Menyoal Cara Hidup dan Masyarakat Digital

Eunike Cahya
Jun 19 · 2 min read

Beberapa pekan lalu, seorang kawan saya bercerita soal aliran stoisme yang ia ikuti dari sebuah referensi buku. Seorang teman yang lain sudah lama menerapkan mindfulness dalam pola meditasi secara rutin. Bagi mereka, kedua hal tersebut menenangkan pikiran dan hal esensi dalam kehidupan.

Tidak dipungkiri, pada beberapa tahun belakangan pembahasan soal sebuah tujuan, psikologi, hingga berbagai macam way of life sedang hype ditengah masyarakat digital. Mungkin disebabkan, perkembangan informasi dan teknologi yang terlalu mudah menyebabkan ketidak bahagiaan. Atau mungkin kita hanya lupa untuk melihat hal positif?

Masyarakat Digital dan Negativisme

Istilah seperti netijen julid, nyinyir dan sejenisnya menjadi hal yang sering saya sendiri temui di media sosial. Iklim negativisme dimana orang-orang cenderung melihat sisi negatif dari semua cerita. Karena pada akhirnya orang lebih memilih cerita mana yang ingin mereka percayai.

Masing-masing individu memilih dan membuat skenario dalam panggung kehidupannya masing masing. Mungkin hal tersebut yang menjadikan sebuah perlombaan untuk mempraktikan dan meyebarkan cara kehidupan mana yang lebih baik dari yang lain.

Dalam dunia digital ahirnya setiap anggota di dalamnya berlomba untuk paling cepat dalam menyebarkan atau bahkan memperoleh informasi itu sendiri. Dalam satu sisi, ini adalah bentuk perkembangan masyarakat kritis dan mulai berakhirnya masyarakat pasif dengan informasi satu arah, Namun pada sisi lain, terjadi kompetisi dan berakhir dengan informasi yang berlebihan yang tidak lepas dari menurunnya tingkat kebahagiaan dari individu itu sendiri.

Keseimbangan dan Way of Life

Lagom, Minimalist, Mindfulness dan sejenisnya pada dasarnya berpusat pada keseimbangan dari kehidupan itu sendiri. Kecenderungan kita pada satu hal akan menciptakan ketidakseimbangan yang memicu hilangnya tujuan dan kebahagiaan itu sendiri. Dalam masa sekarang, cukup diakui keseimbangan adalah hal yang langka untuk ditemukan, hanya diri kita sendiri yang akhirnya menemukan.

Hilangnya atau kaburnya keseimbangan kita menyebabkan kita sering tersesat dalam berbagai keputusan. Tidak terhitung berbagai referensi soal mengejar pekerjaan sesuai passion, berbagai referensi motivasi dalam menjalankan way of life itu sendiri. Terkadang kita lupa, jika terkadang diperlukan tersesat untuk menemukan jalan keseimbangan itu sendiri.

Dalam membludaknya informasi yang kita dapatkan akan tidak mudah mendapatkan keseimbangan. Sehingga, pada akhirnya, kita tidak akan pernah menemukan way of life paling tepat bagi kita sendiri. Karena sebanyak apapun referensi yang kita pelajari soal menjalankan kehidupan ini tidak akan sama dan dapat dipraktekan ketika kita menjalaninya. Tapi begitulah kehidupan adalah proses mencari dan bukan sekedar menemukan.

Maybe it’s alright for not knowing your way, or even maybe losing yourself in the middle of it. Because that’s just the way it is.

Eunike Cahya

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast