Jangan tega melupakan kenangan

Apa tidak ada harapan lagi untuk aku. Aku mungkin adalah pelampiasanmu. Ya, seperti yang kamu bilang kamu menduakan dia. Buka aku yang diduakan “Just, let it flow.”

Lantas apa aku bukan yang kamu harapkan. Lantas apa maksud kamu bilang “Aku sayang kamu.” Atau “I love you.”. Apa ini yang kamu bilang itu?. Kamu bilang bukan salah kamu bahwa aku sangat menyayangimu. Kamu bilang Aku yang terlalu berlebihan. Tidak. Aku tidak berlebihan. Aku hanya mengikuti apa yang hati aku bilang. Tentang kamu, tentang mimpi kita dan kenangan kita saat kita bersama.

Dan, aku butuh kamu saat ini. Aku hanya ingin bertemu, banyak berbincang saja, tidak lebih. Mungkin pelukan dan pegangan tangan eratmu agar aku bisa lelap dalam kebahagiaan untuk waktu yang panjang. Apa tidak bisa lagi?

Aku butuh kamu, aku butuh kamu saat ini. Bukan maksud aku mengusik kehidupanmu yang aku tidak tahu, aku hanya butuh kamu yang bilang “Aku sayang kamu.” Dan atau “I love you.”, itu saja. Ya, hanya itu.

Sayang, aku hanya punya harapan yang tidak mungkin saat ini bisa terlaksana. Entah apa yang dia punya. Entah apa yang dia miliki. Sesampainya dia merasa puas dengan aku. Dan dengan mudahnya dia kembali dengan pacar pertamanya. Tega. Sangat tega. Dan kamu yang menanamkan perasaan ini. Lantas pergi tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

Kesal. Sangat kesal. Apa boleh aku meluapkan rasa kesalku ini? Apa boleh aku memarahinya? Dan apa boleh aku membencinya? Tapi aku sangat menyayanginya lebih dari apa yang dia tahu. Dan apa dia tahu? Mungkin.

Aku kangen, aku kangen kamu. Aku hanya bisa menulis dalam tulisan sampah. Entah ini berharga atau tidak untuk dibaca. Aku kangen sangat kangen. Apa kamu juga?

Hati aku Kelu saat mengingat kamu. Bukan kesal. Tapi sakit untuk mengingat kamu. Sampai aku coba untuk melakukan hal-hal yang bisa menyisihkan rasa ini kepada kamu. Tapi aku sakit. Aku tidak bisa untuk melupakan kamu. Kamu terlalu berharga untuk aku lupakan. Apa aku salah? Lantas apa yang kamu bilang tentang “Aku sayang kamu.” Atau “I love you.”. Masih ada artikah untuk aku?

Tolong jawab aku. Tolong jawab pertanyaan aku!

Betapa bodohnya aku ini. Betapa bodohnya. Aku menyayangi orang yang seperti dia. Dia yang terlalu baik buat aku. Kenapa dia bisa tega. Sungguh. Aku kecewa. Tapi aku tetap menyayanginya. Aku masih ingin bersama. Aku masih ingin kita bisa bertemu lagi. Aku hanya ingin lihat keadaan kamu, wajah kamu, senyum kamu yang buat aku terdiam untuk menikmatinya. Aku kangen..

Like what you read? Give Faizal Indra Kusuma a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.