Jangan membuat nyaman jika sekedar singgah dan tidak mau menetap. Jangan membuat sebuah perjanjian jika tidak mampu menepati. Hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam membuat sebuah rencana.
Sebab ekspektasi kadang tidak sesuai realita. Bila sesuai apa yang kamu rencanakan, wah itu sangat membahagiakan. Namun, bila sebaliknya akan membuat mu hancur, kecewa.
Dulu kamu begitu lihai merancang masa depan bersamanya, ingin menua bersamanya. Kamu menjaga kepercayaannya dan dia pun menjaga kepercayaanmu. Tidak peduli tentang seberapa jauh jarak antara kamu dan dia. Kekuatan doa tidak pernah putus antara kalian.
Kamu menjaganya dalam doa, dan dia pun sama seperti itu. Tapi itu dulu sebelum dia pergi meninggalkanmu.
Sekarang dia menyudahi, pergi begitu saja tanpa permisi, sedikit pun tidak meninggalkan jejak. Kamu terjebak dalam kebingungan!
Hari-hari yang kamu lalui pahit tanpa kehadirannya. Tapi kamu mencoba untuk terbiasa, mencoba menerima kenyataan bahwa dia memang sudah meninggalkanmu.
Dan akhirnya kamu mengambil keputusan bahwa sudah seharusnya menerima yang ada, yang lalu biarlah berlalu meskipun masih ada saja kenangan yang membekas. Kamu menguatkan dirimu “aku harus mengikhlaskan dia, jika aku dan dia adalah takdir yang dipersatukan Tuhan, sejauh apapun dia pergi pasti akan kembali lagi.”
