Akar

Diatas tebing, dihadapan laut
Otak melepas belenggu akal
Jasad kaku membungkus
Cahaya redup di dalam
Batang pohon kian tinggi
Merunduk menatap akar
Tiada dapat muncul
Dari ketiadaan
Hidup adalah tarian
Gerakan adalah doa
Kita bersama selalu
Kita bersama selalu
Ini tentang sebuah makhluk yang sedang terbelenggu misteri di dunia tempat ia terlahir sebagai sesuatu yang disebut manusia.
Baginya apa yang ia sentuh, ia lihat, ia hirup, ia rasa, tidak lagi dapat ia percaya sepenuhnya.
“Semua ini bisa saja persepsi pikiranku. Mungkinkah ini semua nyata?”
“apakah bunga itu pantas disebut bunga? apakah burung itu pantas disebut burung? apakah aku pantas disebut manusia?”
“apa yang benar-benar membuatku hidup? apa itu rasa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak sepatutnya Ia lontarkan jika memang Ia tidak mau depresi. Bisa saja Ia hanya bergerak mengikuti konsep hidup manusia pada umumnya. Tak perlulah dia ambil pusing hal awang seperti itu. Orang lain yang Ia asal tanyapun menganggapnya tolol.
Ia semakin pusing ketika sebuah pertanyaan kembali muncul dalam pikirannya.
“Darimana semua ini berasal? Adakah zat utama yang menjadi biang bagi semua yang ada di semesta ini?”
Lalu Ia menyadari, pun hidup yang diberikan dirinya akan ada habisnya. Ia tidak dapat merasakan hidup tanpa menyadari bahwa Ia nantinya harus mati. Namun, mustahil juga bila Ia menyadari bahwa Ia harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup itu.
Ia berkaca pada pantulan dirinya di sebuah cermin. Ia bingung, bagaimana bisa cermin itu memberikan gambaran dunia di sebrangnya? atau jangan-jangan Ia dibohongi lagi oleh cermin itu? Ia menyentuh wajah, pundak dan lengannya. Benda yang Ia sentuh itu adalah tubuhnya. Yang perlahan berkembang dimulai dari saat sperma ayahnya masuk ke sel telur ibunya. Tapi…bagaimana bisa?
Lalu Ia tau, Ia tidak hanya sebatas tubuh itu. Tubuh itu hanya pagar tinggi yang melindungi alam lain dibaliknya.
“Ayo sebut, siapa sebenarnya kau!?”
Tentu tidak akan ada jawaban.
Sebenarnya itu pertanyaan retoris karena Ia tahu siapa itu. Yang selama ini selalu bersama pikiran dan tubuhnya. Satu zat yang dengan enaknya selalu merasa damai, padahal pikiran dan tubuhnya sering berbeda pendapat.
Ia sadar, Dia ada. Tapi Ia sering membiarkannya begitu saja. Sampai akhirnya tidak lagi muncul dalam pikirannya. Saat itulah Ia merasa tubuhnya hanya peti mati tanpa jasad. Entah kemana perginya.
“pernahkah kamu coba untuk kembali? kembali bertanya untuk apa kamu di sini?”
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan untuk lahir saja Ia tidak tahu kenapa harus menjadi Ia. Kalau benar pada akhirnya Ia mati, hanya jasadnya saja bukan? Apakah Dia akan mati? Kalau jasad mati kembali menjadi unsur bumi, bagaimana dengan Dia? jadi apakah Dia setelah mati? Kemana perginya?
Akhirnya pikiran-pikiran itu mempengaruhi tubuhnya. Bergetar tubunya dibuat mereka.
“Lihat siapa tuan di sini! Aku tidak akan kalah!” serunya
Ia sadar, tidak mungkin Ia bisa menghentikan datangnya pikiran-pikiran itu. Entah darimanapun asalnya Ia bingung. Ia hanya perlu mengambil waktu 15 menit untuk berdiam diri di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar menghadap langit, lalu mulai membuka pintu-pintu dalam otaknya. Membiarkan semua keluar dan berlarian bebas.
Tapi Ia tau,
Satu yang Ia tidak akan pernah pergi dari pintu-pintu itu.
Satu yang akan selalu bersamanya.
Satu yang kekal.
Ia kembali berdiri di depan cermin. Matanya menatap lekat pada bayangan di depannya.
“Kau!”