, nggak ada yang ditahan-tahan, kamu akan memberikan semua yang terbaik dari standarmu. Kamu akan terlebih dahulu melakukan riset akan perusahaan tersebut, kamu mau terlihat seakan-akan kamu sudah menjadi bagian dari mereka meskipun kamu, ya elah, diterima aja belum cuy. Kamu akan menggunakan outfit terbaikmu untuk memberikan kesan yang berbeda. Kamu mungkin tidak akan bisa tidur di malam sebelumnya, memikirkan atau bahkan berlatih untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin dilontarkan saat wawancara nanti. Makin berkeringat dingin lagi jika kamu tahu perusahaan tersebut adalah perusahaan multinasional dan kamu akan bertemu dengan interviewer yang hanya bisa berbahasa Inggris, lalu kemampuan bahasa Inggris kamu bisa dibilang pas-pasan, mungkin kamu akan membuka YouTube, menonton vlogger kesayanganmu dan belajar perlahan-lahan dari sana.

Kamu menghadiri wawancara yang bikin deg deg syer dengan lancar. Semua pertanyaan yang dilontarkan dapat kamu jawab dengan baik, makin tersenyum lagi ketika pertanyaan soal gaji dilontarkan. Kamu begitu sumringah melihat bahwa ada peningkatan di sana. Kamu terpukau dengan visi dan misi perusahaan, kamu terpukau dengan mimpi-mimpi yang ditawarkan, kamu terpukau dengan masalah-masalah yang nantinya dapat kamu atasi berbekalkan pengalaman kerjamu. Kamu mengakhiri wawancara dengan menjabat tangan sang interviewer dengan mantap. Mereka akan mengabarimu beberapa hari lagi jika kamu memang diterima. Kamu begitu optimis akan diterima, hanya karena sang interviewer begitu perhatian saat mewawancaraimu. Ya, mereka memang semuanya seperti itu, berusaha membaca gerak-gerik dari calon karyawan. Melihat bahasa tubuh dan cara bicara sebagai poin tambahan untuk pertimbangan apakah kamu diterima atau tidak.

3 hari kemudian kamu mendapatkan kabar bahagia. KAMU DITERIMA! Kamu diminta untuk dapat memulai hari pertamamu di perusahaan tersebut langsung di hari Senin pada pekan berikutnya (ini biasanya jika kamu freelancer atau menganggur, mungkin perusahaan akan meminta kamu memulai lebih cepat). Atau jika kamu memang masih terikat pada suatu perusahaan, kamu membutuhkan waktu sekitar 2–4 minggu untuk menyelesaikan berbagai proses mengundurkan diri. Bagi mereka yang masih terikat di suatu perusahaan, biasanya ini adalah saat-saat paling mendebarkan.
“Aduh, tapi bos gue baik banget”
“Gue harus nge-bullshit apa ya? Married? Diminta Mama pulang kampung? Mau bisnis lagi?”
“Nggak enak ama team. Kita udah kaya keluarga”

Sederet alasan akan kamu racik sedemikian rupa supaya terlihat alami, terlihat bahwa kamu memang visioner yang ingin melangkah ke arah yang lebih baik, apapun itu alasannya. Kamu mengirimkan e-mail ke atasanmu atau mengajaknya bertemu secara langsung, drama terjadi dalam pembicaraan tawar-menawar, kamu menang dan akhirnya e-mail tersebut diteruskan ke pihak HRD. Kamu memutuskan untuk memotong cuti yang masih tersisa selama 10 hari (iya, kamu nggak pernah menggunakannya karena kamu meng-klaim dirimu sebagai workaholic bitch yang tidak bisa berhenti bekerja, apa itu liburan?). Kamu menjalani hari-hari terakhir dengan dedikasi yang lebih tinggi, biasa lah, meninggalkan pencitraan yang baik, padahal orang lain sudah tahu ya kamu sedang nge-bullshit saja.

3 minggu berlalu. Di sinilah kamu berdiri sekarang. Lobby utama perusahaan barumu. Menanti pihak HRD untuk menyambutmu dan memperkenalkanmu pada divisi baru tempat kamu akan bekerja, jika memang perusahaan tersebut belum memiliki banyak karyawan, mungkin kamu berkesempatan untuk dikenalkan pada semua orang. Kamu memasang senyum terbaikmu saat dikenalkan pada semua orang sambil berpikir “Oh, shit itu tadi mbaknya namanya siapa ya, kaga inget pula gua. Gimana mau ajak makan siang? Eh, wait, nanti gue makan siang sama siapa, gue kan pemalu banget kalau jadi anak baru gini. Ok, fokus! Ini kan lagi dikenal-kenalin malah mikirin yang lain”

Detik, jam, hari, bulan berlalu. Kamu menjadi karyawan yang paling bersemangat, namanya juga ranah baru. Kamu begitu excited, kamu penuh ide, segala idealismemu membuat semuanya terpukau olehmu. Kamu membawa angin segar bagi perusahaan tersebut. Kamu disenangi oleh semua orang karena kamu begitu supel, begitu kooperatif, begitu inspiring, pintar dalam menangani berbagai hal, kamu adalah primadona, the new kid on the block yang istimewa.

Sampai tiba waktunya di mana semua hanya menjadi rutinitas belaka. Debat demi debat harus kamu lalui hanya untuk memperjuangkan semua ide. Kamu merasa bahwa visi dan misi yang diceritakan di awal hanyalah pemancing belaka agar kamu tertarik untuk masuk ke perusahaan tersebut. Lalu kamu tersadar, korporasi besar ataupun startup, apapun namanya memang akan selalu sama, haruslah saya yang mampu menyesuaikan diri dengan ini semua jika saya ingin bertahan hidup. Keputusan demi keputusan dibuat tanpa kamu ketahui alasannya, tidak ada yang memberitahukan kamu, jika kamu bertanya mungkin hanya akan dibalas dengan “Bos maunya begitu, udah ikutin aja, namanya juga orang gajian. Gak usah idealis-idealis banget”. Atasanmu yang selalu mendengar semua ide-ide jutaan dollar milikmu, kini hanya peduli bagaimana ide itu dieksekusi dengan waktu singkat namun dapat menghasilkan gudang uang yang besar. Tim yang bekerja bersamamu mulai memperlihatkan kelakuan asli mereka, topeng itu mereka buka perlahan-lahan. Antara mulai saling sikut, mulai ngomongin di belakang, mulai ingin mempermudah pekerjaannya dengan menyulitkan dirimu, mulailah semua drama itu(karena kantor sesungguhnya adalah 1% kerja dan 99% drama). Kamu mulai bekerja hanya karena rutinitas. Harus bangun pagi dan berpakaian rapih, naik angkutan umum ke lokasi kerja, duduk menaruh tas di tempat kamu duduk, pergi ke lantai bawah kantor, nongkrong di coffee shop sampai akhirnya dipanggil oleh atasanmu karena ada keperluan. Menghadiri meeting yang membosankan yang membuatmu ngomel-ngomel sendiri. Dilanjutkan dengan makan siang yang dipenuhi obrolan gosip tak berfaedah. Kamu mungkin akan mulai sering kabur ke coffee shop dengan membawa laptop ke sana dan bekerja karena situasi kantor sudah tidak kondusif.

Kamu mulai berpikir dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, apakah ada yang salah dengan dirimu? Apakah kamu terlalu bersemangat padahal mungkin orang lain bekerja dengan biasa-biasa saja? Jika mungkin kamu bekerja di sebuah startup, kamu mulai akan membandingkan segala sesuatu dengan apa yang kamu baca di Medium tentang kehidupan startup di Silicon Valley. Kamu mulai membenci orang-orang yang senang dengan menjadi medioker padahal yang mereka lakukan ya B aja. Kamu mulai menyalahkan dirimu yang tidak dirimu lagi. Kamu menyalahkan dirimu yang egois. Kamu menyalahkan dirimu yang terlalu cepat mengambil keputusan dalam menerima pekerjaan. Kamu menjadi stress, tapi there are bills that you gotta pay. Kamu tidak bisa bermalas-malasan karena nanti dapat teguran dan siapa yang pernah tahu kalau nantinya bakal dipecat karena melihat performa kerja yang tidak baik.

Akhirnya kamu tetap mempertahankan apa yang kamu kerjakan sekarang, kamu tetap bekerja sepenuh hati karena kamu bukan tipe orang yang bisa acuh tak acuh terhadap hal yang sedang ditekuni. Kamu lebih banyak menyendiri, berbicara seperlunya. Misalnya harus berbicara dengan banyak orang, kamu hanya berbicara soal pekerjaan, padahal biasanya kamu senang ngobrol tentang banyak hal, bahkan memotivasi orang lain untuk punya semangat dalam bekerja. Kini semua tinggal cerita dan akhirnya kamu akan kembali ke fase awal dan mengulang semuanya dari awal, sampai kamu bosan atau sampai akhirnya kamu sadar bahwa menjadi karyawan ya akan selalu seperti itu. Beruntung jika kamu tidak terjebak dalam lingkungan yang toxic. Atau jika ingin mencari aman, ya sudah, kerjakan saja tugasmu seperti banyak orang medioker lainnya, tak perlu banyak berinovasi, pulang di akhir bulan dengan membawa gaji dan nikmatilah hidup. Kamu mungkin berniat memulai bisnismu sendiri, semua umat meracuni kamu dengan segala pemikiran positif.

“Lo tuh sebenernya udah ada di fase buka startup sendiri.”
“Udah lah, buka warkop atau warung pecel lele sana gih. Dijamin nggak stress, menikmati hidup pula. Daripada jadi orang bayaran, mending lo bayarin orang lain buat hidup”

Easier to said than done. Kamu banyak mendengar hal serupa ketika fase-fase ‘mau resign tapi galau’ mulai menghantui. Pernyataan ‘nanti biaya hidup gue gimana’ atau ‘nanti bapak ama ibu gimana’, misalnya kamu sudah berkeluarga mungkin akan lebih pusing lagi dengan pertanyaan ‘nanti istri/suami gue gimana, anak-anak gimana?’ Ya, walaupun biasanya yang sudah berkeluarga akan lebih berpikir matang dalam mengambil sebuah keputusan untuk resign, hal yang seperti ini masih kerap terjadi di ranah orang muda atau ya orang yang merasa masih berjiwa bebas dan muda.

Setelah selesai kamu mempertimbangkan dan berpikir, well, siklus itu akan selalu berputar dan mungkin kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya…..bacalah kembali tulisan ini dari awal. Kamu akan tahu.