Saat Bencana Alam Mengubah Sudut Pandang

“Nature itself is the best Psysician" — Hippocrates

Tanggal 22 Desember 2018 yang lalu telah terjadi tsunami di Selat Sunda yang disebabkan oleh meletusnya Anak Krakatau. Tsunami ini menghantam beberapa area di pesisir pantai Banten dan Lampung. Waktu saya mendengarnya saya sedang di kereta dalam perjalanan menuju Jogja. Itupun saya melihatnya dari tautan yang ditautkan dibeberapa jejaring sosial yang saya punya. Ketika itu Papa menunjukkan video bagaimana Tsunami menghancurkan konser band Seventeen yang mengakibatkan seluruh personilnya meninggal kecuali sang vokalis. Tsunami juga mengakibatkan 426 orang meninggal dan banyak bangunan di pesisir pantai hancur. Ini bukan bencana sepele, pikirku. Lagipula tidak ada bencana yang sepele sih.

Sepulangnya dari Jogja, keesokannya saya berangkat kerja seperti biasa. Sebelum memulai kerja saya buka Instagram untuk scroll-scroll gak penting. Lalu salah satu komunitas yang saya ikuti membuat tautan tentang ajakan untuk menjadi sukarelawan di Banten dengan agenda trauma healing bagi anak-anak korban Tsunami. Tautan mereka menarik perhatian saya. Apalagi saya yang sedang gundah gulana (huahahaha) saat itu butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran saya agar dapat kembali ke kenyataan. Setelah saya mantap untuk ikut, saya izin ke orang tua dan sahabat-sahabat saya. Mereka tentu khawatir mengingat kondisi Anak Krakatau sedang dalam level Waspada saat itu, tapi saya beri alasan yang kuat kenapa saya mau ke sana dan merekapun akhirnya setuju asal saya berhati-hati.

Keberangkatan tanggal 29 Desember 2018. Sehari sebelumnya saya iseng membuat Instagram Story dan Whatsapp Status untuk bertanya apa ada yang mau menitipkan bantuan. Saya kira mungkin ada segelintir orang yang mau. Tak dinyana, ternyata bantuan uang terkumpul sampai 1,5 juta plus satu dus baju. ‘Ini uangnya mau saya kasih siapa???’ Pikir saya saat itu. Lalu saya habiskan saja dengan membeli kebutuhan-kebutuhan yang paling utama seperti perlengkapan bayi, obat-obatan dan masker. Lalu tersadar ternyata banyak juga…. bawanya gimana ini? T_T

Serepot urusannya apapun itu, pasti ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Saya lihat di grup yang dibuat oleh panitia. Pendiri komunitas mengajak 4 orang yang mau berangkat bareng naik mobilnya. Saya langsung jawab dong! hahaha. Alhamdulillah bisa ikut mobilnya. Tadinya saya mikir saya akan bawa belanjaan yang terkemas dalam 3 dus besar ini naik bus yang saya sendiri belum tau bus apa, berangkat dari mana hahaha. Ada kepuasan tersendiri saat melakukannya. Dari mulai membuat tautan sederhana, lalu chat personal dengan teman-teman yang mau nitip sampai membelanjakannya semua. Bahagia itu memang dimulai dari hal sederhana yang kita lakukan pakai hati hehe. Saya sangat berterima kasih pada setiap teman-teman yang mau mempercayai saya untuk menyalurkan amanah mereka. Sayapun merasa jadi lebih berguna dan memiliki peran dalam bencana ini walau kecil.

Keesokannya kami sampai di Labuan, Banten, saat petang. Saya kira awalnya suasana akan terlihat mencekam. Jalanan ramai dangan mobil-mobil yang mengangkut bantuan. Beberapa bangunan di pinggir jalan dijadikan tempat pengungsian. Toko-toko juga buka. Ternyata cukup normal.

Kami tinggal di rumah keluarga Pak Emi. Pak Emi adalah guru agama di salah satu sekolah di sana. Beliau bercerita saat Tsunami terjadi, beliau sedang berdakwah disebuah acara yang diselenggarakan di dekat pantai. Saat itu air laut tiba-tiba naik sampai betis dan semua orang berlari. Beliau yang panik pergi ke arah dataran tinggi dan alhamdulillah selamat. Bantuan yang saya bawa saya taruh di posko. Saya lihat bantuan yang terkumpul di posko sangat banyak, apalagi baju-bajunya. Beberapa warga sudah mengantri untuk mendapatkan bantuan.

Pada hari Minggu, 29 Desember, saya, panitia dan sukarelawan lainnya memulai agenda pukul 8. Kami menghibur anak di salah satu sekolah dekat tempat tinggal kami. Orang tua juga banyak yang ikut berkumpul. Kami mengajak anak-anak untuk bernyanyi, mewarnai dan bermain. Kepolosan wajah anak-anak di sana tidak menampakkan kesedihan atau ketakutan. Mereka menjalani harinya seperti biasa. Kecuali para orang tua yang masih takut untuk pergi ke pinggir pantai dan takut akan bencana susulan.

Setelah acara trauma healing selesai, kami makan siang dan bersiap-siap untuk pulang. Agenda yang tidak lama dan kurang variatif itu membuat saya merasa agak bosan. Bukan itu tujuan saya sebenarnya ke sana. Lalu saya putuskan untuk tidak ikut pulang bersama mereka hari itu dan tinggal 2 malam lagi. Kepergian tim saya diikuti oleh kepergian beberapa perkumpulan lain. Posko yang tadinya ramai menjadi sepi. Karena tidak ada lagi yang memilah bantuan yang terkumpul, saya diminta salah satu perwakilan dari komunitas yang saya ikuti untuk membantu memisahkan dan menyatukan bantuan sehingga memudahkan mereka saat akan menyalurkannya ke warga. Proses itu menghabiskan waktu 6 jam dan masih bantuan yang terkumpul masih banyak. Saya pesimis bisa menghabiskannya. Beruntung saya dibantu oleh teman-teman cilik saya (anak-anak pak Emi dan teman-temannya). Dengan perintah mudah dan ajakan yang menyenangkan, mereka mau membantu saya. Memang sih saya sogok mereka dengan es krim diawal, tapi setidaknya mereka jadi lebih semangat. Mereka bisa belajar untuk bisa membantu teman yang sedang kesulitan dengan hal sederhana. Mereka juga belajar kerja sama saat memilah-milah bantuan. Uniknya anak-anak, apapun yang mereka kerjakan dianggap bermain. Jadi mereka senang, saya juga senang karena terbantu hehehe. Semoga ini bukan contoh eksploitasi anak ya…

Malamnya saya ikut blusukan ke area terpencil untuk menyalurkan bantuan yang sudah dipilah tadi. Areanya benar-benar terpencil! Mobil sedan yang kami tumpangi hampir tidak mampu melewati jalannya yang kecil, berlumpur dan gelap. Sampai di salah satu kampung, kami berkumpil di Surau. Setelah bicara dengan pimpinan kampung, kami memberikan satu persatu kantong plastik bantuan sesuai daftar nama kepala keluarga yang ada.

Setelah penyaluran bantuan selesai, pak Emi dan panitia yang tersisa mengajak saya untuk pergi ke salah satu teluk yang juga terkena Tsunami. Pemandangannya cukup mistis. Dinding-dinding yang hancur sebagian, sisa-sisa gerobak makanan yang sudah hancur, lampu kuning jalan yang sebagian mati sebagia masih menyala, debur ombak yang besar, angin laut yang kencang ditambah bau mayat yang masih tersisa membuat energi tubuhku sedikit terganggu, seperti dikuras. Saya tidak berani ambil gambar. Kita tidak berlama-lama di sana. Malam itu sekitar pukul 00.30, kami tutup dengan makan nasi uduk favorit pak Emi.

Tanggal 31 Desember hujan satu hari penuh. Dengan sisa tenaga, saya mulai membantu memilah donasi kembali di posko sejak pagi. Kegiatan sehari sebelumnya membuat tubuh saya cukup kelelahan, ditambah tidur saya yang kurang. Kali ini anak-anak tidak membantu. Hanya ada saya Teh Eni (anak pemilik rumah yang dijadikan posko) dan beberapa ibu-ibu yang masih keluarga Teh Eni. Siangnya saya pulang untuk istirahat. Anak-anak berkumpul di rumah pak Emi. Mereka meminta saya untuk bermain bersama mereka. Saya ajak mereka mewarnai dan bercerita. Setelah bermain bersama mereka, saya izin untuk kembali ke posko. Mereka meminta saya menunggu sebentar, lalu tiba-tiba mereka mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado. Mereka bilang itu kenang-kenangan untuk saya. Duh terharu! Ini yang membuat saya menyukai anak-anak. Kepolosan dan ketulusan mereka mengajarkan saya banyak hal.

Malamnya saya tidak bisa ikut untuk blusukan. Hujan masih mengguyur Labuan. Berita tentang banjir di Labuan mulai bermunculan. Namun karena permintaan tolong warga, pak Emi dan teman-teman tetap menyalurkan bantuan. Saya hanya bisa berdoa dari rumah. Anak-anak sudah tidur, begitu juga istri pak Emi. Malam itu seharusnya saya mendengar suara kembang api sambil memakan ikan bakar dengan keluarga dan tetangga di rumah, tapi kali itu saya merayakan dengan diri saya sendiri dan hujan di Kota asing, tanpa orang yang benar-benar saya kenal. Saya mencoba berdamai dengan pikiran yang sedang berusaha saya bunuh saat itu, lalu saya tidur bersama anak-anak.

Tanggal 1 Januari pagi saya bersiap-siap pulang. Sehari sebelumnya saya diajak untuk ikut ke Tanjung Lesung untuk membawa bantuan ke sana. Setelah kembali memilah yang dibantu Teh Eni, kami berangkat pukul 8 pagi. Saya pergi bersama 3 orang pria perwakilan komunitas yang sebenarnya saya tidak tau namanya siapa sampai sekarang haha.

Suasana perjalanan ke Tanjung Lesung jauh berbeda dengan Labuan. Tidak ada angkutan umum, jalan yang lebar dan bangunan di sisi jalan tidak sepadat di Labuan. Memasuki area pinggir pantai, barulah terlihat kehancuran area-area yang terkena Tsunami dengan jelas. Teringat beberapa tahun lalu saya ke salah satu tempat wisata di sana, areanya pun sudah berantakan. Pohon-pohon tumbang, atap rumah menyentuh tanah, sisa kendaraan yang sudah hancur. Area-area yang hancur mayoritas adalah area yang didirikan bangunan sedangkan area yang masih ditanami tanaman kebun dan pepohonan padat masih baik-baik saja. Sebagus apapun bangunan didesain, sekuat apapun struktur yang diperhitungkan, sebaik apapun material yang dipakai, buatan manusia akan tetap kalah dengan alam.

Kami sampai di Kampung Kelapa Koneng. Kampung ini adalah kampung yang terdekat dengan bibir pantai. Jarak rumah terdekat hanya sekitar -/+ 100 meter. Kehancuran jelas terlihat di sana. Salah seorang warga bercerita ketika Tsunami datang, beliau serta suami dan anak-anaknya hendak istirahat (kejadian sekitar pukul 21.30). Saat itu anaknya berseru untuk menyuruh orang tuanya lari ke gunung karena air laut datang. Ibu dan suaminya berhasil selamat, walaupun sang suami sempat terbawa air laut dulu sampai persawahan di depan rumah mereka. Saya tidak dapat membayangkan pemandangan yang terlihat saat kejadian karena terlalu mengerikan bagi saya.

Sebelum pulang, kami mampir ke dapur umum. Tampak ibu-ibu yang sedang memasak dibantu beberapa anak perempuan mereka. Saat itu menunya adalah tempe goreng dan tumis kacang panjang. Ada yang memasak lauk, menanak nasi, membungkus makanan dan menyiapkan bahan-bahan. Mereka terlihat masih bersemangat melakukan itu semua. Salah satu ibu di sana bilang,

“Namanya juga cobaan, pasti berat. Kita di sini gak punya apa-apa, semua kan milik Yang Maha kuasa. Yang penting jangan kelamaan sedihnya, harus tetap semangat dan membantu saudara sesama yang kesusahan. Syukur saya masih bisa masak sekarang.”

Saya seperti tersindir! hahaha. Pesan itu seperti ditujukan untuk kegundahan yang sedang saya alami saat itu. Saya banyak mengeluh dan sedih untuk hal yang sudah berlalu. Sedangkan di kenyataan yang ada di depan mata, tidak begitu saya hiraukan. Padahal banyak yang jauh lebih penting untuk dilakukan dan disyukuri nikmatnya.

Setiap perjalanan yang saya lakukan pasti memiliki artinya tersendiri, dan ini adalah pesan dari semesta yang bisa saya serap: bahwa sesulit apapun keadaan saya, banyak yang jauh lebih menderita. Mereka tidak patah arang, mereka tidak dirundung kesedihan yang berlarut, mereka lawan ego mereka dan memilih untuk tetap melangkah. Karena yang bisa membuat seseorang keluar dari penderitaan adalah dirinya sendiri.

Dari Tenjung Lesung saya diantar menuju terminal Labuan. Sayapun kembali ke Jakarta dengan menaiki bus Labuan-Kalideres selama 4 jam. Tangisan anak bayi di sebelah saya mengiringi perjalanan, udara masuk dari jendela membuat saya mengantuk. Saya pasang album Woh oleh Sisir Tanah sambil memandangi keerotisan Gunung Karang yang diselimuti kabut dari balik jendela. Lalu saya tertidur.