PEDEKATE

“Gila! sumpah gue bete! masa chatnya itu-itu aja. Ga jauh dari makan, hati-hati di jalan, jangan lupa mandi, solat, selamat tidur! terus besok? itu lagi chatnya!”

Saya mendapatkan pesan itu dari seorang sahabat pada pagi buta. Sering kali saya menjadi pendengar di saat teman atau sahabat saya sedang di terpa kegalauan tentang hidup. Saya bukan pendengar yang baik, apalagi saya bukan orang yang mahir tentang percintaan.

Sahabat saya yang sudah single dari lahir ini menanyakan saya tentang pendekatan ke calon pasangan, atau yang lebih dikenal dengan pedekate. Dia agak bete karena percakapan yang dilakukan seputar itu-itu aja dan tidak jarang kehabisan bahan pembicaraan. Bahkan ada teman saya yang pernah menanyakan ini.

“My, kalau pacaran tuh apa aja sih yang di omongin? terus pas pedekate kita harus ngapain?”

Be creative guys! pedekate atau pendekatan ini adalah proses mendekatkan hati dia ke hati kita. Mencocokkan rasa dan visi misi tentang masa depan. Pada saat pedekate ini merupakan kesempatan buat kita mengenal si dia jauh lebih dalam dan sebaliknya, tanpa terkesan seperti sedang menginterogasi.

Tidak ada alasan kalau kamu memang single sejak lahir dan belum pernah pacaran. Tanpa sadar pedekate ini sudah kamu lakukan ke teman kamu yang sekarang menjadi sahabat, walaupun tidak seintim ketika pedekate layaknya orang pacaran. Ketika teman kamu yang akhirnya menjadi sahabat, kalian mempunyai kecocokan dan mengerti satu sama lain berarti proses pedekate utk menjadi sahabat bisa dikatakan berhasil. Jangan menganggap pedekate ini hal yang baru pertama kali kalian lakukan dalam hidup, karena kenyataannya tidak.

Maka dari itu, saya menganggap pedekate sebelum pacaran dan pacaran sebelum menikah itu penting. Karena hati dan kepribadian manusia itu bagai ensiklopedia yang tidak akan habis di baca. Tapi ketika pedekate, pacaran atau pernikahan itu berakhir di tengah jalan, mungkin ensiklopedia yang kamu baca tidak sesuai dengan kamu, atau kamu sudah bosan.

Tapi entahlah. Saya bukan yang mahir tentang percintaan.

Teruntuk sahabat saya yang mungkin tidak akan menyelesaikan sampai paragraf terakhir ini, saya harap proses pedekatenya berhasil dan berlanjut sampai ‘ensiklopedia’ yang kamu pelajari, hanya kamu yang mengerti, bukan orang lain

Show your support

Clapping shows how much you appreciated FAHMY HARYANDI’s story.