Roti donat tak biasa

Selekas mungkin aku bergerak agar tidak lagi kehabisan . Itulah yang biasa aku lakukan setelah kelas berakhir. Bergerak menuju kantin yang menyediakan berbagai macam roti donat. Ada donat brown sugar, ada roti donat tepung gula dan roti donat meses . Pada dasarnya ketiga roti donat ini sama hanya saja bentuknya sedikit berbeda. Tapi bagiku roti donat meses lah yang paling enak . buktinya, kalau aku kesorean, aku tidak lagi melihatnya ditumpukan roti-rotian tersebut. Sekalipun aku menyukai brown sugar, tapi hanya berlaku jika ada bersama keju dan pisang bakar. Aku selalu begitu, menyukai hal-hal yang sama dan selalu bertahan dengan hal tersebut. Sekalipun mereka mempertanyakan “bosan” nya aku melahap donat-donat itu. Bagiku memilih donat seperti aku memilih jalan hidupku. Aku bergerak cepat agar aku tidak kehilangan, aku membeli sesuatu sesuai kemampuanku agar aku maksimal, aku memakan nya dengan lahap mengindikasikan aku puas akan pilihanku. Aku berharap itu berlaku padamu. Biarkan aku bergerak cepat dengan memperbaiki diri, bertemu kamu ketika aku siap dengan modal akhlak dan sikapku, dan menikmati kebersamaan bersamamu sebagai bukti kepatuhanku pada Tuhan. Aku selalu ingin menyerahkan nya pada yang kuasa, sekalipun logika ku berbisik aku belum seberapa. Dan kalaupun tidak, aku masih memiliki brown sugar dan tepung gula sebagai bukti keikhlasan ku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.