Menghabiskan Gaji Dengan Cara yang Benar dan Efektif

Menyisakan gaji adalah cara mengatur keuangan yang menyakitkan dan tidak efektif. Menghabiskannya akan lebih efektif dan tentunya menyenangkan.

Kalimat diatas adalah cuplikan dari buku “Habiskan Saja Gajimu” karya Ahmad Gozali yang terbit pada tahun 2013 dan diperbarui di tahun 2015. Kebetulan sudah dua tahun yang lalu saya beli dan baca buku ini. Dan secara tidak sengaja ketemu lagi di rak yang sudah kotor dan tergelitik untuk membaca ulang serta membagikannya lewat tulisan ini.

Di buku tersebut, Ahmad Gozali menekankan bahwa uang — sejatinya diciptakan sebagai alat pembayaran, alat berbelanja, digunakan untuk dibelanjakan bukan untuk disimpan atau disisakan.

Kalau anda ditanya, mana yang lebih mudah:
A. Menyisakan uang
B. Menghabiskan uang

Jika boleh memilih tanpa harus berpikir panjang, kebanyakan orang akan menjawab bahwa akan lebih mudah dan menyenangkan untuk menghabiskan uang daripada harus menyisakannya.

Itulah kenapa cara mengatur uang dengan metode menyisakan uang menjadi sangat sulit dan tidak menyenangkan, karena sifatnya yang terpaksa.

Kalau kita ingin efektif melakukan sesuatu, lakukanlah sesuatu yang memang menyenangkan dan mudah dilakukan.

Dan cara yang menyenangkan dan mudah dalam mengatur uang adalah dengan menghabiskannya. Tentu saja menghabiskannya di jalan yang benar dan efektif.

Yang saya suka dari ulasan dan metode yang ditulis Ahmad Gozali, beliau menyarankan teknik menghabiskan uang/gaji kedalam 4 kategori, dan mengatur prioritas pengeluaran tadi dari beberapa sudut pandang, yakni:

1. Pengeluaran Sosial (Hak Allah)

Penunaian zakat, infaq, sedekah atau kewajiban sosial lainnya ditaruh di nomor satu. Selain karena hak Allah tidak bisa diganggu gugat, pengeluaran sosial juga memiliki beberapa manfaat. Yaitu untuk melatih kepekaan sosial, menjauhkan diri dari sifat materialisme, dan menjaga keberkahan rezeki.

2. Cicilan Hutang (Hak Pihak Ketiga)

Yang kedua adalah pembayaran cicilan hutang, baik hutang langsung ke personal, hutang kartu kredit, maupun tagihan asuransi. Pos ini ditaruh di posisi kedua karena memiliki dampak psikologis dan berhubungan dengan orang lain apabila tertunda pembayarannya.

3. Saving (Hak di Masa Depan)

Menabung bukanlah menyisakan gaji bulanan (di belakang) , melainkan menyisihkan (di awal) dan mengalokasikannya ke produk investasi yang sesuai. Kebanyakan dari kita melakukan sebaliknya, menabung yang tersisa dari gaji, tidak mengalokasikannya secara khusus. Saving digunakan untuk kepentingan sendiri, tetapi baru akan dinikmati di masa depan.

4. Shopping (Hak Sekarang)

Pengeluaran untuk kepentingan pribadi dan konsumsi dimasukkan di kategori shopping/biaya hidup dan diletakkan di posisi terakhir. Karena sifatnya yang fleksibel dan tingkat konsekuensi yang cukup rendah dibanding kategori yang lain apabila ditunda. Konsekuensinya adalah berkurangnya kenyamanan hidup :)

Nah, setelah mengetahui prioritas untuk mengeluarkan uang diatas, harusnya paradigma kita turut berubah. Dari habiskan gaji baru sedekah dan ditabung sisanya. Menjadi sedekah dan tabung gaji, kemudian habiskan sisanya.

Masalah kita bukanlah besar atau kecilnya pemasukan, melainkan prioritas dalam pengaturan uang. Besarnya angka penghasilan saja tidak menjamin, perlu pengaturan prioritas pengeluaran agar keuangan lebih terkontrol dengan baik.