Insta Story Riwayatmu kini

Inovasi instagram yang bikin sosmed lain turun eksistensinya ini memang lagi digandrungi banyak orang. Para pengguna ig tak hanya bisa upload gambar atau video yang bisa dilihat di home, namun juga bisa meliput story di kesehariannya. Tak ayal jika hal ini membuat pengguna instagram on setiap waktu untuk mengirim atau sekedar melihat-lihat story teman. Soal konten story tergantung minat masing-masing individu, termasuk saya sendiri juga begitu.

Awalnya saya mempunyai sentimen negatif tentang insta story ini, karena memicu untuk berbuat riya’ (pamer) padahal hal itu tergantung individu dan niatnya juga. Jadi yang ingin saya share ke teman-teman followers instagram ku sebisa mungkin bukanlah sesuatu untuk dipamerkan (emang gaada yang bisa dipamerin -.-) tapi lebih ke mengutarakan apa yang ada dipikiranku tentang scope yang besar (jadi banyak yang paham/ngerti/nrima) kearah mengkritisi, keresahan, kegalauan #eeaa yang kemudian harapanku akan memicu orang untuk berpikir solutif. Tapi tak lupa juga membagi hal hal yang kuminati, harapannya orang akan mengajak aku kearah minatku, contohnya bisa tentang cuplikan acara yang dihadiri, berita terkini yang jadi sorotan dll. Dan juga aku mengurangi curcol ke sosmed karena jika ingin mencurahkan sesuatu sebaiknya ditampung oleh makhluk hidup yang ada disekitarku agar mendapat kelegaan yang lebih daripada mendapat respon hanya dalam bentuk “viewed by ..” dan meningkatkan relasi kepada orang disekitarku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.