Jelajah Mimpi Anak Negeri
Mendengarkan tentang mimpi memang seru meski sering membuat ragu, mampukah kita. Tapi bukankah mimpi yang membuat kita bangun setiap pagi, bukankah mimpi yang membuat kita mau terus bertahan.
Ratusan tahun yang lalu para pemuda pemudi memimpikan sebuah alat penerangan yang efisien, dan sekarang kita bisa merasakanya, sebuah lampu pijar.
Puluhan tahun yang lalu para pemuda pemudi memimpikan perjalanan menembus batas melebihi bumi, dan sekarang kita mengenal Neil Amstrong orang pertama yang menginjakan kaki di bulan. dan masih banyak lagi, yang dulunya hanya mimpi belaka bahkan mimpi konyol sekalipun, tapi sekarang telah menjadi kenyataan dan kitapun hidup denganya.
Maka dari itu jangan pernah memandang remeh sebuah mimpi, karena kita tidak pernah tau apa yang ada di masa depan dan sejauh mana mimpi dapat diwujudkan. Siapapun berhak bermimpi dan siapapun berhak mewujudkanya, mimpi untuk negeri, mimpi untuk keluarga dan mimpi untuk diri sendiri.
Tapi satu prinsip dasar, kejarlah mimpi demi kebermanfaatan. Seminimalnya bermanfaat meski untuk diri sendiri, karena sering kali diluar sana orang yang berhasil mencapai mimpinya tapi tiada kebermanfaatan yang hadir, bahkan bagi dirinya sendiri. Sebagaimana orang yang berhasil jadi kaya raya, tetapi tidak ada kebahagiaan melainkan hanya kegelisahan karena harta yang didapat dengan cara yang tidak baik.
Jelajah mimpi anak negeri merupakan nama program yang sedang saya dan teman-teman saya kerjakan bersama. Karena dengan mimpilah kita berani untuk melakukan lebih, maka dengan semangat bermimpi saya ingin menularkan semangat yang sama kepada adik-adik rumah belajar Skhole — ITB Mengajar. Berkolaborasi dengan himpunan dan unit yang ada di kampus ITB, memfasilitasi adik-adik untuk bisa mengeksplorasi keilmuan dan keprofesian, memberikan motivasi untuk menggapai mimpi.
“Semangat untuk bermimpi dan menggapainya, saya ingin adik-adik bisa memvisualisasikan dan menggapai mimpi-mimpinya”. Sepuluh dua puluh tahun lagi, yang sekarang menyandang gelar pemuda akan menjadi para pemimpin bangsa. Begitupula para adik-adik kita sepuluh tahun lagi akan menggantikan posisi kita. lalu apa jadinya ketika para pemimpin para penerus tidak memiliki mimpi, tanpa cita tanpa arah. Seumpama kapal yang mengikuti arah angin kemanapun ia berhembus, jangankan pelabuhan tujuan bahkan mencapai pulau pun belum tentu mampu.
Beranilah bermimpi, apapun itu karena aku yakin setiap dari kita punya sesuatu yang ingin kita perjuangan, dan satu yang ingin kutitipkan, perjuangkanlah bangsa ini perjuangkanlah kemanusiaan. karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lainya (manusia dan alam).
Karena 267 juta penduduk Indonesia menunggumu, menungguku, menunggu kita.
