Kids zaman 'DULU'

Perkembangan teknologi terjadi begitu cepat seiring dengan pergantian zaman. Diluar sana, orang-orang berpacu untuk menjadi pioneer perubahaan. Ini adalah suatu hal yang sifatnya sekuensial dan linear, ketika setiap manusia harus terklasifikan berdasarkan periode teknologi yang berkembang saat itu. Ada yang hidup di zaman gamebot, sebuah device yang fenomenal ketika itu, bahkan ibarat android kalau dikaitkan dengan zaman sekarang, selalu dibawa kemana-mana.

Nah, itu yang saya rasakan di zaman dahulu kala. Ketika harus rela-relaan menyisihkan setiap receh uang saku tiap hari, menabung demi bisa membeli barang yang antik ini.

Tamagochi, sebuah device yang masih memiliki graphic design sederhana. Pixelnya masih keliatan dan belum ada warna macam-macam. Ya, masih satu spesies lah dengan game bot.

Kejayaan masa kecil. Game ini adalah tentang bagaimana kita merawat dan membesarkan seekor peliharaan maya. Kemana-mana, dan selalu berusaha mengingat, Ini sudah dikasih makan belum? Luar biasa, sikap kepedulian dan manajemen waktu seorang anak kecil dilatih saat itu.

Bak android untuk kids zaman now, nah, begitu pula halnya dengan Tamagochi di zamannya, popularitas pemakaiannya sangat tinggi.

Bahkan, sepertinya game ini adalah game device yang muncul di awal peradaban teknologi. Yang tampil sederhana apa adanya. Dan kemungkinan juga menjadi cikal bakal anak-anak ketika itu tertarik dengan permainan dari teknologi, yang kemudian seiring pergantian waktu, mereka memutuskan hijrah ke playstation, dengan graphic yang sudah berwarna dan detail.

Menarik untuk menarik mundur lagi waktu dari kecil. Ternyata kehidupan manusia terus terjajah oleh teknologi. Bahkan sampai sekarang pun, sebagian anak muda sudah masuk ke fase game dota dan mobile legend, dengan susunan graphic yang terlihat semakin nyata. Tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana kelanjutan cerita tentang kreativitas tersebut. Sekarang juga bahkan mulai banyak bermunculan game dengan mode VR. Sehingga semakin memanjakan consumers, dan menjadikan seolah-olah mereka ada dan langsung berinteraksi dengan game tersebut.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.