Kartini: Jejak Perempuan Melampaui Adat

“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri”-RA Kartini

Kontradiksi, setidaknya itulah yang menggambarkan sosok Kartini. Seorang perempuan dengan darah bangsawan. Sebuah pencerminan wanita pribumi yang menolak serta menerima adat di saat yang bersamaan. Menyerap dan mempublikasikan konsep & ide pemikiran barat. Sosoknya dihubungkan dengan budaya kolonialisme yang dibalut dengan kepentingan nasionalisme. Perlawanan adat yang akhirnya menghilangkan sosoknya juga. Apapun itu Kartini adalah sosok inspirasi dan penggerak nasionalisme bagi Indonesia dan utamanya bagi peran wanita pribumi.

Dibalik kontroversi mengenai hari jadi R.A Kartini yang diperingati setiap tahunnya, tidak dapat dipungkiri sosok Kartini ini merupakan representasi perjuangan perempuan pribumi yang melampui adat tanpa meninggalkan esensi menjadai perempuan pribumi. Setiap tanggal 21 April menjadi tonggak peringatan dimana pejuang hak hak wanita untuk menjadi kaum yang mandiri dan mendapat kesejajaran dengan pria yang dimulai di era 1900an.

Berjuang melalui tulisan, di dalam surat-suratnya, RA Kartini meratapi pendidikan yang hanya untuk kaum pria dan buta huruf yang dialami kalangan perempuan karena tidak tersedianya peluang pendidikan bagi mereka. Hal ini tercermin pada getir tulisannya pada Abendanon , “Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami,”

Dipaksa beradaptasi dengan isolasi karena pingitan, sebuah adat yang melarang perempuan jawa untuk keluar sebelum menikah. Kartini menanggulangi dengan menulis surat kepada teman temannya di Belanda dan menolak ketidaksetaraan gender karena tradisi jawa dan dipaksa menikah di usia muda yang membuat wanita kehilangan kebebeasan untuk mendapatkan pendidikan

Pemikiran Kartini pada masa itu dapat dikatakan melampaui zaman, melampaui adat. Kartini menyadari pendidikan bekal utama bagi wanita untuk mengerti hak dan tanggungjawabnya. Dengan berbekal ilmu pengetahuan kaum perempuan akan lebih mampu menentukan jalan hidup sendiri. Dengan pendidikan perempuan akan bangkit berjuang mematahkan belenggu peradaban yang diwujudkan melalui sekolah yang ia didirikan untuk wanita sepanjang hidupnya. Penulis, Pramoedya Ananta Toer menggambarka sosok Kartini dalam buku Panggil Aku Kartini saja yang disebutkan, “apa yang sudah dibaca Kartini digenggamnya terus di dalam tangannya, dan ikut memperkuat moralnya” . Kartini berpendapat perempuan harus mengecap bangku pendidikan dan mendapatkan cakrawala pengetahuan seluas-luasnya

Sepeninggalnya pada tahun 1904, perjuangannya tidak berhenti dan dilanjutkan oleh teman-teman Belandanya. Surat surat Kartini sepanjang hidup kepada teman teman Belandanya disunting dan diterbitkan pada 1911 dengan buku judul Door duisternis tot licht atau yang dikenal Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Hasil dari penerbitan buku tersebut digunakan untuk mendirikan sekolah sekolah perempuan di Jawa.

Berawal dari surat yang berisi kegelisahannya sebagai bangsawan pribumi itulah terbentuk komite sementara yang menjadi tonggak Sekolah Kartini pada tahun 1981 yang diprakasai oleh Baronesse van Hogendorps Jacob, pasangan JH Abendanon, serta perwakilan parlemen Belanda van Deventer. Setelah proses negosiasi akhirnya didirikan sekolah kartini yang bertempat di Semarang. Seiring perkembangan sekolah tersebut didirikan juga menghasilkanVereeniging Kartinifonds (Perkumpulan Dana Kartini) yang menjadi badan definitif untuk mencari dana dan menyalurkan ke beberapa sekolah sekolah wanita di Indonesia.

Perkumpulan Dana Kartini kemudian mendirikan cabang di Semarang dengan nama Kartini Vereeniging (Perkumpulan Kartini) dengan moto yang menegaskan kesetiaannya terhadap warisan dan kemasyhuran cita-cita Kartini: Yayasan ini bertujuan untuk mengentaskan (verheffing) perempuan Jawa sebagaimana dianjurkan oleh Raden Adjeng Kartini.

Hasil dari pernjualan buku buku Door duisternis tot licht, yang lumayan besar. Dari tahun 1913 penjualan edisi Belanda di Belanda mencapai f. 5.809.75 dan edisi bahasa Inggris di Amerika Serikat selama tahun 1920 menghasilkan f. 903.55. Akhirnya royalti buku tersebut dengan sumbangan pribadi dan pemerintah pada tahun 1916 berhasil mendirikan setidaknya 7 sekolah untuk wanita yang setara dengan HIS. Selain Sekolah Kartini, sekolah perempuan lain yang mendapat subsidi dari Perkumpulan Dana Kartini adalah Pamulangan Istrischool di Bogor dan Kemajuan Istrischool di Jatinegara tanpa dipungut biaya bagi murid muridnya.

Disamping spekulasi mengenai perayaan hari kartini, terkadang yang terluput dari kita bagaimana seorang perempuan bangsawan pada masa kolonial yang sudah mendapatkan kenyamanan dari pihak kolonial masih teguh memikirkan nasib rakyatnya. Perjuangan yang ia tulis melalui tinta tinta surat pada sahabat sahabatnya.Perjuangan tersebut akan menghasilkan buah yang disebut Kartini sebagai persamaan hak yang telah terbayang di udara. Sosok pribumi yang memiliki visi tanpa kehilangan pribuminnya. Pemikiran srikandi mulia yang sangat mumpuni. Notabene di tengah kehidupan sekarang yang begitu kompetitif dalam segala lini kehidupan. Kartini adalah representasi wanita dan manusia pribumi yang cerdas, memiliki pengetahuan dan melampui adatnya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Eunike Cahya’s story.