Munir, Sebuah Perjuangan Kemanusiaan

Munir, Sumber Foto : LBH Jakarta
The language of human rights facilitated the process of reconciliation between them and enabled the voice to be heard by whole society. This single language is very important to keep all united
(Munir dalam Pidatonya Saat Menerima Right Livelihood Award)

Membicarakan Hak Asasi Manusia tidak akan pernah lepas dari sosok Munir Said Thalib, sebagaimana namanya yang bermakna cahaya, ia telah menerangi dan memberikan setapak pada perjuangan HAM di Indonesia. Kelahirannya pada 8 Desember beriringan dengan hari terbentuknya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada dua hari setelahnya. Perjuangannya untuk membumikan hak asasi manusia dari akar rumput akhirnya membawanya pada bumi yang dicintainya. Sepertinya memang tidak ada kematian yang abadi, bahkan gajah meninggalkan gading kata mereka, namun Munir tidak hanya meninggalkan gading. Ia meninggalkan sebuah keberanian dan nyala api yang menerangi dan terus membakar tonggak kekuasaan hingga 13 tahun kematiannya, ia masih abadi.

Humanisme dan Kebangsaan

Bukan berlebihan apabila kita menyematkan sosok pahlawan pada sosok Munir. Meskipun kehadirannya sering dianggap kontroversial, namun jutaan tangis mengalir saat mengenang kepergiannya. Pada saat ini, masyarakat dapat melihat hak asasi manusia sebagai salah satu isu agenda politik dalam bangsa walau sering dikesampingkan. Namun pada masa perjuangan orde baru, Munir telah memperkenalkan dan salah satu penanam akar pada isu hak asasi manusia yang sering dianggap isu barat. Pemahaman HAM sebagai perlawanan pada kekuasaan politik, sosial budaya hingga agama yang melupakan nilai kemanusiaan yang dipahami Munir[1] ini yang sebetulnya perlu kita refleksikan kembali dan berulang kali.

Munir melalui nilai dan tindaknnya telah mewariskan pemikiran humanis melampaui zaman dan mensejajarkan dengan paham kebangsaan itu sendiri. Humanisme merupakan pemahaman bahwa kemanusiaan merupakan salah satu nilai terpenting dalam kehidupan dan dengan itu penghormatan kepada kemanusiaan sama pentingnya dengan pengagungan kebagsaan itu sendiri. Munir menyelaraskan semangat kebangsaan atas dasar kemanusiaan sebagaimana disebutkan berikut ini,

Kuat-tidaknya satu proses penghormatan terhadap kemanusiaan sekaligus menjadi alat ukur bagi apakah telah berkembang suatu kemampuan bangsa untuk tumbuh dalam rangka demokrasi dalam peradaban modern.[2]

Pemahaman humanisme dalam kebangsaan ini dapat dipahami bahwa demokrasi dan kebangsaan sebagaimana kita temukan pada gejolak politik ini, tidak dapat serta merta melupakan penghormatan terhadap kemanusiaan dan hak asasi itu sendiri. Pembahasan ini menjadi penting, ketika kita mengurai lagi apa yang diperjuangkan Munir kembali merupakan perlawanan kemanusiaan pada otoritas, kita dapat lihat pada kisah kasus pembunuhan Marsinah, Tragedi Tanjung Priok, ataupun Tragedi Semanggi yang berusahan membangkitkan dan membuktikan kemanusiaan diatas segalanya.

Dalam pandangan Mangunwijaya humanisme merupakan proses yang dinamis untuk memahami apa artinya menjadi manusia, melalui hubungan dan dinamika perbedaan. Humanisme sekaligus adalah juga proses mempertahankan sikap kritis terus menerus di hadapan segala otoritas luaran yang memaksakan kehendaknya tanpa alasan yang jelas[3]. Sikap kritis dari Munir dapat dilihat dari setiap pernyataan yang telah banyak didokumentasikan. Ia sempat menyebutkan sebagaimana tercatat bahwa sejarah haruslah dilihat pula sebagai pergumulan umat manusia dalam pertarungan antara memperjuangkan kemanusiaan melawan dominasi dan kekuasaan yang lalim dan menghalalkan cara[4]. Sikap humanis yang dimiliki oleh Munir ini disampaikan tidak berbelit dengan teks akademis namun tindakan menolak kekerasan, penindasan, dan kekuasaan militer diatas kemanusiaan yang hingga kini terus membangkitkan semangat para aktivis untuk memperjuangkan apa yang benar.

Refleksi humanisme dan sikap kritis yang ditanamkan oleh Munir dalam perjuangannya kini bahkan masih menjadi kajian dan nilai yang digunakan dalam perjuangan hak asasi. Jika kita menengok kembali, terlebih pada masa orde baru, tidak ada yang dibutuhkan masyarakat selain keberanian. Semua tenaga itu telah dirampas oleh otoritas pemerintah namun nilai yang ia tanamkan menjadikan tak ayal sebagai simbol dari perjuangan penegakan nilai humanis pada konsep hak asasi ini. Satu hal yang pasti dalam perjuangannya, kita tahu bahwa semangat kebangsaan, integrasi nasional yang terkadang menciptakan bias dalam gejolak politik tidak boleh membuat terlupa pada kemanusiaan dan humanisme yang kita miliki.

Jalan Terjal Atas Nama Kemanusiaan

Masa kini dan lampau, perjuangan kemanusiaan masih melalui jalan terjal dan perjuangannya pula masih panjang. Hinnga kini, jutaan masyarakat di Papua masih ketakutan dari suara senapan yang mengatasnamakan integrasi nasional. Pun para aktivis masih membisu dalam perjuangan karena ditebas dengan berbagai pasal untuk melindungi kepentingan berbagai pihak. Hingga kebebasan untuk menentukan orientasi gendernya menjadi permasalahan besar dan wacana kepanikan moral oleh media. Serta mengenai media, mereka lebih banyak memilih untuk mengesampingkan perannya untuk perubahan sosial atau pembangunan demokrasi pada negaranya. Namun, di tengah ketidakpastian nilai dari kemanusiaan, perjuangan masih ada. Sebagaimana yang diyakini Munir bahwa sikap optimis menggiring orang pada kehidupan yang lebih baik dan lagi dapat membuat orang percaya pada pengharapan. Terlebih, sikap ini dapat menuntun orang memahami kemanusiaan yang sesungguhnya[5].

Kemanusiaan sendiri dalam berbangsa dipahami sebagai salah satu pondasi yang dibentuk pada sila kemanusiaan dalam Pancasila. Dapat pula dipahami bahwa dasar kita ialah untuk mengakui hak dan kewajiban yang dimiliki dan dipenuhi oleh masyarakat. Namun ketimpangan kewajiban dan hak dari negara dan masyarakat menjadikan dasar tersebut tidak lagi berarti. Ketimpangan semacam itulah yang mengundang kegelisahan, pemikiran yang berbuah tindakan dari Munir. Tindakan represif dari pemerintah orde baru pada masa Munir untuk merasa memiliki kuasa diatas rakyat ini akhirnya mengorbankan kemanusiaaan. Kuasa negara atas rakyat dilakukan dengan kuasa militer sempat dilakukan di Timor Timur serta Aceh yang mengatasnamakan mempertahankan nusantara. Tindakan represif yang sebenarnya tidak benar benar hilang hingga berakhirnya masa orde baru. Pada masa itu, Munir yang melakukan protes serta memfasilitasi masyarakat lokal untuk menuntut hak mereka. Keberanian dan keyakinannya akan kemanusiaan menjadikan kekuatan masyarakat yang sebenarnya dapat kita saksikan hingga kini.

Keyakinan tersebut tampaknya masih mengakar pada perjuangan kemanusiaan di Indonesia. Munir memberikan kepercayaan dan semangatnya dari masyarakat akar rumput, ia bahkan pernah menyebutkan, jika kita ingin dekat dan menemukan Tuhan, maka kita harus bersatu dengan orang-orang miskin[6]. Tampaknya, ia melihat perjuangan kemanusiaan dan proses menemukan Tuhan adalah bersama masyarakat marjinal atau mereka yang terpinggirkan sebagai bentuk pengabdian dan cinta kepada Tuhan. Optimisme dalam warisan pemikirannya tersebut akhirnya melahirkan banyak aktivis dan pejuang HAM yang bermula dari akar rumput yang terinspirasi dari perjuangannya yang mengatasnamakan kemanusiaan. Sekalipun terjal dan penuh resiko menjunjung tinggi kemanusiaan merupakan tanggung jawab bukan hanya negara namun setiap individu. Jalan terjal itu juga yang dipilih Munir yang sekali lagi membentuk jalan setapak untuk para aktivis setelah masanya.

Kembali membicarakan Munir dan perjuangan HAM di Indonesia merupakan dua hal yang tidak akan pernah terputus. Munir merupakan tonggak yang menjadikan HAM bukan masalah regulasi pasal dan norma, melainkan lebih pada upaya memenuhi harapan orang tua dan sanak kerabat para korban; menjawab rasa sakit dan penderitaan orang yang diambil, dianiaya, atay dibunuh oleh kekejaman[7]. Ia menjadikan kemanusiaan bukan sekadar konsep yang dikaji secara abstrak melainkan sebuah aksi dan tindakan yang telah dilakukannya sepanjang hayatnya. Melampaui dirinya, Munir mengendepankan kemanusiaan dan HAM sebagai akar yang tidak terbatas oleh otoritas kuasa politik atau segala bentuk kekuasaan lain. Hal ini sebenarnya sempat ia ucapkan yang digunakan sebagai salah satu kutipan dari sosoknya dalam beberapa referensi terkait dirinya,

Aku harus bersikap tenang walaupun takut, untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, Cuma yang coba aku temukan adalah merasionalisasi rasa takut. Rasa takut ada, tapi harus diatasi. Aku juga harus mengatasi diri sendiri.[8]

Pernyataannya menjadi hal yang menarik dan seringkali dikutip kembali untuk mengingat perjuangan panjang terkait kemanusiaan. Munir mengetahui bahwa perjuangaannya untuk membela kemanusiaan ini melebihi dirinya dan jelas untuk kepentingan yang lebih besar, sehingga tidak menyerah pada rasa takut. Masih banyak ketakutan yang dialami oleh masyarakat yang terpinggirkan, yang perjuangannya harus dalam diam. Sepertinya dalam perjuangan kemanusiaan kita harus mematikan rasa takut itu sendiri. Perjuangan dan nilai yang ia pegang tidak hanya menjadi refleksi bagi perjuangan terjal kemanusiaan namun membentuk sekelompok manusia yang memperjuangkan kemanusiaan itu sendiri.

Berbicara tentang perjuangan kemanusiaan, sebagaimana sebelumnya disebutkan tidak ada kematian yang abadi. Munir meninggalkan perjuangan sekaligus pondasi atas nama kemanusiaan. Tidak perlu berlebih, kita pun tahu perjuangannya terus bergulir dengan lahirnya Munir — munir yang baru yang memperpanjang estafet kebenaran. Sebagaimana kelahirannya yang diharapkan untuk menjadi lilin bagi keluarganya, tidak berlebih jika kita menyebutnya sebagai pelita yang menerangi perjuangan kemanusiaan. Munir, tentu saja bukan sekadar sosok, ia merupakan sebuah simbol dan nama dari perjuangan yang tak kunjung usai. Tampaknya, kematian cahaya ini dapat direfleksikan sebagai sebuah kehilangan yang membawa kelahiran dan perjuangan baru untuk kemanusiaan. Kebenaran tidak selamanya terpasung dalam kegelapan, apabila seribu lilin siap menyalakan nyalanya.

Anda harus kecewa karena Munir tidak mati
Dia masih hidup di setiap hati yang masih suci
Dia masih hidup di tangis rakyat seluruh negeri
Munir-munir baru tumbuh setiap detik di seluruh pelosok bumi.
(Suatu Sore di TMP Kalibata oleh dr. M. Amin)

*) Sebelumnya dipublikasikan dalam buku ‘Menulis Munir Merawat Ingatan’ oleh Indonesia Jentera, selengkapnya bisa diakses disini

[1] Lih. https://www.tempo.co/read/kolom/2016/09/06/2384/munir-ham-dan-islamnya#vEi0bwQWeCTSVIG8.99

[2] Lih, Api Dilawan Air, Sosok dan Pemikiran Munir, LP3ES, hal. 159

[3] Lih, Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya, Forum Mangunwijaya IV, hal. 99

[4] Lih, Api Dilawan Air, Sosok dan Pemikiran Munir, LP3ES, hal. 159

[5] Lih, Api Dilawan Air, Sosok dan Pemikiran Munir, LP3ES, hal. 175

[6] Lih, Api Dilawan Air, Sosok dan Pemikiran Munir, LP3ES, hal. 53

[7] Lih. Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi, Willy Pramudya, hal. 58

[8] Lih. Keberanian bernama Munir : mengenal sisi-sisi personal Munir , Meicky Shoreamanis, hal. 61