Lebaran dan mudik pasti selalu berpasangan. Jika ada lebaran pasti ada yang namanya mudik. Mudik bagi warga Indonesia sudah menjadi suatu tradisi, begitu juga denganku. Liburan kali ini merupakan mudik keduaku. Dan yang berbeda dari tahun lalu, aku mudik sendirian dan bunda menyusul beberapa hari kemudian.
Selama seminggu di kampung halaman aku melakukan rutinitas yang hampir sama setiap harinya. Aku mulai sibuk dengan “bukber” alias buka bersama pada tanggal 12 hingga 14 Juli. Tetapi pada tanggal 13 aku harus membatalkan janji. Alasanya karena aku pulang terlalu malam pada bukber sebelumnya. Apa kata orang jika anak gadis dua hari berturut-turut pulang larut malam. Untuk para wanita ingatlah selalu nasehat dari orang tua “Sebagai wanita jagalah kehormatanmu, dan kehormatan keluargamu”. Karena, jika kamu ingin dipandang baik oleh orang lain maka berbuatlah yang baik-baik. Pada tanggal 14 aku baru berani mengikuti bukber dengan teman-teman kelas X. Awalnya pada hari itu aku tidak berencana untuk menginap dirumah teman. Tapi sahabatku memaksa dengan alasan dia rindu padaku. Kami memang mengemban ilmu di tempat yang jaraknya sangat jauh. Sehingga aku menyetujui ajakannya. Selain itu, aku sebenarnya masih trauma pulang malam dari Kota Bojonegoro ke rumah nenekku yang jaraknya hampir 40 km. Karena, selama perjalanan aku harus melewati tiga pemakaman. Selain itu karena Bojonegoro kota kecil dan merupakan jalur alternatif jika ingin ke Surabaya, maka selama perjalanan aku hanya ditemani dengan segelintir kendaraan baik yang searah maupun yang berlawanan. Dan aku juga mengetahui rumor dari ketiga pemakaman tersebut ketika malam hari. Maka dari itu aku lebih memilih untuk menerima tawaran sahabatku dan pulang keesokan harinya.
Setelah acara bukber terakhir kegiatanku hampir sama. Kecuali pada hari H lebaran. Hari itu aku bangun pagi untuk mengikuti sholat Ied setelah itu kami sekeluarga melakukan halal bi halal dan sungkem meminta maaf. Selain bersama keluarga kami juga saling meminta maaf kepada para tetangga yang berkunjung. Inilah yang berbeda dari lebaran di kota besar seperti Jakarta yang masyarakatnya sudah individualis.
Pada hari ketiga lebaran adik sepupuku dikhitan. Sehingga aku membantu para wonder women di dapur dari pagi menjelang siang hingga malam hari.
Pada hari kelima lebaran aku dan bunda berkunjung ke rumah pamanku yang berada di desa yang berbeda dari nenekku. Disana kami berpamitan karena besok kami harus kembali ke Jakarta.
Seperti itulah kegiatan anak rantau ketika mudik ke kampung halaman.