Seni dalam Bersikap “Bodoh Amat”

Fahmi Mubarak
Jul 17, 2019 · 3 min read

Seni #1 : Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda.

Orang yang masa bodoh itu sebenarnya terlalu peduli. Mereka adalah orang — orang yang takut menerima dirinya sendiri dan lebih sering terganggu dengan perkataan orang lain dalam berbagai hal yang melekat pada dirinya, sehingga akan berusaha sebaik mungkin menampilkan sosok yang istimewa.

Ibu saya baru saja ditipu teman dekatnya dan kehilangan uang dalam jumlah banyak. Jika saya acuh tak acuh, saya akan mengangkat bahu dan hanya menyeruput kopi. Maaf, Bu. Tapi, bukan itu yang saya lakukan. Saya geram, Saya naik pitam. Saya Berkata, ‘Dasar keparat kurang ajar! Lihat saja, Bu. Kita cari pengacara biar keparat itu merasakan akibatnya! Tahu mengapa? Karena saya sama sekali tidak peduli. Saya akan hancurkan sekalian hidup laki-laki itu jika memang perlu.

Itulah poin dari seni masa bodoh yang pertama ini. Bukan untuk bersikap masa bodoh tentang segala hal; masa bodoh itu tidak peduli atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi untuk mencapai tujuannya. That’s the point !

Dia tidak ambil pusing terhadap orang orang yang geram saat ia melakukan sesuatu yang dirasa benar atau penting atau mulia.

Seni #2 : Untuk bisa mengatakan “bodo amat” pada kesulitan. Pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.

Sebagai orang Indonesia yang kepo, kita sudah berada di lingkungan yang ingin tau segalanya. Jadi secara tidak sadar, kita sudah memberikan kepedulian kita kepada hal yang tidak penting. Sering sekali kepedulian remeh ini memunculkan rasa tidak aman atau khawatir yang berlebihan, yang pada puncak nya kita akan merasa kesulitan melakukan apapun.

Perhatian kita telah dicuri oleh hal hal yang remeh tersebut, sehingga kita lupa atau bahkan tidak punya sesuatu yang penting yang harus dilakukan. Sehingga poin dari seni kedua ini adalah kita harus menemukan atau memilih sesuatu yang penting dan layak mendapatkan perhatian kita. Move on!

Karena jika anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatianmu akan tercurah untuk hal — hal yang tanpa makna.

Seni #3 : Entah kita sadari atau tidak, kita selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan.

Seperti penjelasan di atas, orang Indonesia itu memang kepo. Kita sejatinya tidak bisa untuk tidak peduli. Bahkan orang-orang tidak dilahirkan dalam keadaan tanpa kepedulian. Ya, dari kecil sampai dewasa, manusia selalu peduli pada apapun.

Peduli pada hal-hal remeh itu tidak memberikan pengaruh positif dalam hidup kita. Semakin dewasa, kita mulai sadar bahwa sebagian hal tersebut hanya berdampak kecil dalam hidup dan tidak lagi diperhitungkan. Sehingga saat kita memasuki usia paruh baya, meskipun sudah renta dan energi berkurang, namun kita sudah yakin pada identitas diri kita dan mulai menjalani hidup apa adanya serta menerimanya.

Hidup terus berjalan. Jadi, sekarang ini kita bisa menyisihkan perhatian kita yang semakin berkurang untuk hal hal yang benar benar layak dalam kehidupan kita: misalnya keluarga kita, dan teman-teman terbaik kita.

Tiap bagian dari buku ini mengubah sudut pandang kita tentang kepedulian, yang dari lahir sudah ada dalam diri kita. Sehingga kita dapat mengendalikan, membatasi, kepedulian kita, serta memilih hal-hal penting saja yang harus dipedulikan.

Jangan baperan! Buku ini tidak seperti buku pengembangan diri lainnya, dengan kata-kata positif, semangat, dan membangun. Jangan harap. Saat membuka bab pertama, kita akan dikejutkan digejolakkan dengan pernyataan ini:

JANGAN BERUSAHA

Poin menarik lainnya, Mark menjelaskan beberapa nilai umum yang sangat buruk bagi kita, yaitu : (1.) Kenikmatan, (2.) Kesuksesan Material, (3.) Selalu Benar, (4.) Tetap positif. Sikap-sikap positif ini justru membawa keburukan bagi hidup kita, karena justru merupakan bentuk penghindaran terhadap masalah, dan tidak membuat masalah itu selesai.

Akhir kata, Buku ini cocok bagi yang menyukai buku self-improvement dengan penyampaian yang asal njeplak, tidak manis-manis, dan menusuk. Sangat disarankan bagi beberapa orang yang ingin segera bangun dari mimpi yang indah dan orang yang ingin bangkit dari keadaan paling terpuruknya. Buku ini adalah obat yang manjur.

Kunci untuk kehidupan yang baik, bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar, mendesak, dan penting. -Mark Manson

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade