Meragukan Kemapanan Beragama

Namaku Swedenberg. Aku adalah tokoh rekaan dalam novel berjudul Lines Written in the Belief that the Ancient Roman Festival of the Dead Was Called Ambarvalia. Jika ada yang bertanya novel macam apa yang memiliki judul mengerikan macam itu, aku juga tidak tahu, pengarangku konon mengambil langsung dari judul puisi seorang penyair Inggris yang tidak cukup terkenal bernama Rupert Brooke. Namaku juga, sebenarnya hasil comotan dari Emanuel Swedenborg yang sedikit dipelesetkan. Ia seorang teolog Swedia yang mengaku pernah mengunjungi surga dan neraka lalu meragukan sekaligus menggugat kemapanan agama pada masanya lewat buku Heaven and Hell (1758). Namaku Swedenberg, dan seperti Swedenborg, di dalam novel aku meragukan dan menggugat kemapanan beragama di masaku; tahun 2231 Masehi.

Kehidupan di dalam novel adalah kehidupan yang penuh dengan neraka yang diciptakan oleh individu, kelompok, bahkan oleh agama. Tampaknya pengarang benar-benar mengutip secara penuh cara berpikir Swedenborg. Ketika Dostoyevsky meninggal, ruang bacanya dipenuhi catatan Swedenborg yang kurang lebih menggambarkan bagaimana neraka diciptakan oleh manusia. Bukan hanya Dostoyevsky, tetapi Goethe, Faust, dan Balzac pun tidak bisa melepaskan diri dari Swedenborg. Jadi, tidak heran jika pengarang mencomot mentah-mentah karakter itu untuk novelnya.

Namaku Swedenberg, di dalam novel aku tinggal disebuah negara bernama Insulinde. Negara yang hampir tidak pernah dilirik namun mendadak menjadi pusat perhatiaan seperti suara kentut di tengah peribadatan. Negara Insulinde mengharuskan semua warganya masuk surga, salah satu aturan dasarnya adalah mereka, warga negara yang malang itu, termasuk aku, haruslah melalui uji kehalalan setiap hari, setiap ingin memulai aktivitas.

Petugas uji kehalalan mengunjungi rumah kami setiap hari, ia mengecek ujung rambut hingga ujung kaki. Aku pernah tidak masuk kantor beberapa kali, salah satu alasannya karena kata mereka celana dalamku tidak halal. Anda membelinya dengan uang yang Anda temukan di jalan, begitu kata alat uji kami, begitu kata mereka. Lalu mereka memintaku menggantinya, nanti Anda menularkan dosa ke orang lain dengan perantara celana dalam haram, mereka menambahi. Sialnya, hari itu celana dalam yang lain masih kotor dan aku tidak ingin menjadi bahan tertawaan jika keluar tanpa celana dalam; aku sadar betul kemaluanku jauh lebih besar dari rasa percayaku pada alat uji dan cara mereka beragama.

Di kafe, setiap kursi telah diuji. Dibuat dari kayu apa? Riwayatnya bagaimana? Ditebang dengan cara agamais atau tidak? Semuanya diperiksa agar tidak menularkan dosa bagi pantat orang lain. Itu jika kursinya kayu, jika dari besi lain lagi: jangan sampai ditambang dari tanah yang pernah dipijak pedosa. Musik di kafe juga telah lulus sensor halal. Lagu-lagu yang kami dengar misalnya, tidak boleh oleh penyanyi yang belum berkumur dengan air suci yang dijual pemerintah. Hidup kami di dalam novel diawasi dan itu sungguh menjengkelkan seperti menelan makanan dari hasil kunyahan orang lain. Seperti kata Brooke pada puisinya yang berjudul ‘mengerikan’ dan jadi judul novel pengarangku: They will put pence in your grey eye/Bind up your fallen chin.

Uji kehalalan di negaraku mendapat kecamanan dari negara-negara lain. Dimulai ketika puluhan wisatawan asing ditolak masuk ke Insulinde karena paspor mereka menggunakan kertas haram. Kertasnya dibuat dari pohon yang pernah ditenggeri oleh burung pemakan daging manusia, burung itu tidak halal dan menularkannya ke pohon bakal kertas. Itu baru paspor, belum sepatu, baju, parfum, dan sebagainya. Begitu dalih tim uji kehalalan dari Perhimpunan Orang Saleh Negara. Apakah perhimpunan mereka halal? Entahlah.

Terjadi demonstrasi besar-besaran, semua warga negara turun ke jalan menuntut reformasi. Di sinilah puncak konflik novel, kemarahan benar-benar tersulut ketika ribuan bayi harus dibunuh karena mereka lahir lewat persenggamaan yang tidak agamais. Ada yang di luar nikah dan yang paling menyita perhatian: puluhan bayi dieksekusi karena waktu bersenggama, desahan orang tua mereka terlalu keras dan menganggu orang lain yang mendengarnya; proses pembuatannya tidak lulus uji kehalalan.

Kekacauan tidak bisa lagi kami hindari. Aku menginisiasi rakyat untuk menggungat cara pemerintah beragama. Pada buku The Secret History of the World yang ditulis oleh Jonathan Black, Swedenborg konon pernah menggugat Gereja Ortodoks Timur dan atas kekuatan gugatannya, banyak kelompok spiritual yang mengklaim Swedenborg sebagai bagian dari mereka. Namun, Swedenborg menyangkal dengan mengatakan bahwa pengalaman dan tindakan spiritualnya adalah persoalan yang sangat individual. Surga dan neraka termasuk pula dalam persoalan individu, karena itu kami memberontak dan saling membunuh, dalam sehari neraka kami ciptakan di negara kami. Novel ditutup dengan kehancuran, tanpa reformasi, dan tanpa kemenangan; orang-orang saleh dan pedosa, mati dalam keadaan yang sama.

Novel berjudul ‘mengerikan’ itu sebenarnya terinspirasi dari kejadian di negara bernama Indonesia; terutama ketika Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan label halal untuk produk jilbab. Novel itu juga sebenarnya tak pernah terbit karena dianggap haram. Namun aku mengingat jelas bagaimana pengarangku menutup novelnya, katanya: cara beragama yang patut diragukan adalah ketika nerakaku kau ciptakan di kepalamu, dan nerakamu ada di kepalaku.

*Pernah dimuat koran TEMPO Makassar, edisi 24 Februari 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Faisal Oddang’s story.