sampai tanganku pantas menggenggam batu.

kata mereka yang percaya, ada satu batu serupa namamu. mereka menyebutnya permata penuh cahaya, samalah sepertimu.

aku baru tahu tadi sore, batu yang serupa namamu ditatah di jubah imam, letaknya di empat jajar pertama. merah warnanya. ada hijau juga, kalau aku tidak salah.

aku baru tahu tadi sore, batu yang serupa namamu juga ada di Eden, taman Allah itu.

aku juga baru tahu tadi sore, batu yang serupa namamu terdapat di wahyu. menyerupai takhta dan dasar tembok Yerusalem baru.

aku memikirkanmu lagi tadi malam, sampai pukul tiga lewat lima. sebelum aku tahu tentang batu serupa namamu itu tadi sore.tak juga kandas tanya dalam kepalaku, bagaimana bisa permata cemerlang kuabaikan hanya karna si kaki belalang?

aku mau mengaku bahwa paparan tentangmu sedikit berbeda dengan penglihatanku dua tahun lalu. mataku melihat kau hanya kuarsa buram yang tidak murni. yang hanya dalam angan mampu kumiliki.

buram bukan berarti kau tidak indah, hanya saja aku tak cukup percaya pada kemampuan tanganku untuk jadi pemoles yang membuatmu jadi batu indah utuh, yang serupa namamu itu.

aku pernah hampir menggenggammu, tapi aku belum yakin tanganku pantas untuk permata seindah itu. maka aku melupakanmu, dan mencoba menggenggam kaki belalang. kau tahu? kaki belalang itu menggerogotiku, dia fikir aku rumput lapangan. hingga aku melepaskan si kaki belalang, dan dia sudah jadi milik rumput lapangan yang nyata sekarang.

tanganku jadi tak pantas untukmu, masih membekas gerogotan si kaki belalang itu. mungkin nanti dulu. kucoba menyembuhkan luka tanganku, dan tentunya lukamu, batu permata yang terabaikan. mungkin nanti saat sudah sembuh.

aku tak tahu apalagi yang akan kufikirkan tentangmu nanti malam dan apalagi yang akan kuketahui besok sore. aku hanya ingin menulis sampai tanganku pantas menggenggam batu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.