Aplikasi dan Bisnis Games Jadi Unggulan di Malang

Aplikasi dan pengembangan permainan atau games ditetapkan sebagai subsektor ekonomi kreatif unggulan di Malang.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman resmi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kamis (6/7/2017), penetapan tersebut dilakukan Deputi Infrastruktur Bekraf melalui program penilaian mandiri kabupaten/kota kreatif Indonesia (PMK3I).

Berdasarkan analisis dan pengamatan parameter dasar, sesuai ketentuan dalam pedoman PMK3I, Kota Malang telah menetapkan 3 subsektor unggulan yang dipilih yaitu kuliner (ragam olahan keripik); aplikasi dan games; serta film, animasi dan video.

Adapun, kegiatan uji petik dilakukan dengan cara verifikasi lapangan, mengunjungi beberapa pelaku kreatif yang bergerak di ketiga subsektor ekonomi kreatif unggulan tersebut. Setelah melakukan uji petik, maka didapatlah satu subsektor yang ditetapkan yakni aplikasi dan games.

Hasil penilaian menunjukan kekuatan yang nyaris setara antara subsektor unggulan satu dengan lainnya. Uji petik atas kondisi dan potensi ekosistem yang diajukan menunjukan kekuatan terbesar pada subsektor aplikasi dan games.

Beberapa penjelasannya yakni, pertama, subsektor ini telah tumbuh dan berkembang sejak 2011 dengan latar belakang karakter basic knowledge tentang industri teknologi informasi.

Pelaku yang berada di wilayah Malang mencakup pelaku komunitas, akademisi, pengusaha, SKPD pemerintah. Proses kreatif yang dilakukan mencakup kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, konservasi.

Kedua, kinerja subsektor aplikasi dan games hingga saat ini mencakup lebih dari 2.200 pelaku, 6 komunitas, 96 pengusaha, 4.800 lulusan akademik. Adapun, kegiatan tahunannya mencakup skala nasional dan operasi bisnis berskala internasional.

Diperkirakan jumlah tenaga kerja yang terserap saat ini 2.200 dengan perkiraan pertumbuhan sebesar 20% per tahun.

Secara ekonomi, sektor ini memiliki indikasi forward linkage pada kegiatan bisnis yang menarik subsektor unggulan lainnya meliputi kuliner dan animasi, film dan video. Ada pula backward linkage-nya pada penyerapan tenaga kerja terampil dan terdidik dari universitas maupun sekolah kejuruan.


Like what you read? Give Fahmi Idris a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.