“Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing manusia pun hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri.”
Yang Islam silakan bertuhan menurut petunjuk Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW, orang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya, begitu pun umat Hindu dan Konghucu.
Hendaknya negara Indonesia iala negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara berkebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”.
Konsep dan prinsip ketuhanan pastilah ada dalam diri setiap manusia. Meskipun, tidak mesti urusan ketuhanan itu adalah agama. Jangan membatasi agama sesorang, karena prinsip ketuhanan yang sejatinya adalah ketuhanan yang berkebudayaan. Ketuhanan yang diselenggarakan dengan cara-cara yang beradab, tidak menindas satu dan yang lain atas nama agama.
Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (sifat memahami pendapat orang lain), tentang menghormati agama-agama lain, Isa al Masih pun telah menunjukkan sifat itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini menyatakan dan mayakinkan bahwa konsep tersebutlah yang benar.
Pada dasarnya ketuhanan bukan hanya urusan manusia dengan Tuhannya. Namun, tidak kalah penting adalah pula urusan manusia dengan sesama manusia. Ketuhanan dan agama adalah jawaban untuk persoalan manusia di dunia, bukan hanya di akhirat.
Selain itu, prinsip ketuhanan selalu ada untuk mengajarkan bagaimana menyelamatkan kehidupan kaum tertindas. Singkat kata, esensi dari ketuhanan adalah menghentikan penindasan bukan justru melahirkan penindasan.
