Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku

“Bagaimana cara mereka memotong lidahmu?”

Bagaimana caranya kau tahu aku di sini? Setelah berpuluh tahun menghilang — kau muncul dengan pertanyaan yang memaksa air mataku jatuh lagi; memaksaku mengenang tahun enam-lima yang memerihkan itu; aku dan kau keluar masuk hutan demi bertahan hidup. Demi pengabdian kepada Dewata sebagai bissu yang suci. Sial, kita diburu karena dianggap menghianati Tuhan. Bukankah Dewata juga Tuhan? Lantas, adakah yang lebih setia dari bissu? Lebih hina mana, berpaling dari Tuhan atau dari negara? Kau tentu tak mendengarku, Upe. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bicara, dan memang orang yang tidak punya lidah tidak bisa bicara, hanya bisa hidup, dan menangis, kendati tidak sekali pun menyesali masa lalu.

Aku tidak menjawabmu dengan bahasa selain air mata dan punggung yang terguncang. Aku merasa kau hianati, kau lukai sekali lagi dengan pertanyaan itu. Kau merapat ke simpuhku, memelukku dan ikut menimpalkan tangisan. Pelukanmu itu, sengaja atau tidak, kini membawaku ke masa silam; bangkai manusia teronggok di tubir sungai, anyir darah yang membikin perut mual, aroma daging bakar, dan tentu saja asap mengepul dari rumah-rumah perusuh. Ya, perusuh — orang-merah, kata mereka, tapi aku tidak percaya mereka.

“Bukankah Dewata mengharamkan ada yang melukai kulit para bissu?” ulangmu dalam pelukan, suaramu lesap oleh isakanku.

Ada yang sampai hari ini tidak pernah kau tahu, atau pura-pura tidak tahu?

***

Aku harus menahan isak untuk mengingatnya. Dewata berkunjung. Angin seperti memiuh menyingkap tingkap atap bola arajang — rumah suci, tampat menyimpan pusaka serta mendekatkan diri dengan Dewata. Ia akan datang, mungkin besok. Begitu kata Puang Matua Rakka — tetuah sekaligus pimpinan kami. Aku tahu Ia yang dia maksud adalah kau. Kami menyiapkan penyambutan untukmu. Sederhana saja, hanya doa-doa dan nasi ketan aneka warna, juga dupa yang tidak berhenti mengepul dari pusat rumah panggung yang beratap alang-alang kering, berdinding anyaman batang nipah.

Tetapi, kenapa harus kau, Upe? Kenapa Dewata memilihmu menjadi bissu pula? Ada yang mengoyak dadaku. Sesak. Gamang; antara sedih atau senang. Dulu, sebelum jatuh sakit dan berkali-kali didatangi sosok (entah lelaki, entah perempuan) yang dibanjur cahaya seluruh tubuhnya, aku harus mengakui, aku mencintaimu. Tetapi, kau lelaki dan aku jatuh sakit sebelum sempat mengungkapkannya — walaupun sungguh tabu mengakui hal itu. Seperti yang kau tahu, ketika sembuh aku diangkat menjadi bissu, menjadi orang suci yang tidak akan berdarah; sebab baja takkan mampu menembus kulitku dan aku tidak mungkin datang bulan, sekemayu apa pun tingkahku. Aku dilantik, dan tulah telah menunggu bagi bissu yang jatuh cinta. Aku masih mencintaimu waktu itu.

Kau benar-benar datang, matamu cerlang dan berkali-kali kucoba melarikan pandangan darimu. Aku takut rasa itu mendesak ke permukaan, aku menghindarinya. Tanganku bergetar ketika melingkarkan kafan ke tubuhmu. Kau telah siap irebba — sebagai wujud serah-terima kebissuanmu dengan Dewata. Seminggu sebelumnya, kau tentu telah berpuasa tujuh hari tujuh malam dan bernazar untuk setia di hari terakhirmu.

“Kau siap?” tanyaku tanpa menatap matamu, aku menghindar dari perasaanku. Tabu bagi lelaki yang mencintai lelaki. Apalagi aku bukan orang biasa sekarang, lebih dari tabu jika bissu saling mencintai. Tetapi, perasaan ini selalu mendesak hendak keluar. Menyeruak.

Beberapa jenak setelah mengangguk, kafan telah utuh melingkupi badan kecuali wajahmu. Puang Matua Rakka mendekat, ia membisikkan sesuatu ke telingamu. Itu mantra basa to rilangiq — bahasa orang langit yang hanya mampu dimengerti oleh bissu dan Dewata.

Beberapa hari lagi, setelah sempurna kebissuanmu, sudah pasti aku kehilanganmu sebagai lelaki yang kucintai, kendati tidak pasti aku kehilangan cinta juga. Seandainya kau tak ada di ujung telunjuk takdir sebagai penerus yang akan merawat bola arajang. Seandainya. Aku masih bisa berharap hidup bersamamu, aku tetap sebagai bissu, kau tetap menjadi lelaki biasa yang kemayu. Jika saja itu terjadi, maukah kau jadi To Boto, Upe? Saban waktu menyiapkan sajen untuk upacara adat, dan menjadi teman hidupku — yang kucintai? Maukah? Tak pernah kutanyakan itu; air terlanjur terbanjur ke dalam minyak, terlambat. Kau mendekam dalam loteng, kau serupa mayat — terlentang disaput kafan — dan memang begitulah seharusnya. Kau tidak boleh melakukan apapun kecuali bernapas. Guci bertuah kugantung di atasmu dengan air yang terus beriak di dalamnya. Kelak di hari terakhir guci itu akan dipecahkan sebagai wujud penerimaanmu.

“Bencong! Pergi kau, main di dapur saja, tak cocok kau main bola sama kami.”

Aku mengenangnya, umpatan dan cibiran macam itulah yang membuat kita dekat. Kau tak punya teman main semasa kecilmu. Begitu pula aku. Bencong! Begitu teman sebaya mengumpati kita, kau pasti segera berlari dengan air mata berderai, mengangsur langkah ke arahku. Aku akan menimpali tangisanmu, sebab kita sama, Upe, aku merasakannya juga. Tetapi, kini semuanya berbeda, orang-orang akan menunduk, berlaku hormat dan membumbung segan kepada kita. Di Tanah Bugis ini, tak ada yang berani menghujat bissu. Kita hanya butuh meludah untuk menghilangkan kemaluan mereka seperti anjing dikebiri. Dewata ada di setiap tarik-embus napas kita, Upe, percayalah!

***

“Bagaimana cara mereka memotong lidahmu?”

Kau masih menanyakannya, pundakku goyah oleh tanganmu. Kita lerai dari pelukan, kulihat air mata telah kering, menyisakan lurik di sepasang pipimu.

Hari pertama kau menjadi bissu. Bersama Puang Matua Rakka, kita ke rumah Tuah Kampung, akan digelar upacara penyambutan untukmu. Daging kerbau ditanak dalam kuali raksasa, berpeluh-peluh orang memikul hasil bumi. Penyambung lidah dengan Dewata bertambah lagi, pikir mereka. Kita tampil berdua di muka khalayak. Dengan pakaian kebesaran bissu; kain sutra rupa warna meliliti kita, mahkota berbentuk tanduk kerbau juga dari sutra. Di pinggang kita tertancap pongah badik bertuah yang kelak kita gunakan menusuk batang leher, dan menyayat pergelangan sambil menari bersijingkat mengikuti dendang gendang ketika memeragakan maggiri. Perasaan itu kembali meletup, kututup serapat mungkin, aku harus berpayah-payah, aku takut tulah.

“Asu!”

“Orang-merah!”

Kita baru berdoa kepada Dewata agar maggiri dilancarkan, gendang baru saja ditabuh ketika suaranya tiba-tiba hilang ditelan letusan dan bentakan yang entah dari mana. Baru ketika mataku awas ke sekililing kulihat tentara, menyentak-entak berjalan dengan berwajah penuh amarah.

“Lari!” kuseru kau dan Puang Matua Rakka. Kalian berdua hanya bergeming. Aku mengingat dua bulan sebelumnya, saat Daeng Aso, guru sekolah di kampung sebelah, dicegat oleh beberapa orang; perusuh kau, orang-merah, asu! Aku mendengar jelas umpatan itu. Orang-merah, orang-merah — begitu mereka menyebut komunis. Tidak ada yang berani menolong ketika ia diseret dan dilempar ke mobil bak terbuka, istrinya menangis sejadi-jadinya. Malam hari setelah kejadian itu, rumahnya dibakar entah oleh siapa. Hari-hari berikutnya, dari kampung Daeng Aso, santer kabar orang-orang yang dibakar hidup-hidup, ditenggelamkan dan — ah, aku bergidik mengingatnya, mereka yang tidak ingin mengaku orang-merah, dikuliti.

Kita benar-benar berlari. Napasmu megap-megap. Aku masih kuat. Kita menyusuri pinggir sungai Segeri. Berlari entah akan ke mana. Yang penting kita selamat dulu, Upe, kataku tanpa memelankan langkah. Kata-kataku diterbangkan angin. Kau terus berlari, wajahmu pasi. Masih jelas di kepalaku saat Puang Matua Rakka diseret dan ratusan warga yang berkerumun tidak mampu berbuat apa-apa.

“Kampung ini aman,” kata salah seorang tentara dengan suara serak yang menakutkan. “Tapi…,” ia menggantung sejenak, kepalanya awas ke orang-orang, ada yang ia cari, “kecuali bissu, mereka orang-merah, menistakan Tuhan.” Itu mengejutkan seperti duri yang tiba-tiba menusuk kakiku dulu ketika berjalan di pematang sawah. Kita telah menjauh dari kerumunan, di balik pohon asam yang lebih besar dari badan kita berdua, kulihat Puang Matua Rakka diseret, mirip seperti yang dialami Daeng Aso. Air mataku jatuh, kau menatapku pasi, kita lantas berlari mumunggungi asap yang membumbung — yang kutahu dari arah bola arajang.

Kita menyusuri sungai Segeri hingga malam seperti mengulam alam. Kelam. Kita tidak membawa perlengkapan apa-apa kecuali pakaian adat dan tubuh yang mulai lemah. Aku terus berdoa, Dewata pasti mendengar.

“Kita menginap di sini saja,” anjurku.

“Kita lari saja terus,” kau menyanggah, masih dengan napas yang terengah.

“Tidak, Upe, kau tahukah kita akan ke mana?”

“Ke Wajo, Bone, atau Soppeng, atau ke mana saja yang ada bissu, mereka pasti mau menampung kita.”

“Butuh seminggu berlari, dan — “ aku tidak kuat, dadaku seperti dirumpang sesuatu yang membuatku lagi-lagi tidak mampu menahan air mata.

“Dan?” Wajahmu bingung, aku mengerti, kau belum tahu bahwa seminggu sebelumnya, mereka, bissu di kabupaten lain telah lebih dulu dibunuh. Puang Matua Mammu — pemimpin bissu di Wajo, ditangkap, dan menurut cerita Puang Matua Rakka, karibnya itu diikat pada batu besar lalu ditenggelamkan di Danau Tempe. Aku tidak habis pikir, Tuhan mana yang kami nistakan? Aku berdoa lagi kepada Dewata. Kau diam, aku tahu kau lelah, kita tidur di gubuk yang tidak jauh menjorok ke dalam hutan. Dalam keadaan seperti ini, tetap saja aku tidak bisa menampik perasaanku. Kucium keningmu — aku mencintaimu, bisikku, sebelum akhirnya ikut terlelap dan meringkuk, di sampingmu. Dini hari, kau pamit dan berjanji akan kembali saat siang. Saya mau ambil makanan atau minta bantuan sama kerabat, dia di seberang sungai, katamu. Aku mengiyakan dan kembali tertidur, mungkin terlalu lelah, aku kembali lelap.

Sejak saat itu, kita benar-benar terpisah dan aku masih mencintaimu hingga tiba hari ini; kau muncul dengan pertanyaan yang bisa saja kau tahu jawabannya. Yang datang pada siang itu bukan kau, melainkan mereka yang sesukanya mengumpatiku dengan nama-nama binatang. Aku berpikir kau telah lebih dulu ditangkap. Mungkin dicegat di tengah jalan. Atau tubuhmu sudah menyatu dengan batu dan dasar sungai Segeri. Bukan keselamatanku yang kupikirkan ketika berkali-kali mereka mengiris wajahku dengan silet dan tak mempan, bukan diriku, melainkan kau yang memenuhi kepalaku.

***

Aku melihat matamu masih diliputi pertanyaan. Aku ingin menjawabnya. Tapi, bagaimana? Aku tidak punya lidah setelah aku dibawa ke tempat ini. Karena Dewata masih ada pada tarik-embus napasku, tak sedikitpun peluru, silet atau pisau dari mereka mampu menggoresku. Tapi….

“Kau tidak bisa lagi membaca mantra, Asu!” Mereka lantas tergelak dengan tangan yang memerah darah dan bilah bambu yang baru saja mencampakkan lidahku. Kepalaku pusing, mulutku anyir, kulihat sosok yang dibanjur cahaya.

Kau mengguncang pundakku, aku buru-buru menyeka air mata dan merapikan kembali ingatanku.

“Pakailah,” katamu setelah merogoh saku jaket dan mengeluarkan amplop berwarna coklat. “Gunakan buat hidup kalau nanti masa tahananmu sudah habis. Jadi mantan tapol itu susah ngapa-ngapain.”

Aku diam, melongo dan bertanya dalam hati, ini apa?

“Ini sebagian gaji selama kerja jadi kurir sama bantu-bantu sipir di sini. Simpanlah!”

Leherku tercekat mendengarnya. Kau berlalu setelah menepuk pundakku, langkahmu masih kemayu ditelan tembok penjara. Amplop itu sama sekali tidak kusentuh, dadaku nyeri, perih. Aku tidak mau menyentuhnya. Aku semakin yakin, kau yang menunjukkan tempat kita bersembunyi waktu itu.

Tetapi, aku masih mencintaimu, Upe. (*)

Makassar, 2014

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo akhir pekan 19–20 Maret 2016, dan memenangkan Asean Young Writers Award 2014

Like what you read? Give Faisal Oddang a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.