Perpisahan
Kau tahu apa yang sedang terjadi di sini? Sederhana. Saya sudah tidak mencintaimu lagi.
Mereka bertengkar, perempuan itu kemudian meninggalkan suaminya dengan mengempaskan daun pintu lalu kembali ke kamar hotel dan mengucapkan hal seperti yang saya kutip di awal tulisan ini. Perempuan itu bernama Celine, jika saya katakan adegan itu terjadi di Before Midnight, mungkin kau akan menebak suaminya bernama Jesse. Kau betul, tetapi bukan perkara betul-salahnya. Jesse, dalam upayanya membujuk Celine, beberapa menit sebelum film itu berakhir, mengucapkan: Aku menerima begitu banyak keburukanmu, dan jika kau pikir aku ini sejenis anjing yang akan terus memintamu kembali maka kau salah besar. Tetapi jika kau ingin cinta yang sebenarnya, maka inilah cinta itu. Saya mencintaimu, bahkan kau tidak pernah punya alasan untuk meragukannya. Namun untuk bersikeras memaksamu tetap mencintai saya, tentu tidak akan pernah terjadi. Kita seharusnya sadar betul bahwa cinta bukan sekadar menerima dan memberi, lebih dari itu, ada proses yang susah kita beri nama — dan proses itu, seperti yang telah terjadi kini, jauh lebih rumit dari sekadar ‘kuterima kau apa adanya dan kuberi segala yang kubisa’.
Hari ketika kita memutuskan untuk berpisah, saya berkali-kali meyakinkan diri bahwa saya tidak sedang melakukan kesahalan untuk disesali di kemudian hari. Itu dua tahun yang lalu. Saat ini, saat menulis catatan ini, saya tahu bahwa ternyata yang telah kita putuskan waktu itu adalah sebenar-benarnya tindakan. Kau berbahagia. Saya berbahagia. Untuk hidup kita masing-masing, kita perlu bersyukur karena telah memutuskan untuk tidak bersama. Kau masih ingat, bukan, apa yang saya katakan hari itu? Jika tidak, akan saya ulangi: Untuk menggenggam lebih banyak, kita harus mengosongkan tangan kita dengan melepaskan yang sedikit. Dan itulah barangkali yang telah kita berlakukan untuk kebahagiaan.
Setelah berpisah, kau melakukan semua hal yang bisa membantumu melupakan saya. Kau menghapus saya dari hidupmu, dari hari-harimu, seperti hujan sehari menghapus kemarau menahun, seperti peribahasa. Sudah berhasil? Kau tidak perlu menjawabnya. Sebaliknya, saya berusaha melupakanmu dengan menjauhi hal-hal yang menjauhkanmu. Saya masih suka ke kedai kopi langganan kita. Saya masih sibuk menanyakan kabarmu. Ketika perasaan sudah mencapai puncaknya, ia akan jatuh merosot ke palung paling dalam, itu dugaan saya, dan ternyata benar. Saya mengingatmu hari ini. Kau tahu apa yang sedang terjadi hari ini? Sederhana. Saya sudah tidak mencintaimu lagi.