Maafkan Saya, Munir

Eunike Cahya
Sep 6 · 2 min read

A very personal writing

Sebuah sore yang kelabu, tepat 16 tahun yang lalu salah satu pendiri pondasi hak asasi di Indonesia meninggal dunia dengan perjuangannya yang belum usai. Saat itu saya masih tidak mengenal siapa dan bagaimana sosok Munir itu. Saya yang masih di sekolah dasar teringat bagaimana acara di televisi memberitakan secara terus menerus, tanpa saya mengerti apa yang terjadi.

Pertama kali saya mempelajari perjuangan dari sosok Munir dimulai beberapa tahun sejak kepergiannya dari dunia ini. Kala itu saya merasakan perasaan marah yang luar biasa, mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Sebagaimana keluarga Indonesia pada umumnya, saya tumbuh di keluarga yang tidak mengajarkan soal hukum, alih alih mengenai hak asasi. Perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki masih kental di keluarga saya. Saya diajarkan bagaimana untuk lahir, menempuh pendidikan, bekerja, berkeluarga untuk kemudian usai.

Berawal dari perlakuan yang tidak layak pada masa sekolah saya, disitulah saya mempelajari hak asasi dan lebih lanjut lagi soal Munir. Pertama saya mengenalnya adalah dari buku Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-Sisi Personal Munir , rasa amarah dan keputusan sesaat untuk ikut memilih jalan hak asasi sebagai hal yang saya tempuh. Namun bukan karena Munir atau idealisme yang menggugah saya, semata mata karena pengalaman saya sebagai korban pada masa sekolah dasar.

Tidak mudah menjadi Munir dan berbagai penggiat HAM lainnya yang memiliki integritas antara nilai yang dipegang dan pelaksanaan. Sebagaimana yang dinarasikan Faisal Basri, Munir tak punya apa-apa kecuali idealisme dan konsistensi seorang pejuang. Memiliki konsistensi dan idealisme adalah sebuah hal dan harga yang mahal bagi seorang manusia. Dan sepanjang apa yang saya lakukan, tidak lebih mengamati, menulis, dan tanpa ada aksi yang selama ini saya pikirkan akan terjadi.

Saya dan berbagai anak muda lainnya mengamini dan ikut meramaikan tegaknya keadilan. Namun, sebagaimana cepatnya sebuah topik dilempar, akhirnya ia akan menghilang juga. Para aktivis jualah yang akhirnya berjuang mati matian untuk membawa topik ini kembali ke kalangan publik. Karena pada akhirnya, mayoritas yang diam lebih membahayakan daripada minoritas yang lantang.

Beberapa tahun berjalan, saya sebagai salah satu mayoritas yang tidak maju ataupun tidak mundur hanya bisa menelan ludah. Ada perasaan mengganjal luar biasa ketika saya memilih jalan yang mungkin berbeda dengan nilai yang saya pegang selama ini. Rasa bersalah dan malu yang luar biasa itulah jua yang membawa saya pada tulisan ini.

Ada rasa sesal dan kesal yang luar biasa, bagaimana kita menormalkan hal yang sudah jelas salah. Dalam kehidupan, apabila kita menyangkal dan tidak memiliki integritas, masih layakkah menyebut diri sebagai manusia?

Dan pada akhirnya, saya hanya bisa berkata tanpa berseru; maafkan saya, maafkan kami, Munir. Kami yang telah gagal membawakan pesan mu yang tidak lebih dari pesan kebaikan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Kami yang gagal untuk membawa idealis diri ke kehidupan nyata. Gagal untuk memiliki integrasi tinggi dengan apa yang kami anggap benar dengan aksi apa yang kami lakukan. Namun, perjuangan tidak akan usai meskipun engkau dibungkam dengan cara yang tidak berkemanusiaan.

Maafkan saya, Munir.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch

Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore

Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store