Inalilahi

Inalilahi wainalilahi rojiun, kalimat dalam agama yang saya anut selalu mengingatkan bahwa semua di dunia ini milik Tuhan. Kata itu saya ucapkan tepatnya rabu malam ketika saya baru saja pulang kantor. Ada apa dan kenapa kata tersebut keluar dari mulut saya? seperti ini ceritanya.

Sudah beberapa bulan, seorang saudara saya menderita sakit. Uwa, adalah panggilan saya ke beliau. Entah saya harus memanggil beliau apa dan menjelaskan beliau di silsilah keluarga saya yang rumit ini. Yang jelas Uwa merawat ibu saya bahkan juga saya sampai saya kuliah dan masih ada hubungan darah. Ibu saya selalu memerintahkan untuk sekedar menjenguk beliau ketika akhir pekan. 2 minggu belakangan, ibu saya selalu menceramahi saya untuk tidak sibuk dengan urusan sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk menjenguk beliau pada akhir pekan ini, hari sabtu rencananya.

Ketika rabu pagi, bos saya meminta saya untuk datang ke kantor pada hari sabtu. Aku pun menyanggupinya sambil berpikir “ah, mungkin saya bisa meluangkan waktu utk menjenguk Uwa seusai kantor. Hari minggu pun saya masih ada waktu”.

Tapi rencana saya menjadi batal, karena ketika saya pulang dari kantor keluarga saya memberitahu kalau Uwa sudah wafat. Seketika hati saya mencelos. Menangis? saya tidak diperbolehkan menangis ketika ada yang meninggal sejak dari kecil. Kata ayah, kepergian itu jangan di tangisi karena mereka ke tempat yang lebih baik di sisi Tuhan.

Saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Pada saat itu saya mengingat dosa saya di masa lalu. Dosa ketika saya tidak bisa meluangkan waktu untuk menjenguk atau sekedar melihat keadaan saudara-saudara saya yang sekarang sudah tiada. Saat ini saya yakin, ibu akan marah besar pada saya. Tapi Tuhan pasti lebih marah karena saya sok sibuk dan tidak meluangkan waktu untuk bersilaturahmi.

Sekarang saya tidak tahu dengan perasaan saya. Sedih tapi tidak bisa menangis. Sakit karena hati ini mungkin akan merindukan sosok yang saya sukai. Tapi ada kebahagian di hati saya, karena pada akhirnya beliau ke tempat yang lebih baik dan tidak harus menderita dan kesakitan lagi

Show your support

Clapping shows how much you appreciated FAHMY HARYANDI’s story.