Stop Wars: The Peace Awakens — Refleksi Dari Pembawa Damai

“Peace is not absence of conflict, it is the ability to handle conflict by peaceful means”, Ronald Reagan

Perdamaian. Satu kata yang mendeskripsikan suatu keadaan dimana penduduknya saling hidup rukun dan menerima perbedaan. Sayangnya, bumi yang sama-sama kita tinggali ini masih jauh dari definisi tersebut. Perang, terorisme, tawuran sampai perdebatan kasar makin menodai planet ini dengan kecemasan, bukan kedamaian.

Untuk memperbaiki keadaan, sebenarnya sudah banyak organisasi-oraganisasi yang dibentuk dengan concern untuk mengenalkan pentingnya perdamaian ini. Global Peace Foundation, United Nation dan Young Interfaith Peace Community adalah sedikit dari organisasi yang mengubah concern itu menjadi tindakan nyata. Dan mereka semua akhirnya dikumpulkan pada acara World Merit Peace Festival kemarin.

Mengambil tempat di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall, Nina Nasution dari Bina Antarbudaya, Ayi Yunus dari Youth Interfaith Peace Community, Tylla Subujantoro dari UN Department Of Peace Keeping Operation (DPKO) sampai Shintya Utami dari Global Peace Foundation bergantian menyuarakan perdamaian di antara anak muda yang hadir.

Kalau bisa disimpulkan, kata “perdamaian” atau “peace” ternyata memiliki definis yang lebih kompleks dari kelihatannya. Perdamaian bukan cuma berbicara tentang menghargai perbedaan, tapi juga menerima keberadaan manusia beserta sifat-sifat naluriahnya. Oh, iya satu fakta menarik soal perdamaian di Indonesia: 62% penyebab pertengkaran yang berujung kekerasan fisik berasal dari saling singgung antar agama. Aneh.

Aneh karena sejak dari jaman kemerdekaan, bangsa ini sudah disetting sedemikian rupa supaya menghargai suku, agama dan ras penduduknya. Para Founding Fathers republik ini punya visi besar untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang bertoleransi. Makanya mereka bisa menghasilkan apa yang kita sebut sekarang sebagai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan fundamental sesederhana tapi powerful seperti itu, bangsa ini seharusnya bisa menerima perbedaan secara beradab. Ironisnya, kenyataan di lapangan berkata lain. Masih banyak isu-isu kebencian tersebar diam-diam di berbagai lapisan masyarakat dengan mudahnya. Apa sebab?

Cinta. Bangsa ini bukannya kekurangan orang-orang jenius tapi kita semua kekurangan cinta. Kita kekurangan rasa saling memiliki satu sama lain. Porsi cinta kita lebih banyak buat diri sendiri daripada untuk kepentigan bersama. Padahal asas kerja kita Gotong Royong. Miris.

Berkaca pada kondisi ini, haruskah kita berkaca pada Timor Leste? Haruskah kita belajar dari negara muda bekas wilayah Indonesia?

Of course. Menurut Kak Tylla dari United Nation Department of Keeping Peace Operation, negara kecil ini adalah negara yang peling cepat pembangunan demokrasinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kedamaian telah tersebar ke seluruh pelosok negeri. Cuma dalam jangka waktu kira-kira 10 tahun, negara ini mampu bangkit dari keterpurukan akibat perang saudara dan sekarang justru menyuarakan perdamaian ke seluruh dunia. Keren.

“Only in the darkness can you see the stars.” Martin Luther King Jr

Walaupun tampak damai dan baik-baik saja dari luar, Indonesia dan dunia sebenarnya masih berada dalam gelapnya kebencian. Itu sebabnya, satu isu sensitif bisa memantik kemarahan ribuan orang dalam sekejap. Indonesia butuh cerahnya bintang. Dunia butuh bintang terang supaya kedamaian bisa menyentuh setiap orang. Bintang-bintang itu sudah ada dalam diri setiap pemuda. Dunia butuh pembawa damai untuk melepaskan diri dari belenggu kebencian dengan segala bentuknya.

[Berat ya bahasannya, kalau mau lebih dapet feelnya nonton aja Zootopia. Konsep ceritanya mirip tapi lebih fun.]

Like what you read? Give Gilang Fajar a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.