Jeda

Maukah kau

Berhenti sejenak

Melihat gemulai daun yang berdansa

Menari bebas tanpa teman

Maukah kau

Berhenti sejenak

Melihat gesa langkah kaki manusia

Di atas paluh air

Maukah kau

Berhenti sejenak

Melihat langit kelabu yang menunggu

Untuk kembali membiru

Hujan datang menyampaikan kabar

Tentang rindu langit pada bumi

Hujan datang menyapa kalbu

Yang membisu terbalut sendu

Hujan datang membawa jeda

Untuk dapat kita nikmati bersama


Lahir

Berpendidikan

Bekerja

Berpasangan

Berkembang biak

Mati

Aku sendiri sudah sampai di tahap pertengahan. Dimana tahap sekarang dan tahap sebelumnya dapat di rekayasa diri sendiri dan orang tua sebagai bahan bakar utamanya, sedangkan dua tahap setelahnya melibatkan waktu untuk dapat kita bertemu dengan mereka.

Selama proses itu, terjadi banyak hal didalam maupun diluar nalar, yang direncanakan maupun kejutan, suka dan duka.

Namun aku ini seperti marionette. Kita. Hidup kita seakan bergerak tanpa arah, padahal Sang Marionettis lah yang menggerakan benang-benangnya. Tahap-tahap yang terjadi antara lahir dan mati besifat moderat. Namun lahir dan mati adalah absolut. Mutlak. Jarak antara mereka tidak ada yang bisa memastikannya. Bisa saja mati hadir diantara tahapan-tahapan yang sedang kita konstruksikan.

Terkadang Sang Marionettis juga dapat mengendurkan benang-benangnya. Mengizinkan kita untuk melihat area diluar panggung. Melihat dunia yang terjadi selagi kita berusaha untuk menghibur penonton pertunjukkan kita sendiri. Di saat itu arti kehidupan sebenarnya mungkin mulai dapat diterka. Hal-hal kecil yang hampir selalu kita hiraukan. Ayolah….aku percaya Dia tidak seserius itu ketika menciptakan dunia dalam 7 hari. Dia juga punya rasa humor yang tinggi. Kita diperbolehkan untuk tertawa dalam humor-Nya.

Jadi nikmatilah humor-Nya disaat Dia mengendurkan benang-benang yang ia tancapkan di kelima indera kita. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan lucu yang kita tidak perlu tau jawabannya.

Kenapa matahari dan bulan harus selalu bertukar kedudukan?

Kenapa angin yang tidak terlihat dapat menerbangkan debu hingga menjatuhkan sebuah pohon?

Kenapa sebagian manusia yang sudah didebukan dibuang ke laut? Apa karena air adalah pulang sesungguhnya? Seperti kembali ke rahim ibu?

Kenapa cinta dihadirkan diantara dua manusia? Ada pula yang dihadirkan bukan diantara.

Kenapa rindu diciptakan padahal kita tau rasanya sakit ketika dicambuki rasa itu?

Kenapa di kota waktu terasa sangat singkat? Berbeda dengan desa yang terasa matahari bersinar lebih lama.

Kemanakah jiwa yang selama ini berlalu lalang di bumi ketika tubuhnya tidak lagi bisa memberikan rumah bagi jiwa itu sendiri?

Tapi hati -hati, pertanyaan-pertanyaan itu bisa saja memberi jawaban yang irasional bahkan membuat “gila”. Biarkan itu semua menjadi semu. Terkadang kita hanya dituntut untuk menikmatinya diantara jeda.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.