Teman, Bacalah Kalau Sempat

“Ditinggalkan” bukan lagi kata yang asing bagiku. Sudah berkali-kali aku mengucapkan kata-kata yang semua orang benci. Selamat tinggal.

Mungkin diri ini menganggapnya terlalu jauh. “kamu masih bisa bertemu lagi di lain hari” “kamu bisa tanya kabarnya lewat media sosial” “kamu bisa video call kalau mau ketemu”. Yaa memang perpisahan di zaman sekarang tidak semenyakitkan ketika nenek saya dulu ditinggal oleh orang-orang terkasihnya (Ditinggal di sini bukan membicarakan tentang kematian). Media sosial mendekatkan yang jauh, mereka bilang. Tentu saja aku bisa melakukan itu semua.

Hanya saja, yang sudah-sudah bukan komunikasi saja yang pelan-pelan hilang, tapi juga bayang mereka yang benar-benar pergi. Bahkan beberapa perpisahan itu membuatku bingung, apa benar dulu ikatan antara kita sekuat itu? Bahkan sekarang, suka atau dukanya saja aku tidak tahu menahu lagi.

Mungkin diri ini terlalu berlarut pada keadaan. Padahal yang mereka lakukan hanyalah menjalani apa yang sudah menjadi bagian mereka. Karena mereka punya perannya sendiri di dunia mereka masing-masing. Sedangkan di duniaku, mereka hanya para “peran pembantu” dan aku pemeran utamanya. Begitupun sebaliknya. Itu berarti memang tidak selamanya mereka dan aku akan ada di skenario masing-masing cerita.

Tiap kali waktu itu tiba, logika meneriaki hati ini. Biarlah mereka terbang, mengepakkan sayap mereka. Bahkan burung-burungpun tidak seharusnya di masukkan dalam sangkar. Mimpiku adalah mimpiku. Mimpinya adalah mimpinya. Kalau memang ada waktunya jalan kita bersinggungan, maka pertemuan tidak akan mungkin terelakkan.


Temanku, aku berterimakasih pada Sang Pemilik waktu atas pertemuan dan kebersamaan yang pernah kita jalani. Hati ini boleh saja kecewa karena jalan kita tidak bertemu untuk waktu yang lama, tapi aku tahu kamu sedang melakukan hal-hal menakjubkan di luar sana.
Setiap kali aku melihat gambar mu muncul di layarku, rasa senang muncul ketika melihat wajahmu tersenyum. Sangat banyak wajah yang kamu munculkan yang aku tidak kenal, kuharap bersama mereka kamu bisa berbagi senang dan susahmu seperti yang kita lakukan dulu.
Bila suatu hari nanti cahaya di hidupmu mulai meredup, mungkin aku bisa memberikan lilinku. Mungkin akan terasa sedikit aneh karena sudah lama kita tidak bertukar cerita, tapi anggaplah waktu yang terbuang tidak pernah ada. Diri ini tetap seperti yang kamu kenal dulu.
Aku tidak sabar ketika saatnya jalan kita bertemu lagi nanti. Saat kamu sudah menjadi cahaya di duniamu sendiri bahkan di dunia orang lain. Biarlah orang lain merasakan kehangatan senyummu seperti yang aku rasakan kemarin. Jika ada bayangku sedikit terbesit dibenakmu, kamu tahu harus kemana.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.