https://media.timeout.com/images/103717091/image.jpg

Mohdi Mencari Rasa

Apakah kamu pernah mencium sesuatu yang membuat kamu mengingat sesuatu?

Semua orang pasti pernah merasakannya. Sejak kecil sampai beberapa detik sebelum mati. Sepertinya, hewan pun bisa merasakannya. Mohdi dulu mengingatnya, aroma keju terbakar, oven menyala dengan panas yang tinggi, bau keju yang memenuhi dapur. Aroma kue kastengel yang selalu dibuat oleh ibunya untuk menyambut perayaan hari-hari besar.

Mohdi dulu juga mengingatnya, masih teringat sampai sekarang, wangi yang sulit untuk ia lupakan. Dulu hampir setiap hari ia mencium aroma itu. Segar, terasa di hidung, sampai mengubah perasaan menjadi tentram. Iya, perempuan itu. Dara. Teman masa kuliahnya. Bisa dibilang teman dekat.

Tapi sekarang, makanan basi yang ada di depannya pun, Mohdi tidak dapat menciumnya. Sampah bau busuk bangkai tikus juga Mohdi sudah tidak dapat mengenalnya. Di usianya yang ke 30, Mohdi tinggal sendiri. Orang tuanya sudah meninggal, adiknya sudah dibawa lari kawin pendatang yang dulu datang ke desa. Di kota kecil ini ia tinggal, kembali ke desa pun untuk apa pikir Mohdi.

Terkadang ia merasa kesepian. Sesampainya di rumah sepulang kerja, Mohdi terdiam, duduk di sisi kasur memandangi langit-langit kamar. Kalau sudah lelah duduk, ia berbaring di kasur. Mengingat masa kecilnya yang bahagia, mengingat saat lulus SMA, sampai mengingat Dara teman masa kuliahnya sembari memasukan tangan ke celananya. Mengingat masa lalu itu memang dapat memberikan rasa bahagia ternyata. Mohdi senang sekali membuang waktunya berjam-jam setiap hari untuk itu.

Apakah kamu pernah merasakan sesuatu yang membuat kamu mengatakan “ah ini nikmat sekali?”

Setiap pagi, Mohdi selalu terlambat bangun. Kantor mempunyai kebijakan yang sangat ketat, telat 3 kali dalam sebulan, Mohdi tidak dapat bonus. Jadi, pagi hari adalah waktu Mohdi bergerak seperti kucing yang melompat karena disiram air. Cepat dan tak karuan. Reflek Mohdi memang bagus, tapi tetap saja, menabrak lemari, meja, sampai menjatuhkan vas bunga.

Sarapan pun entah apa yang ia makan. Roti basi, lemper yang ia beli kemarin siang di kantin kantor, sayur lodeh 2 hari yang lalu atau susu kemasan yang sudah dibuka sejak dua minggu lalu. Pokoknya, sarapan dulu yang penting.

Mohdi pikir, sudahlah, lidah juga tidak dapat merasakan apapun. Sudah setahun terakhir indera pengecap Mohdi kehilangan fungsinya. Seperti saklar lampu yang konslet. Mohdi yang Sarjana Elektro ini menggambarkan kabel-kabel listrik yang ada di lidah sudah mumet, mungkin putus jadi tidak tersambung ke otak. Cek ke Pakde Budiman juga sudah. Pakde Budiman itu dokter, salah satu keluarga Mohdi yang lumayan dekat. Pakde Budiman mengatakan memang sepertinya kamu terkena penyakit langka. Katanya, ini hanya terjadi pada 2 dari 5.000 orang di dunia. Si Pakde menjelaskannya seperti iklan shampoo di TV. 1 dari 10 orang pria memiliki permasalahan dengan ketombe.

Apa daya Mohdi iya saja, mau diobati dengan terapi juga terlalu mahal. Apa susahnya juga kalau hanya kehilangan dua indera.

Tapi kombinasi yang sempurna menurut Mohdi. Bagaimana mungkin aku tahu makanan basi atau tidak kalau hidung dan lidah sudah tidak berfungsi. Tapi, selama sistem imun berfungsi, Mohdi percaya dinding usus yang sudah dilatih sejak kecil ini, dilapisi teknologi alien. Bagaimana tidak, cilok, batagor, es warna-warni yang entah dari mana asal warna-warna menarik itu, macaroni pedas, semua hal yang tidak langsung membuat Mohdi kuliah sampai 10 tahun itu sudah dinikmatinya sejak TK. Tak pernah, dalam satu haripun, Mohdi diare. Mohdi pikir, kalau dinikmati pasti akan berjalan baik-baik saja.

Suatu hari, Mohdi berjalan di alun-alun kota. Malam itu alun-alun kota sangat ramai. Becak-becak dengan lampu warna-warni mengitari alun-alun. Becak-becak itu juga dilengkapi sound system yang memutar lagu dangdut koplo favorit pemilik becak. Bayangkan ramainya alun-alun. Mohdi memang lebih suka jalan sendiri, lagian sudah sedikit uang ia untuk bulan ini. Sudah tanggal 22, yang bikin tebal hanya KTP, SIM A dan SIM C. Sambil berjalan Mohdi mengingat penciumannya yang sudah konslet, kalau menginjak tai di alun-alun ini, ia pasti tak akan tahu. Tunggu saja lihat ekspresi orang-orang sekitar.

Mohdi duduk di sebuah warung yang menjual wedang ronde. Snack hangat andalan kalau udara sedang dingin, kebetulan memang saat ini sudah masuk musim hujan. Mohdi selalu suka wedang ronde ini. Bola berwarna putih yang seukuran bakso kecil adalah favoritnya. Walaupun bagian luarnya rasanya tawar saja, tapi dalamnya manis plus terdapat tekstur kacang yang sudah ditumbuk. Menariknya, kuah jahe yang hangat itu juga siap untuk melengkapi satu sendok wedang ronde. Pelan-pelan Mohdi memasukkan satu sendok wedang ronde ke mulutnya. Hangat kuah jahe langsung turun ke perut dan menyebar ke seluruh tubuh, serasa dipeluk selimut yang hangat. Tapi ada yang kurang, mana rasa manis bola berwarna putih itu, ah Mohdi baru ingat, lidahnya sudah konslet. Untung saja, saraf badannya yang lain tidak konslet pikirnya. Dia juga tidak tahu hangat atau dingin.

Sejenak Mohdi melihat sekeliling, memperhatikan apa yang orang lain lakukan malam itu di alun-alun. Mohdi melihat sosok yang familiar, sepertinya Mohdi mengenal orang itu. Setelah berputar-putar dalam pikirannya memikirkan siapa yang ia lihat, menggali memori-memori terdalamnya, untung saja Mohdi masih bisa mengakses memori terdalam otaknya, ternyata itu adalah Dara. Dengan sigap Mohdi menghampiri Dara.

Orang bijak pernah mengatakan setiap orang yang kita temui selalu mempunyai tujuan dalam hidup kita. Mohdi selalu percaya hal tersebut. Dara menyambut Mohdi dengan baik, mereka berbincang-bincang sebentar, menanyakan kabar, Mohdi ingat tujuan dalam hidup dalam bertemu orang. Tanpa mempunyai rasa malu, yang mungkin saat ini sudah konslet juga, Mohdi mengajak untuk bertemu Dara di lain waktu. Tak diduga, Dara mengiyakan ajakan Mohdi. Ah berputar-putar Mohdi malam itu di alun-alun. Mohdi berencana untuk bertemu Dara minggu depan, di alun-alun yang sama.

Pertemuan demi pertemuan sudah terjadi antara Mohdi dan Dara. Bertemu di alun-alun, di warung kopi, makan wedang ronde, melihat matahari terbenam, telah dilakukan. Mohdi sampai lupa, kalau sekarang ia juga sudah tidak bisa untuk merasa. Mohdi sudah tidak bisa membedakan kasar, halus, panas, dingin dan sakit yang mengenai kulitnya. Ternyata jatuh cinta bisa melupakan segalanya. Mohdi sampai saat ini belum membicarakan hal ini dengan Dara, kalau beberapa inderanya sudah tidak berfungsi. Tapi Mohdi juga tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Tiga inderanya yang sudah konslet itu tidak mempengaruhi hubungannya dengan Dara. Kalau Dara memberikan sayur lodeh buatannya, Mohdi masih tetap bilang enak. Tentu saja dia bilang enak agar Dara senang. Walaupun sebenarnya Mohdi juga tidak tahu apa rasanya.

Mohdi masih suka menatap langit-langit kamarnya setelah pulang kantor. Sekarang Mohdi lebih sering berpikir apakah ia akan kehilangan semua inderanya. Kemampuan fisik yang seharusnya dimiliki setiap manusia di dunia. Mohdi hanya berpikir dengan keras setiap hari sepulang dari kantor akan kondisinya. Tanpa menemukan solusi apapun. Mohdi tidak khawatir, tapi sepertinya ia takut.

Bersama Dara adalah waktu yang sangat dinanti-nanti oleh Mohdi. Tidak pernah ia menolak ajakan Dara untuk pergi menonton film bahkan menemaninya belanja di pasar. Mereka mempunyai restoran favorit yang sering didatangi. Restoran dengan spesialisasi masakan italia itu, restoran yang paling sering mereka datangi. Mohdi dapat menatap Dara berjam-jam tanpa berkata sedikit pun, Dara pun seperti itu. Kemudian mereka tersenyum, dan tertawa. Hari-hari bersama Dara adalah hari yang indah untuk Mohdi. Aduhai indahnya.

Mohdi selalu berpikir yang penting dalam kehidupan di dunia adalah hati yang baik. Setiap orang akan selalu melihat apa yang ada di dalam. Dara sangat mengetahui kebaikan hati Mohdi. Setiap hari, tak terlewatkan, mereka saling memikirkan satu sama lain. Pertanyaan “sudah makan belum?” yang dikirim melalui aplikasi chat dari telepon genggam setiap harinya adalah pertanyaan paling indah untuk Mohdi. Di setiap hari yang sibuk, walau hanya satu pertanyaan, itu dapat membuat Mohdi melayang-layang memikirkan indahnya menghabiskan waktu bersama Dara. Sepertinya otak dan perasaan Mohdi kali ini juga konslet. Konslet karena cinta Dara.

Apakah kamu masih ingat pernah mendengarkan orang berbicara dengan jelas?

Beberapa bulan terakhir, Mohdi sudah mulai kesulitan mendengarkan orang berbicara. Mohdi berkali-kali menjadi objek untuk dimarahi dari Bosnya di kantor. Maklum, Bos juga manusia. Ada hal-hal di luar kantor yang membuat mood-nya tidak baik, bisa mempengarhui mood-nya di kantor. Ditambah pendengaran Mohdi yang mulai berkurang, diberikan instruksi sekali tidak akan cukup. Mohdi selalu meminta untuk mengulang instruksi Bos. Suara Mohdi yang meminta mengulang instruksi jadi seperti suara sirene mobil polisi yang mencoba menerobos kemacetan kota. Konsisten, semakin lama semakin mendekat, pada saat sudah dekat, ingin sekali meneriaki mobil polisi itu. Tapi di sini, Mohdi yang diteriaki Bos.

Tidak butuh waktu lama juga untuk Dara kesulitan berkomunikasi dengan Mohdi. Mereka beberapa kali bertengkar karena salah paham, tapi Dara tidak mengerti, apa yang membuat mereka salah paham. Mohdi selalu berkata “hah”, “apa”, “Aku nggak ngerti” membuat Dara lelah. Mohdi merasa hubungan dengan Dara menjadi sedikit renggang. Sudah hampir tiga kali Dara menolak ajakan Mohdi untuk bertemu, bahkan diajak ke tempat restoran italia favorit pun Dara menolak. Mohdi merasa indahnya hari dapat hilang jika seperti ini terus. Mohdi berencana menceritakan kondisinya kepada Dara.

“Walaupun semua yang dapat kamu rasakan hilang secara perlahan, tapi kebaikan hatimu akan selalu ada. Aku bisa menerima itu.”

Mohdi lega, bahkan Dara membantu Mohdi membeli alat bantu dengar. Mohdi merasa sangat dicintai oleh seseorang. Komunikasi Dara dan Mohdi mulai membaik. Saat ini Dara sudah tahu kalau Mohdi hampir kehilangan seluruh inderanya. Bahkan Mohdi juga menceritakan apa yang dikatakan oleh Pakde Budiman, kalau keadaan ini hanya terjadi seperti di iklan shampoo. Dara tertawa pertama kali mendengarnya, tawa kecilnya itu yang dapat membuat Mohdi melupakan kondisinya untuk sejenak.

Mohdi baru saja ingat, sebaiknya ia mengunjungi Pakde Budiman. Sudah setahun terakhir ia tidak memeriksa kondisinya yang ternyata semakin memburuk. Pakde Budiman memeriksa Mohdi dengan seluruh ilmunya. Namun, Pakde Budiman hanya dapat mengatakan memang kondisi ini sangat langka. Kalau tidak salah, buyutnya Mohdi juga memiliki kondisi seperti ini. Tapi seingat Pakde Budiman, tak separah ini. Sepertinya ini karena keturunan. Pakde Budiman menyarankan untuk mempersiapkan hal yang terburuk.

Suatu hari Mohdi mengajak untuk bertemu Dara di restoran italia favorit mereka berdua. Seperti biasa Dara langsung mengiyakan ajakan Mohdi. Setelah hampir satu tahun bersama, Mohdi merasa Dara adalah orang yang tepat untuk diajak berkeluarga. Jika situasinya pas, Mohdi akan melamar Dara di restoran itu. Dara datang dengan baju merahnya yang melambai-lambai ke arah Mohdi, detak jantung Mohdi berteriak sekencang-kencangnya mengagetkan Mohdi. Untuk saja jantungya tidak konslet.

Mereka berbincang seperti biasa, tertawa, membicarakan masa depan dan harapan. Mohdi semakin mantap untuk melaksanakan rencananya. Mohdi izin sebentar untuk ke toilet. Tentu saja, Mohdi akan menatap cermin seperti di film-film Hollywood lalu berkata ke dirinya sendiri “You can do it”. Bahkan itu sudah menjadi rencana Mohdi.

Mohdi kembali dari toilet dengan tersenyum, cincin sudah tersimpan dengan baik di saku celana jeansnya. Mohdi sangat percaya diri untuk mengatakan, “Dara, nikah yuk” atau mungkin sebaiknya “Dara, will you marry me”. Mohdi melihat kursinya, tak ada Dara di situ. Mohdi bingung, tapi mungkin Dara juga ke toilet. Mohdi mendekat ke kursi dan mejanya. Ada satu kertas berwarna putih bertuliskan “Mohdi, aku sudah tidak bisa lanjut denganmu.”

Ah Mohdi….

Apakah kamu masih ingat, tulisan terakhir yang kamu lihat?