(Narasi) Catatan Kecil tentang Masa Lalu

2010.

Tahun pertamaku masuk SMP. Aku senang karena aku tahu akan sekelas denganmu. Ketika pembagian kelas, kau berbaris di depanku. Ada tiga orang yang memisahkan kita. Tidak terlalu banyak, sehingga aku pun bisa melihat wajahmu dengan jelas. Lalu, dengan dipandu oleh seorang guru, kita dituntun memasuki kelas. Aku memilih deret bangku nomor dua dari barat, sementara kau dipojok. Kita dipisahkan satu deret. Tapi lagi-lagi, itu tidak menganggu pengelihatanku. Aku masih bisa melihatmu. Jelas-sejelasnya. Setiap ada waktu, aku selalu mencuri pandang ke sana.

Kadang aku juga tersenyum ke arahmu, ya, meskipun aku tahu kau tidak akan pernah membalasnya. Kita belum saling mengenal saat itu. Bahkan, mungkin, ketika itu kau masih menganggapku saingan alih-alih seorang teman.

2011.

Enam bulan berlalu. Aku sudah mengenal beberapa murid perempuan di kelas, tapi aku belum pernah mengobrol dengan dirimu. Kita sering berjalan pulang bersama. Kalau kau berada di depanku, aku sengaja memperlambat langkahku. Aku tak mau menyalipmu karena aku ingin menatap punggungmu lebih lama. Kalau kau berada di belakangku, maka aku akan mencari alasan untuk berhenti sejenak. Bisa dengan sengaja melepas tali sepatu, dan memasangnya lagi. Atau berbelanja di minimarket yang ada di tepi jalan. Ketika kau sudah berada di depanku lagi, aku kembali berjalan membuntutimu. Menatap punggungmu, hingga aku berbelok menuju rumahku, yang memang lebih dekat dari sekolahan.

Tentu. Beberapa hari kemudian, aku tahu kau telah berpacaran dengan seorang murid laki-laki di kelas. Ketika itu aku cemburu. Tapi di saat yang sama, aku sadar bukan siapa-siapamu. Aku hanya orang yang sekelas denganmu. Tidak lebih.

Hingga kemudian, kabar baik itu datang. Kau putus dari pacarmu. Dan, entah kenapa, kau mengirim pesan kepadaku. Aku kaget sekaligus senang. Satu-satunya balasan yang dapat kutulis saat itu hanyalah, “Darimana kamu dapat nomorku?” Kau tidak mau mengatakannya. Kita malah mulai membicarakan hal-hal lain. Terus. Berlanjut hingga malam.

Esoknya, ketika bertemu denganmu, aku kembali menanyakan hal yang sama. Kau tertawa terbahak-bahak. Mungkin kau merasa bahagia setelah berhasil membuatku penasaran. Tapi kau tidak juga kunjung menjawabnya. Sampai jam pelajaran hari itu berakhir. Sampai besoknya… sampai besoknya.

Tak masalah bagiku. Aku tak berusaha lagi mengejar jawaban itu. Toh, malamnya kau masih mau mengobrol denganku. Tentang PR-PR, tentang apa saja. Kau membukakan pintu, dan aku mulai masuk ke dalamnya.

Aku masih ingat tanggalnya. Tanggal dimana aku menyatakan perasaanku kepadamu. Setelah sempat berpikir berhari-hari, akhirnya kuajukan juga pertanyaan itu. Tidak lebih dari sepuluh menit kemudian, datanglah balasan darimu. Tapi aku tidak langsung membacanya. Kubalikan layar hp lalu tidur. Aku merasa belum siap melihat balasanmu. Ya, ketika itu, aku memang sedikit konyol.

Baru keesokan paginya, aku membuka pesan itu. Ternyata yang tertulis di sana bukanlah jawaban ya, atau tidak. Kau menulis : berikan aku waktu dua hari untuk berpikir.

2012.

Masih terngiang di kepalaku pesan balasan darimu pada tahun 2011 itu. Setelah menunggu dua hari, kau menerimaku dan kita resmi berpacaran. Tapi, kesenangan itu hanya berlangsung sekejap saja. Kau memutuskan untuk kembali bersama mantanmu. Aku sedih, marah, sekaligus sakit hati di saat yang bersamaan.

Aku masih ingat betapa terpuruknya aku ketika itu. Tidak niat melakukan aktivitas macam apapun. Malas pergi ke tempat mana pun. Hanya mendekam di kamar. Tidak melakukan apa-apa selain menatap layar hp yang tidak lagi dihiasi pesan manis darimu.

Seorang guru menawariku menjadi OSIS. Aku tidak suka berorganisasi. Tapi, akhirnya kusetujui juga ajakan itu. Menjadi OSIS akan membuatku banyak kegiatan. Dengan banyak kegiatan, mungkin aku akan dapat melupakanmu. Melupakan rasa sakit itu.

Ya. Memang. Dampaknya sedikit terasa. Apalagi setelah dari organisasi itu, aku mengenal seorang murid perempuan lain. Murid perempuan itu juga menyukaiku, dan dengan proses yang tidak terlalu sulit, kami mulai berpacaran.

Bulan-bulan awal rasanya membahagiakan. Aku sudah jarang mempedulikanmu. Duniaku mulai berpusat pada murid perempuan itu. Kukira semuanya akan lancar. Baik-baik saja hingga ke depan.

Jauh ke depan, seandainya kau tidak mengucapkan selamat atas keberhasilanku menjadi ketua OSIS. Jauh ke depan, seandainya aku bisa menahan diriku untuk tidak lanjut mengobrol denganmu pada malam itu.

Kita kembali mendekat. Membuat perasaan ganjil menyelimuti dadaku.

Aku merasa bersalah kepada murid perempuan itu, pacarku.

Di sisi lain, aku merasa sangat benar ketika kembali memperjuangkanmu. Orang yang memang sangat kucintai. Orang yang sudah kusayangi sejak dulu dan masih sulit kulupakan hingga kini.

Bersambung…