Aku Bersikeras Agar Kegiatan Pemilu Raya (Pemira) Diadakan 19.30 WIB

Pemilu Raya, pemira, salah satu topik yang cukup panas di kampusku saat ini. Tanpa bermaksud ‘mengkotak-kotak’, mungkin di kampusku ini sudah menjadi hal klise tentang sektor ‘depan’, ‘tengah’, dan ‘belakang’. Hampir setiap kepanitiaan, organisasi, acara, dll, jika diadakan kumpul malam hari, selalu pukul 19.00 WIB dari yang kuamati dan kurasakan. Sekarang, apa yang kupermasalahkan disini?

Jika kita melihat jadwal shalat Kota Bandung dan sekitarnya, adzan Isya rata-rata dikumandangkan sekitar pukul 19.00 WIB. Namun, ada pula bulan tertentu yang nanti adzan Isya sekitar 19.20 WIB atau lebih. Aku ingin agar kita, Ya! Kita!, pastinya yang muslim, agar shalat Isya terlebih dahulu.

Seandainya aku berpikir sebagai orang yang santai, aku bisa saja berargumen “Bro, Isya waktunya panjang, kan ‘ditunda’, gak ‘ditinggalin’.”. Mentahnya, ini benar. Namun, salah satu hal yang lumrah terjadi apabila kegiatan selesai adalah ‘kelelahan’. Kalau masih sadar, sehabis berkegiatan bisa setelahnya shalat Isya. Bablasnya, jika tidak sadar, maka akan ketiduran. Saat ketiduran, ada dua kemungkinan:

  1. Jika terbangung sebentar, bisa shalat Isya.
  2. Jika tidak terbangun, tentu saja shalat Isya bablas.

Sekarang, apakah ada kerugian kalau seandainya setiap kegiatan diadakan 19.30 WIB atau sesudah shalat Isya? Dari yang kuamati, ada yang berargumen seperti ini “Kasian yang perempuan bro! Pulang kemalaman dia kalau dia adain jam segitu.”. Ya, sekali lagi, terlihat benar. Namun, kenapa tidak begini saja “Haa, kalau kayak gitu, kenapa gak sekalian aja kita selesai beraktivitas sebelum maghrib? Kan gak kemalaman tuh.”

Sebelumnya, aku deklarasi dulu bahwa aku hanya manusia biasa, tidaklah seorang ‘saint’, yang dikenal di barat sebagai orang suci. Yang menjadi perhatianku adalah nasehat ini:

Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari no. 657).

Dalam kitab Fathul Bari, 2: 141, shalat Isya dan shalat Shubuh lebih berat bagi orang munafik karena rasa malas yang menyebabkan enggan melakukannya. Karena shalat ‘Isya adalah waktu di mana orang-orang bersitirahat, sedangkan waktu Shubuh adalah waktu nikmatnya tidur.

Sumber : https://rumaysho.com/3785-shalat-shubuh-dan-shalat-isya-paling-berat-bagi-orang-munafik.html

Sekali lagi, agar menjaga koherensi dari tulisan ini, yang kubahas disini adalah shalat Isya. Dari hadist serta kutipan kitab tersebut, aku berargumen bahwa terkadang seseorang mencari alasan agar bisa menunda shalat, terutama yang menjadi bahasan disini, yaitu shalat Isya.

Atas dasar ini, aku bersikeras nantinya acara pemira, baik berupa sosialisasi, hearing, dll, dilakukan 19.30 WIB atau setelah shalat Isya agar yang muslim tidak kebablasan. Lagi pula, apakah gara-gara ini pula rundown pemira menjadi berantakan?. Hearing saja bahkan bisa sampai shubuh kalau audiennya sangat kritis. Oleh karena itu, seperti mencari alasan saja jika kegiatan pemira akan terganggu apabila dilakukan pukul 19.30 WIB atau setelah shalat Isya. Jadi, tidak ada kerugian sama sekali jika kegiatan pemira diadakan 19.30 WIB atau setelah shalat Isya.
#SalamPembebasan
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Faishal Mahdi’s story.