Detik yang Tak Berdetak.
Masih pada detik yang berputar,
Aku perlahan menjadi belukar,
Secangkir perasaan yang ingin bertahan,
Aku hanya minta untuk dikuatkan.
Kuamati dengan seksama, jarum jam yang terasa berdetak lama. Kubuka telepon pintar, sekadar melihat jam yang terpampang di muka layar, menunjukkan angka menit yang kian lama berganti. Ketahuilah, saat ini aku menunggu sepotong balas pesanmu.
Dari sekian harap yang pernah ku tatap, hanya balas darimu yang membuatku terus menetap di ruang penantian. Dari sekian banyak harap yang akhirnya ku gugurkan, hanya ada satu yang tetap ku tahan, ialah rasa yang sama untuk saling berbalas kasih.
Namun, sampai detik ini aku hanya bisa berjuang. Memastikan bahwa rencana membuat rasa itu sama, berjalan dengan baik-baik saja. Memastikan bahwa namaku selalu tersebut dalam kalimat doa yang selalu kamu Amin-kan.
Akan tetapi, sudah jam kesekian, masih saja berkutat pada harap yang tak kunjung berakhir. Detik yang kuamati lamat-lamat, seakan terhenti di persimpangan keraguan. Membuatku bertanya-tanya, apakah perjalanan untuk mendapatkan, masih layak diperjuangkan?
Pada akhirnya, aku percaya, bahwa Tuhan telah merencanakan masa depan terbaik dengan segala skenario untuk kehidupan setiap insan. Bahwa dengan (masih) memperjuangkanmu, semua rasa yang mungkin belum terbalas, kelak akan terjun bebas ke hamparan asa yang menjadi nyata.
Jika memang tidak, aku hanya berharap segelas semoga untuk bisa dikuatkan.
