Tentang Tahun Baru dan Mindfulness

Eunike Cahya
Jan 1 · 3 min read

Memasuki masa pergantian tahun adalah sebuah rutinitas yang menjemukan sekaligus ditunggu-tunggu. Sebuah momen setidaknya itulah yang menyebabkan perayaan yang menyenangkan sekaligus menggelikan. Sebuah perayaan bukan berarti sebuah siklus kemacetan dan pesta kembang api dengan sekelompok orang dengan status sosial tertentu. Bahkan sebuah momen kaleidoskop dan perenungan pun bisa disebut perayaan tahun baru.

Tahun 2019. Siapa yang menyangka dunia millennium telah mencapai tahapan ini. Dengan drama sosial, alam ataupun politik siapa yang menyangka kita dapat mencapai tahapan sedewasa ini. Untuk setiap tahunnya telah memberi pembelajaran dan kejutannya sendiri bukan hanya sebagai pribadi namun komunitas itu sendiri. Well, masa tahun baru adalah masa kita sedikit bernostalgia, bukan?

Hal ini mengingatkan pada sebuah praktik mindfulness yang pertama saya kenal pada tahun 2018 ( yeah, pretty late I know). Adalah Oli Doyle dalam bukunya yang berjudul Mindfulness: Plain and Simple yang memperkenalkan saya pada praktik ini. Sebuah praktik untuk memfokuskan diri pada apa yang terjadi detik ini dan saat ini, tanpa terbayang masa lampau ataupun masa depan. Terlihat sederhana dalam hal prinsip namun praktiknya sedikit berbeda, bukan?

Mindfulness is the basic human ability to be fully present, aware of where we are and what we’re doing, and not overly reactive or overwhelmed by what’s going on around us.[1]

Oli Doyle[2] menyebutkan bahwa, kita sebagai manusia membagi diri kita pada masa dulu dan masa kini. Kita sebagaimana yang kita tahu hanya berada pada masa kini dan kita terus mencoba entah untuk kembali ke masa yang lampau ataupun berangan telah berada di masa yang akan dating. Mindfulness mengajarkan manusia untuk terus berada di masa kini apapun itu baik ataupun buruk.

Saat memasuki tahun baru adalah momen refleksi, bagaimana kita berkembang menjadi pribadi dengan karakter yang mungkin berbeda. Dengan pengalaman yang menghantam namun menguatkan juga. Bagaimanapun juga, ketika kita mencoba mindful, kita dibebaskan dari pikiran dan keterjebakan di masa lalu da kekhawatiran akan masa depan. Ketika kita setidaknya mencoba untuk berfokus pada masa kini, maka penyesalan ataupun beban di masa datang tidak akan ada.

Sebagaimana disebutkan Oli Doyle bahwa if we go into this state of timelessness for even a few moments, we will notice that life seems very simple all of a sudden. Tidaklah perlu kita menerapkan meditasi tingkat sempurna untuk menerapkan prinsip ini. Karena pada faktanya bahwa hidup sebenarnya cukup sederhana namun kita sebagai manusia sedikit memperumit dengan harapan dan terjebak di dalamnya.

Tahun baru adalah momen refleksi, pembelajaran sekaligus juga sebuah momen untuk kita berhenti sejenak. Berhenti untuk menatap masa depan, bagaimana mungkin kita menatap masa depan apabila kita belum dapat bertahan pada masa kini? Sejenak dapatlah kita melakukan refleksi akan kesalahan dan keputusan namun tetaplah tinggal di momen masa kini, be mindful this is your birthright.

Anyway, Selamat Tahun Baru!

“There are two paths in life: listening to the mind, with its endless stream of judgements, beliefs and thought or living life this moment” –Oli Doyle

Referensi:

[1] https://www.mindful.org/what-is-mindfulness/

[2] Oli Doyle. 2014. Mindfulness Plain and Simple: Practical Guide to Inner Peace.

Eunike Cahya

Written by

An amateur storyteller and featured enthusiast