Day 3 : Memory

Eunike Cahya
Sep 15 · 3 min read

Bagaimana cara mengisahkan memori, pikirku seharian sebelum menulis postingan ini. Saya harus memilih bagian dari memori mana yang bisa diceritakan, atau sekedar tidak terlalu sakit untuk saya ingat. I’m an observant person, I observe everything and keep everything in the back of my head. Setelah 25 tahun hidup saya telah tinggal di beberapa memori, yang seringnya menahan diri saya untuk melangkah ke depan.

Jika mendengar kata ‘memori’, hal yang saya ingat adalah sekelumit ingatan yang tidak ingin saya ingat. Berawal dari kebimbangan di masa muda akan langkah yang ini saya tempuh. Hingga kini, masih tersesat dalam kebodohan dunia. Terkadang saya lupa, karena hal buruk yang terjadi itulah kemudian yang membentuk karakter saya sampai sekarang. I should be more grateful, shouldn’t I?

Memory is pain we left behind

Memory. Ah, kenapa saya hanya teringat hal menyakitkan jika menyebut kata itu. Bisa jadi karena seringnya waktuku dihabiskan di taman kenangan itu. Terkadang tersandung, seringnya aku terjebak dan tidak tahu kemana jalan untuk kembali pulang. Because, once you get there, it’s so damn hard to get back on your feet.

Beberapa orang ingin kembali ke memori masa kecilnya, sebelum dia dewasa dan berkenalan dengan dunia. Saya tidak menginginkan hal tersebut, bisa jadi karena itu adalah masa yang kelabu bagi saya. Namun, jika harus memilih, saya ingin kembali ke masa sebelum saya tersesat ke dunia baik kehidupan maupun pekerjaan yang saya pilih sekarang. Berbagai alasan yang membuat kadang saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri hingga sekarang. And the sad thing, there is no coming back.

Mungkin satu alasan untuk kembali terjebak dalam sebuah memori adalah luka yang tidak terselesaikan. Atau mungkin tempat tersebut adalah zona nyaman, sebelum kerumitan dalam kehidupan terjadi. Atau bisa jadi ratusan pertanyaan ‘what if I do that instead of doing that’.

Bukankah sangat menyenangkan, untuk melamun sejenak dan meninggalkan dari apa yang berada di depan kita. Tapi kita semua tahu hal tersebut bukanlah jalan keluar. Bagaimana mungkin kita dapat menyembuhkan luka kita, apabila kita sendiri masih tidak berani menatap luka tersebut?

Kita sebagai manusia adalah sekumpulan luka dan kesalahan, namun demikian hal tersebutlah yang terus menempa kita. Satu satu nya cara adalah menerima suatu hal telah terjadi dalam hidup kita, dan lebih dari itu belajar untuk memaafkan diri kita sendiri. Karena pada akhirnya, luka dalam memori tersebut menjadi indah, ketika kita sudah belajar menerimanya. We laugh, we cry, we fall, but soon we will rise.

Memory is about forgiving

Membicarakan memori mungkin tidak terlepas dengan sudahkah kau memaafkan dirimu sendiri. Bagaimanapun juga, keputusan baik dan buruk dalam hidupmu, kamu ambil berdasarkan infromasi dan kepercayaan sepenuhnya pada dirimu kala itu. Beberapa keputusan baik, dan sebagian besar adalah kegagalan dan kesalahan. Menyedihkan memang, tapi itulah cara bagaimana kita akan bertumbuh. Dan tidak ada yang benar dan salah dalam proses bertumbuh, bukan?

He cannot destroy light anymore than I can destroy darkness. One cannot exist without the other” -The Legend of Korra

Membicarakan memori, mengingatkan saya pada sebuah kutipan dari animasi Legend of Korra. Memori mengandung hal baik dan indah untuk dikenang dan hal yang menyakitkan untuk dikenang. Dan satu yang pasti, one cannot exist without the other. Kehadirannya dalam isi kepala kita saling membangun dan berkaitan untuk membentuk kita menjadi manusia yang seutuhnya.

Dengan luka dan penyesalan yang kita dapatkan dari masa lampau inilah yang membentuk jawaban untuk pertanyaan kita di masa depan. Bukan menjadi persoalan, jika kita mengambil keputusan salah di masa lalu ataupun bahkan di masa depan. Hal tersebut dapat terjadi sebagai proses pembentukan diri kita sendiri. Terjebak dalam memori masa lalu, tidak akan bermanfaat bagi kehidupan kita.

Saya kemudian teringat kata-kata Rafiki dalam Lion King, ‘The past can hurt. But the way I see it, you can either run from it, or learn from it’. Dari memori yang terbentuk dan terus menjebak kita untuk berada disana, satu satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memaafkan diri kita sendiri. Proses memaafkan dirimu atas kesalahan di masa lampau bukanlah jalan yang mudah. Bahkan mungkin membutuhkan proses seumur hidup. Namun, hal tersebut dapat membuat kita dapat terus bertumbuh menjadi manusia seutuhnya. Sebuah proses yang panjang dan harus kita lalui. Maafkan dan cintai lah dirimu. Before you save someone else, you gotta save yourself.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch

Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore

Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store