Pulang yang Melelahkan
Segala hal yang terjadi pasti karena suatu alasan.
cliché memang. Terdengar membosankan dan mungkin kamu telah mendengarnya dari banyak orang, atau membacanya di berbagai akun instagram yang suka memotivasi followersnya (termasuk kamu, yang butuh di semangatin supaya percaya bahwa hidupmu tidak buruk-buruk amat.)
Ini bukan bacaan tentang motivasi tetapi sebuah cerita yang sebenarnya saya pikirkan cukup lama, lalu teringat lagi tadi siang saat saya pulang menuju rumah.
Lalu pertanyaannya “Dari manakah saya?” hehe oke ini tidak penting. Iya-in aja supaya saya gak bingung mulai ceritanya darimana, oke.
Sebagai seorang mahasiswa (normal) tentunya saya harus pergi kuliah, belajar, menuntut ilmu, makan, main dan tentu saja saya harus pulang. Se-enggak-normalnya mahasiswa, mereka pasti pulang. Maksudnya tidak menginap di kampus. Dan, sore itu saya merasa lelah. Tidak hanya karena kuliah tetapi juga karena pulang. Saya di masa SMA merupakan anak yang semangat untuk pulang, tetapi semua berubah saat saya menjadi mahasiswa semester 1. Kata “Pulang” yang wajib disambut dengan kata “Yay!” atau “Akhirnya…” berubah menjadi “Hah? pulang?” dan “Nanti aja pulangnya.”
“Nanti ya, tunggu teduhan dikit.”
“Nanti ya, tunggu agak kosong.”
“Nanti aja, macet.”
dan nanti-nanti lainnya.
Semua dikarenakan saya harus menempuh jarak 14 km, kira-kira 30 menit-an disaat normal, lebih dari 30 menit saat macet parah, 20 menit kalau ngebut dan rekor tercepat adalah 15 menit-an saat jalanan kosong karena orang-orang lagi sholat jum’at + ngebut + ada kelas dengan dosen horor + gak bisa alfa lagi karena udah kebanyakan gak masuk hehe, dan mungkin hanya ada dua kemungkinan: 1) sampai dengan selamat, 2) berakhir dengan otak dan usus yang terburai dari tubuh jika sampai terjatuh dan menabrak sesuatu (dan semoga Mama saya tidak membaca ini, karena pasti dia akan mengomel, tapi itu hanya sekali kok ma haha)
Mahasiswa yang malas pulang ini menambahkan bahwa dia benci debu dan kentut dari fuso (si truck yang tidak sopan) yang mengakibatkan bau di pakaian, dan matahari yang memapar kulit selama 30 menit. Apalagi saat awal jadi mahasiswa, saya hampir tertidur di motor saat pulang, untungnya saya kuat.
Akhirnya, saat naik di semester 2 saya memutuskan untuk nge-kos. Hingga sering ditanya karena yaa ngapain ngekos toh jarak ke rumah juga masih bisa dijangkau. Lalu saya bantai dengan jawaban “Biar gak telat hehe.” dan dibalas dengan “Ya makanya bangun pagi, hidupin alarm, hih! pasti gak sholat subuh.” habislah saya dibantai dengan ceramah saat itu juga. Tapi, pada akhirnya saya tetap ngekos di kos perempuan dekat kampus saya. Saya senang, tidak perlu lagi panas-panasan, tidak perlu macet-macetan, tidak perlu bangun lebih cepat dari seharusnya karena 5 menit udah bisa sampai kampus, tidak perlu buang waktu saya dan menua di jalanan. Karena saya pikir “Hidup saya selama 1 jam perhari telah terbuang percuma.” begitu.
Hingga ada satu hari dimana saya merasa ada yang salah. Setiap hari, habis kuliah saya pulang ke kos, masuk ke kamar, main hp, tiduran, makan, nonton dan tidak terasa hari sudah gelap. Dan rasanya kosong.
Nyatanya, saya menghabiskan jauh lebih banyak waktu ketimbang sebelumnya. Saya menghabiskan seluruh sore saya dengan sia sia, hanya bersantai hingga malam tiba. Saya tidak hanya membuang satu jam waktu saya setiap hari, tetapi berjam-jam lamanya.
Tidak lama, saya kembali ke rumah. Tidak melanjutkan kos. Dan harus menerima bahwa saya akan berhadapan dengan “pulang” yang melelahkan. Tapi apa? hari pertama saya kembali pulang ke rumah, saya justru merasa sangat senang. Karna 30 menit setiap pagi dan 30 menit setiap sore yang saya lewati ternyata punya arti tersendiri untuk saya.
Saya sadar bahwa jalanan yang membosankan membuat saya banyak berfikir, tentang perkuliahan, dosen yang tadi menjelaskan, teman yang sangat absurd, manusia-manusia yang… ah sudahlah, dan perdebatan tentang “Kenapa fuso kuning ini suka mengeluarkan asap hitam saat orang berada dibelakangnya? kebetulankah? atau sengaja kah?”
Semua hal itu menjadi keasyikan sendiri untuk saya.
Termasuk tulisan ini, salah satu rangkaian keluhan dan kesyukuran saat saya berkendara menuju pulang.
Mungkin letak rumah yang jauh dari kampus tidak memiliki alasan khusus, mereka hanya “berjauhan” tanpa alasan. Karena itu pula otak saya sedang meredam lelah dengan memberikan saya banyak pertanyaan dan terciptalah alasan mengapa saya harus mensyukuri jarak dan lelah, karena dari sanalah saya bisa berpikir. Mengerikan sekali bila dalam sehari tidak memikirkan apa-apa. Jadi saya merasa perjalan pulang (yang sepertinya bukan apa-apa) jadi suatu kesempatan bagi saya untuk berpikir tentang apa saja yang saya mau. Mulai dari hal berat, seperti:
“Kenapa Tuhan nyiptain dunia?”
“Kenapa saya masuk dan betah di jurusan saya?”
“Bagaimana nasib saya dimasa depan?” uh.
Sampai hal tidak penting lainnya:
“Awan itu hebat, bisa bergantung di langit. Padahal dia gendut.”
“Apakah saya harus ambil jatah libur tiap mata kuliah?”
“Kenapa si anu tadi begitu? hmm.”
“Kenapa piring di kantin tidak tertukar satu sama lain?”
“Kenapa es kosong ada yang gratis dan ada yang bayar?”
“Kenapa dosen menuduh saya mencontek?” huhu.
Termasuk tentang “Kenapa tai cicak bisa memisahkan warna hitam dan putih? dan kenapa ukuran yang putih lebih kecil?” yang mungkin akan saya bahas lain kali.
Semua pemikiran yang bisa saya pikirkan semau saya hingga tanpa sadar saya sampai didepan pintu rumah. Jadinya saya punya ide baru untuk ditulis dan diceritakan dan… dikeluhkan kepada diri saya sendiri.
Yang terpenting, semoga perjalanan pulang jadi momen sendiri bagi tiap orang, entah itu untuk mendadak mampir beli makanan, menonton orang berkelahi di jalan, melihat mamang buah lewat atau dikentuti fuso tepat didepan wajah.
Atau, menjadikan waktu dalam perjalanan pulang sebagai waktu khusus untuk merencanakan ide dalam mengajar anak murid anda, membahas seputar ide gila dan proyek hidup yang akan anda bangun, memikirkan cara mendapatkan gebetan atau berdzikir dan bersholawat kepada Nabi, semuanya bisa dilakukan. Dan isilah waktu kosongmu dengan hal-hal yang anda sukai dan bermanfaat seminimal-minimalnya untuk diri sendiri~
